SOLOPOS.COM - Ilustrasi rokok (JIBI/Solopos/Antara)

Kenaikan harga rokok lebih efektif mengurangi perokok dari iklan antitembakau.

Solopos.com, JAKARTA — Iklan antitembakau atau antirokok yang giat dipromosikan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan hanyalah satu cara untuk menekan dampak negatif dari kebiasaan dan paparan rokok di masyarakat. Menaikkan harga dan bea cukai rokok dianggap lebih efektif.

Promosi Strategi Telkom Jaga Jaringan Demi Layanan Telekomunikasi Prima

Wakil Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, mengatakan kenaikan harga adalah alat yang efektif untuk menekan jumlah perokok. Sementara, gambar peringatan bahaya merokok yang sudah diretapkan di bungkus rokok tidak terlalu efektif.

“Melihat respons masyarakat terhadap isu harga rokok yang dinaikkan menjadi 50.000 per bungkus terlihat dukungan dan gejolak dari masyarakat ternyata tinggi. Artinya memang instrumen harga rokok efektif. Selain harga, dibutuhkan instumen pendukung lainnya seperti pelarangan iklan rokok,” ujarnya seperti dikutip Solopos.com dari Okezone, Sabtu (3/9/2016).

Saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Jumat (2/9/2016), ia mengingatkan dengan tingginya harga jual dan cukai rokok, pendapatan yang dihasilkan bisa membangun pertumbuhan ekonomi kesehatan yang berkualitas. Bila kita kendalikan rokok turun maka masyarakat sehat akan meningkat. Sementara itu, dituturkan Abdillah, harga rokok memang selalu naik dari tahun ke tahun, tergantung peningkatan cukai rokok sekira 10-15%.

Akan tetapi, prevalensi rokok meningkat dalam 10 tahun terakhir, sehingga peningkatan harga rokok dari cukai belum cukup berhasil menurunkan konsumsi rokok. “Tidak ada alasan pemerintah tidak menaikkan harga rokok. Bila ingin meningkatkan pendapatan negara maka harga (rokok) harus dinaikkan, termasuk cukai untuk membenani.

Semakin terbebani semakin bagus. Harga rokok sekarang masih sangat murah dan bisa dibeli batangan, bahkan anak sekolah bisa beli. Ditambah lagi iklan di mana mana dan kawasan tanpa rokok belum maksimal. Tokoh penting juga banyak yang merokok seenaknya sendiri. Berhenti merokok pun masih dianggap aneh,” imbuhnya.

Dampak Buruk Perokok Aktif

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, Firman Rahmatullah, mengatakan perokok aktif memiliki resiko terkena penyakit gagal jantung. “Kami minta masyarakat agar membiasakan pola hidup sehat dengan tidak merokok,” kata Firman, seperti dikutip Solopos.com dari Antara, Sabtu.

Selama ini, angka kematian di Indonesia tertinggi adalah penyakit jantung dan stroke, sehingga masyarakat dapat menghindari budaya merokok.  Saat ini, semua perusahaan cukai rokok memasang gambar tengkorak, bahkan merokok membunuh pada setiap bungkus rokok.

Sebab, rokok itu mengandung zat berbahaya baik perokok dan perokok pasif yang terkena asap di sekitarnya. Karena itu, pihaknya berharap warga yang sebelumnya perokok aktif maka dapat dihindari dengan tidak merokok.

Perokok juga menimbulkan resiko berbagai penyakit tidak menular, seperti gagal jantung dan stroke serta diabetes. “Kami minta warga membiasakan pola hidup sehat dengan tidak merokok itu,” katanya.

Penyebaran penyakit jantung disebabkan oleh dampak pembangunan yang mengubah pola hidup menjadi lebih tidak sehat diantaranya perokok itu. “Kita terus mengoptimalkan pelayanan agar penderita jantung bisa kembali hidup sehat,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya