SOLOPOS.COM - Samadi (kiri) dan Adhi Jhon, pelaku dalam kasus perampokan Pondok Indah Jakarta, Sabtu (4/9/2016). (Twitter)

Perampokan Pondok Indah Jakarta menyita perhatian. Dua perampok merupakan warga Desa Dari, Plupuh, Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Perampokan Pondok Indah Jakarta, Sabtu (3/9/2016) dilakukan oleh dua warga Sragen. Keduanya berasal dari Desa Dari, Plupuh, Sragen.

Promosi Efek Ramadan dan Lebaran, Transaksi Brizzi Meningkat 15%

Warga Dari tak menyangka dua warganya menjadi pelaku perampokan Pondok Indah Jakarta. Salah satu warga mereka yakni Samadi malah dikenal sebagai pengurus RT dan panitia HUT RI di desa itu.

”Samadi itu orangnya lugu. Dia tidak pernah neka-neka. Sekalipun dia belum pernah bermasalah dengan warga sekitar. Dia juga belum pernah terlibat kegiatan yang meresahkan warga. Di kampung ini, dia belum pernah mencuri, la kok malah dikabarkan terlibat perampokan,” kata Sunardi, 55, warga Dusun/Desa Dari, RT 005, Kecamatan Plupuh, Sragen, kala berbincang dengan Solopos.com, Minggu (4/9/2016). Baca Juga: Perampok Pernah Pulang Bawa Fortuner

Kabar keterlibatan Samadi dalam perampokan di Pondok Indah Jakarta membuat gempar warga Desa Dari. Mereka sama sekali tidak menyangka, Samadi yang dikenal cukup lugu itu menjadi satu dari dua pelaku perampokan.

Warga mengenal Samadi sebagai pribadi yang pendiam. Samadi juga dikenal aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti rapat RT hingga menjadi panitia lomba 17-an Agustus. Baca: Polisi Menduga ada Pelaku Lain

”Saya sendiri memasukkan nama Samadi dalam pengurus RT. Dia itu tidak punya tampang kriminal. Wajahnya saja lugu. Seluruh warga kampung ini tahu itu. Kami semua tidak percaya dia yang bisa terlihat perampokan,” jelas Ketua RT 005, Doto Martono saat ditemui Solopos.com di rumahnya.

Samadi sebetulnya pernah belajar di sebuah SMK di Plupuh. Namun, dia putus sekolah karena ketiadaan biaya. Samadi tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia memang kerap mendapat pekerjaan sebagai operator video shooting di pesta perkawinan. Namun, pekerjaan itu datang tidak menentu.

”Dia sempat mendapat kiriman uang dari istrinya. Uang itu dibelikan sepeda motor. Untuk keperluan sehari-hari, dia bekerja sebagai buruh serabutan. Mungkin karena tekanan ekonomi itu, dia tergiur untuk bekerja di Jakarta bersama Adhi Jhon Suyadi,” jelas Doto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya