SOLOPOS.COM - Sebanyak 90 mantan teroris ngaji bareng K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim di Pesantren Tahfidzul Al-Qur’an Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (nu.or.id)

Solopos.com, REMBANG – Sebanyak 90 mantan teroris ngaji bareng bersama K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) di Pesantren Tahfidzul Al-Qur’an Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kegiatan yang bertajuk Hijrah untuk Negeri ini diselenggarakan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri dengan menggunakan rombongan dua bus yang berasal dari Jawa Timur, Poso Sulawesi Tengah, Medan Sumatra Utara, dan Aceh.

Promosi Strategi Telkom Jaga Jaringan Demi Layanan Telekomunikasi Prima

Kepala Densus (Kadensus) 88 Anterior Polri, Irjen Pol Marthinus Hukom mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk bersilaturahim ke para kiai yang mempunyai pandangan luas terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga: Temui Gus Baha, Ganjar Dipuji Cara Baca Kitab Kuning

“Selain itu, diharapkan bisa terus membangun silaturahim bersama. Ke depan akan ada lebih banyak lagi eks Napiter yang akan dibawa lagi ke sini untuk kembali ngaji bareng Gus Baha,” katanya seperti dikutip Solopos.com dari nu.or.id, Senin (21/3/2022).

Jenderal polisi bintang dua itu menjelaskan alasan kenapa mengajak para mantan napi terorisme itu berkunjung ke tempat tinggal Gus Baha di Rembang.

“Karena, kita kenal Gus Baha punya ilmu yang sangat luar biasa, sangat lembut, saya berharap saudara-saudara yang saya bawa ke sini akan mendapatkan suatu tausyiah, pelajaran moral yang bisa meredakan, sehingga mereka akan lebih lembut,” tambahnya.

Baca Juga: Calon Ketua Umum PBNU: Marzuki, Said Aqil, atau Gus Baha?

Koordinator lapangan (Korlap) Persatuan Alumni Napiter NKRI Seluruh Indonesia (PANNSI) Sofwan Tsauri yang juga mantan napi teroris mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak coba-coba mengikuti paham radikal yang berujung tindak pidana teror.

“Sekali terpengaruh akan sulit lepas. Akan susah taubatnya, karena akan terus di-bully, diintimidasi, dituding jadi antek-antek, dan tidak mustahil adanya ancaman-ancaman pembunuhan dari kelompok lama. Makanya nggak usah dekat-dekat masuk begitu, biar kami saja yang pernah merasakan dan menjadi contoh,” bebernya.

Baca Juga: Dokter Terduga Teroris Ditembak Mati Densus 88 Pendatang di Sukoharjo

Gus Baha dalam kajian paginya memberikan motivasi kepada para mantan narapida teroris (Napiter) untuk menjaga toleransi.

“Hidup bernegara diibaratkan sebagai hidup bertetangga yang selalu dibumbui perbedaan. Perbedaan yang ada bukan berarti selalu buruk,” ujar Gus Baha yang juga santri kesayangan ulama kharismatik almarhum K.H. Maimoen Zubair (Mbah Moen) itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya