SOLOPOS.COM - Rosti Simanjutak membawa foto mending anaknya, Brigadir Yosua atau Brigadir J, saat menghadiri sidang vonis Ferdy Sambo di PN Jakarta Selatan, Senin (13/2/2023). (Tangkapan layar Youtube).

Solopos.com, JAKARTA — Mahkamah Agung (MA) resmi memberikan keringanan hukuman bagi empat terpidana pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo cs, pada Selasa (8/8/2023), keluarga menyebut hal itu tidak adil.

Ferdy Sambo batal dijatuhi hukuman mati, dan akhirnya hanya dipidana penjara seumur hidup. Sementara itu, Putri Candrawathi (PC) turut diturunkan hukumannya dari 20 tahun menjadi 10 tahun penjara. 

Promosi 796.000 Agen BRILink Siap Layani Kebutuhan Perbankan Nasabah saat Libur Lebaran

Kemudian, dua terpidana lainnya yakni Ricky Rizal dan Kuat Maruf juga masing-masing mendapatkan hukuman lebih ringan di tingkat kasasi yaitu 8 dan 10 tahun, dari awalnya 13 dan 15 tahun pada pengadilan tingkat pertama. 

Melihat keringanan hukuman disetujui oleh MA, Ketua Tim pengacara keluarga Brigadir (Anumerta) Nofriansyah Yosua Hutabarat, Kamarudin Simanjuntak menyatakan kekecewaannya atas putusan MA soal keringanan vonis Ferdy Sambo cs. 

“Tidak adil, mengecewakan keluarga dan tidak menjadi representasi dari masyarakat,” kata Kamarudin Simanjuntak, pengacara keluarga Brigadir Yosua, di Jakarta, Selasa, dilansir Antara.

Menurut Kamaruddin, ketiga terdakwa memiliki peran dalam pembunuhan berencana terhadap Brigadir Anumerta Yosua. 

Terlebih Putri Chandrawati yang dinilai olehnya sebagai pelaku utama. Menurutnya, PC adalah biang keladi yang membuat semua ini terjadi. 

“Putri ini biang keladi dari permasalahan ini. Apa yang dilakukan PC itu jauh lebih jahat daripada yang lainnya tapi dia sangat diringankan habis hukumannya jadi 50 persen,” katanya. 

Kamaruddin juga mengatakan bahwa pihaknya sudah menduga putusan MA akan seperti saat ini karena adanya lobi politik. Mengingat putusan pengadilan tingkat negeri dan tinggi saling menguatkan. 

“Sebenarnya kami sudah tahu putusan akan seperti ini melalui yang disebut dengan lobi-lobi politik pasukan bawah tanah dan sebagainya. Tapi sangat kecewa juga kami karena ternyata hakim setingkat MA masih bisa dilobi-lobi dalam tanda petik begitu,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya