SOLOPOS.COM - Ilustrasi suasana Alfamart (JIBI/Bisnis/Dok.)

Bisnis Waralaba di Indonesia tumbuh pesat namun mayoritas adalah waralaba asing

Harianjogja.com, JOGJA–Pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia rata-rata 12%-16% per tahun. Namun, bisnis waralaba masih dikuasai pihak asing Kementerian Perdagangan sedang berupaya memicu pertumbuhan bisnis waralaba lokal dengan memberikan penghargaan bagi pelaku usaha waralaba.

Promosi Kisah Petani Pepaya Raup Omzet Rp36 Juta/bulan, Makin Produktif dengan Kece BRI

Direktur Bina Usaha Dan Pelaku Industri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Fetnayeti mengatakan, saat ini jumlah waralaba yang tercatat di Kemendag sebanyak 331 usaha waralaba.

“Dari jumlah itu, 293 waralaba merupakan waralaba asing. Artinya waralaba lokal [dalam negeri] baru 38 waralaba,” kata dia ketika ditemui di sela-sela Sosialisasi dan Penjaringan Penghargaan Waralaba Indonesia di Hotel Harper Mangkubumi, Jogja, Senin (16/5/2016).

Ia menjelaskan, jumlah yang tercatat kemungkinan besar merupakan pemberi waralaba. Ia meyakini jumlah penerima waralaba di Indonesia jauh lebih besar. Saat ini Kemendag tengah melakukan inventarisasi karena perizinan diterbitkan di tingkat daerah.

Ia berharap, waralaba menjadi bisnis model dan terus memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. “Tapi, kami ingin lebih mendorong pertumbuhan waralaba khas daerah sendiri, bukan yang milik asing,” kata dia.

Kemendag terus melakukan pendampingan. Selain itu, upaya yang dilakukan untuk memicu pertumbuhan waralaba adalah mengatakan Penghargaan Waralaba Indonesia.

Dalam rangka Penghargaan Waralaba Indonesia, Kemendag akan melakukan penilaian terhadap usaha waralaba berdasarkan peraturan yang berlaku. Pernghargaan Waralaba Indonesia diberikan kepada usaha waralaba di Indonesia dalam lima kategori.

Kategori pertama adalah Waralaba Pratama yang merupakan usaha-usaha kemitraan BO atau waralaba yang sudah beroperasi maksimal dua tahun sejak mitra pertama dan memiliki jumlah gerai minimal dua sampai dengan maksimal lima gerai mitra/waralaba bukan milik sendiri.

Kedua, kategori Waralaba Utama yang merupakan usaha kemitraan BO atau waralaba yang sudah beroperasi lebih dari dua tahun sejak mitra pertama atau jumlah gerai lebih dari lima gerai mitra/waralaba bukan milik sendiri.

Ketagori ketiga adalah Penerima Waralaba yakni penerina waralaba Indonesia yang sudah menjalankan operasional gerai lebih dari satu tahun dan penerima waralaba harus menjalankan dan mengelola gerainya secara aktif. Kemudian, ada kategori Waralaba Global Indonesia yakni untuk perusahaan Indonesia yang sudah memiliki cabang di luar negeri dengan menggunakan pola waralaba.

Kategori kekima adalah Waralaba Mancanegara. Kategori ini untuk penerima waralaba luar negeri yang sudah beroperasi di Indonesia minimal tiga tahun.

“Perkembangan paling besar ada di Pulau Jawa khusunya DKI, Jabar, dan Jatim. Tapi, DIY ini saya lihat bisa saja mengalahkan Jabar karena potensinya besar terutama kuliner karena majunya wisata,” ucap dia.

Para pengusaha waralaba ini didorong untuk menunjukkan prestasinya sehingga bisa memenahkan kompetisi untuk menyambut World Franchise Summit Indonesia (WFSI) pada November mendatang. Kali ini Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah. “Semoga dari DIY ini juga bisa menurunkan wakilnya,” tutur dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya