SOLOPOS.COM - Aiptu Labora Sitorus (JIBI/SOLOPOS/Antara)

Eksekusi Labora Sitorus oleh Polisi berakhir penyerahan diri oleh sang buron.

Solopos.com, JAKARTA – Terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan liar, Labora Sitorus, akhirnya menyerahkan diri hari ini, Senin (7/3/2016) pukul 03.00 WIT. Labora akhirnya menyerah usai menjadi buronan polisi beberapa bulan terakhir.

Promosi Strategi Telkom Jaga Jaringan Demi Layanan Telekomunikasi Prima

Dalam foto yang dirilis Detik, Senin, terlihat polisi berpangkat terakhir Ajun Inspektur Satu (Aiptu) itu tampak sehat. Badannya gempal.

Saat diperiksa, Labora mengenakan kaos berkerah warna biru dan celana panjang abu-abu. Di kedua tangan pria berkepala plontos itu melingkar sebuah borgol.

Saat diperiksa di depan penyidik, Labora dikawal tiga orang penyidik. Ia tampak tenang saat diperiksa.

Sebelumnya, Polres Sorong mengerahkan keluatan 120 personel untuk memburu Labora setelah melarikan diri dari rumahnya di Tampa Garam, Sorong, Papua Barat. Labora keluar dari LP Sorong dengan alasan hendak berobat.

Namun saat dijemput untuk dipindahkan ke LP Cipinang, Labora sudah melarikan diri. Tetapi pelariannya itu tak lama. Ia akhirnya menyerahkan diri ke Polres Sorong sekitar pukul 03.00 WIT dini hari tadi.

“Yang bersangkutan menyerahkan diri ke Polres Sorong Kota dini hari tadi,” ujar Kapolda Papua Barat Brigjen Royke Lumowa seperti dilansir Detik, Senin (7/3/2016).

Royke mengatakan, terpidana yang divonis 15 tahun penjara itu menyerahkan diri pada pukul 03.00 WIT. “Dia menyerahkan diri karena terdesak dengan upaya pengejaran polisi,” tutrnya.

Labora Sitorus sebelumnya melarikan diri saat hendak dipindahkan ke LP Cipinang. Labora izin keluar LP Sorong untuk berobat ke rumah sakit. Tetapi pada saat hendak dipindah ke LP Cipinang, Labora melarikan diri.

Perlawanan Labora

Terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan liar, Labora Sitorus melawan saat hendak dipindahkan dari Sorong ke LP Cipinang di Jakarta.

Perlawanan dimulai dengan langkah hukum yang dikuasakan kepada Nur Hadi. Nur bahkan mengatakan pemindahan kliennya melanggar hukum.

“Rencana eksekusi atau pemindahan Labora Sitorus didasarkan pada putusan Kasasi Mahkamah Agung No. 1081 K/Pid.Sus/2014, 17 September 2014, adalah batal demi hukum karena putusan kasasi tersebut salah menerapkan dasar hukum dalam penjatuhan pidana pidana sebagaimana tertulis pada halaman 428 yang mengutip pada pasal 78 ayat (5) UU No.42/1999,” katanya.

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 adalah tentang Jaminan Fiducia, dan aturan ini hanya berisi sampai 41 pasal. Padahal dakwaan dalam perkara Labora Sitorus tidak berkaitan dengan jaminan fiducia, sehingga Mahkamah Agung dinilai salah dan keliru dalam penulisan dasar hukum.

Atas dasar ini, dia melakukan perlawanan kedua. Yakni mengadu ke Komnas HAM karena Labora merasa diperlakukan semena-mena dalam proses hukum.

Tak sampai di situ, perlawanan juga ditunjukkan dengan ancaman bunuh diri. Labora akan menghabisi nyawa sendiri jika dipindahkan.

Bahkan, pihak keluarga sudah menyiapkan peti mati di rumahnya andai Kemenkumham ngotot memindahkan Labora ke LP Cipinang.

Kemudian Labora juga mengerahkan massa yang merupakan karyawannya untuk menghadang petugas untuk melakukan eksekusi pemindahan. Begitu petugas datang, pria asal Sumatera Utara itu malah kabur pada Jumat pekan lalu.

Sejak itu, ia dinyatakan buron. Ratusan polisi dikerahkan untuk memburunya. Namun akhirnya, ia menyerahkan diri ke Polres Sorong.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya