SOLOPOS.COM - Pimpinan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) saat menangani sebuah perkara, beberapa waktu lalu. (Setkab,go.id)

Pencatutan nama Jokowi-JK akan kembali disidangkan MKD besok. Namun, sidang berlangsung terbuka atau tertutup tergantung Setya Novanto.

Solopos.com, JAKARTA — Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) akan melanjutkan sidang kasus dugaan pencatutan nama Jokowi-JK oleh Ketua DPR Setya Novanto, Senin (7/12/2015). Publik berharap sidang akan berlangsung terbuka, namun anggota MKD bilang hal itu tergantung kesediaan Setya Novanto.

Promosi Kredit BRI Tembus Rp1.308,65 Triliun, Mayoritas untuk UMKM

Saat dicecar apakah ingin sidang terbuka atau tertutup, anggota MKD dari Fraksi Golkar Ridwan Bae akhirnya mau mengatakan dia berharap sidang akan terbuka. Begitu pula dengan anggota MKD dari Fraksi Gerindra, Supratman, meski melalui kalimat yang agak panjang.

“Dalam proses persidangan, saya mau terbuka, saya patuh tata beracara. Dalam UU MD3, seluruh persidangan tertutup, supaya klir, ada persidangan ada rapat internal, rapat internal boleh terbuka. Tapi pada prinsipnya saya berharap terbuka,” ujarnya.

Wakil Ketua MKD Junimart Girsang menjamin apapun alasan Setya Novanto jika besok dia ingin sidang tertutup, alasan itu akan diuji dulu apakah rasional atau tidak. “Kita tanya pada teradu, setuju terbuka atau tertutup, harus ada alasannya. Entah itu rahasia negara, pribadi dsb, kalau rasional kita terima, saya konsisten sejak awal minta sidang terbuka,” kata Junimart.

Pengamat politik Yunarto Wijaya mengkritik keras cara Supratman dan Ridwan Bae berbicara di forum itu. Kebetulan, Supratman sempat memotong pembicaraan Yunarto Wijaya yang mempertanyakan pantas tidaknya seorang Ketua DPR menemui Presdir Freeport Indonesia.

“Maaf, Yang Mulia,” kata Yunarto dengan suara keras untuk mengimbangi. “Jadi begini etika anggota MKD saat bersidang,” lanjut Yunarto diikuti tepuk tangan penonton. “Apakah pantas, seorang Ketua DPR menemui Presdir Freeport tanpa diikuti anggota Komisi VII, dan tanpa koordinasi dengan pihak eksekutif?”

Anggota MKD dari Fraksi Golkar, Ridwan Bae, menjawab pertanyaan itu dengan jawaban diplomatis yang membuatnya dicecar sejumlah pernyataan. “Kita belum tahu, Pak Setya Novanto bertemu Maroef [Sjamsoeddin] dan Riza Chalid itu sebagai pribadi atau sebagai Ketua DPR, kalau seorang pribadi, dia kan juga pengusaha,” katanya.

Sontak, Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah bereaksi. “MKD mengabggap kepergian nya bersama pengusaha, itu pantas?” tanyanya ke Ridwan. “Tergantung kasusnya,” jawab Ridwan. Gus Sholah pun menyimpulkan. “Anda tidak paham etika!”

“Saya kaget, ada anggota dewan yang masuk komite etik menganggap seorang Ketua DPR bisa ke mana-mana dengan melepas baju jabatannya,” kata Yunarto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya