News
Selasa, 26 Februari 2013 - 14:04 WIB

Serangan Roket Kembali Terjadi di Israel

Redaksi Solopos.com  /  R. Bambang Aris Sasangka  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Seorang remaja Palestina menggunakan pelontar batu untuk menyerang pasukan Israel dalam aksi unjuk rasa berujung bentrok di pos pemeriksaan hawara dekat Kota Nablus, Tepi Barat, Senin (25/2/2013). (JIBI/SOLOPOS/Reuters)

Seorang remaja Palestina menggunakan pelontar batu untuk menyerang pasukan Israel dalam aksi unjuk rasa berujung bentrok di pos pemeriksaan hawara dekat Kota Nablus, Tepi Barat, Senin (25/2/2013). (JIBI/SOLOPOS/Reuters)

JERUSALEM – Serangan roket kembali terjadi di wilayah Israel. Sebuah roket yang diyakini diluncurkan dari kawasan Jalur Gaza, Palestina, meledak di sebuah jalan di dekat Kota Ashkelon, Israel selatan, Selasa (26/2/2013). Ini merupakan serangan pertama sejak tercapainya gencatan senjata yang mengakhiri aksi saling serang antara kelompok militan Palestina dan pasukan Israel di perbatasan November silam.
Advertisement

“Sebuah ledakan terdengar di kawasan Ashkelon. Petugas menyisir wilayah itu dan menemukan satu roket yang meledak, merusakkan jalan namun tak menimbulkan korban,” ujar juru bicara kepolisian Israel, Micky Rosenfeld. Belum ada pihak di Gaza yang mengaku bertanggung jawab atas serangan roket itu.

Serangan ini terjadi setelah kematian seorang warga Palestina yang ditahan aparat keamanan Israel Sabtu lalu. Kematisan tersebut memicu aksi unjuk rasa besar di wilayah pendudukan Tepi Barat. Dalam bentrokan yang terjadi dengan pasukan Israel, lima warga Palestina tertembak di Bethlehem Senin kemarin. Seorang remaja berusia 15 tahun juga dilaporkan mengalami cedera serius.

Tahanan warga Palestina itu, Arafat Jaradat, memicu kontroversi karena jenazahnya disebut menunjukkan bekas penyiksaan, sementara pihak Israel menyebut Jaradat tewas akibat serangan jantung. Jaradat dimakamkan kemarin dengan diantar ribuan pelayat. Empat tahanan Palestina saat ini juga melakukan aksi mogok makan.

Advertisement

Insiden ini diyakini bakal menambah ketegangan menjelang kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Israel bulan depan.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif