Kenapa Memaksa Dunia Menjadi Sama?

Ayu Prawitasari - Dokumen Solopos
13 September 2019 09:56 WIB Ayu Prawitasari Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (7/9/2019). Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Harian Solopos dan ibu dua orang anak. Alamat e-mail penulis adalah ayu.prawitasari@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Waktu masih TK, saya ingin seperti seorang teman saya yang pintar mewarnai. Saya membuat lingkaran saja kesulitan. Teman saya itu benar-benar membuat iri. Saya ingin seperti dia.

Waktu SD, saya kagum pada seorang teman pindahan dari Surabaya. Dia cantik dan sangat pintar. Selalu peringkat I tanpa perlu usaha berlebihan. Saya harus tidur larut malam hanya agar dapat masuk lima besar.

Waktu SMP, saya ingin seperti seorang teman saya yang populer, yang disukai para kakak kelas, yang pendapatnya selalu didengar, yang pakaiannya selalu modis, selalu eksis.

Saya menjadi lebih giat berdoa kepada Tuhan agar bisa berubah menjadi seperti teman-teman saya yang populer. Tentu saja permintaan saya itu tak dikabulkan Tuhan. Memaksa dunia menjadi sama. Itulah intinya. Harapan tak logis pada masa kecil.

Saat saya dewasa, banyak juga orang lain berkelakuan serupa dalam konteks berbeda. Mereka adalah orang-orang dewasa yang suka memaksakan kehendak.  Sebuah pertanyaan muncul. “Apa sih susahnya Tuhan membuat manusia sama? Semua orang menjadi berkulit putih? Semua orang menjadi muslim seperti saya, misalnya? Semua orang menjadi suku Jawa? Semua orang menjadi kaya?”

Tentu Tuhan tak akan kesulitan  sama sekali. Pertanyaan itu saya bicarakan dengan seorang pendeta di GKJ Joyodingratan, Kota Solo. Kami terlibat di dialog toleransi beragama yang melibatkan para siswa sebuah SMPN di Kabupaten Sragen.

Narasumber dalam kegiatan itu adalah para pendeta di GKJ Joyodingratan dan takmir Masjid Al Hikmah. Kedua tempat ibadah ini bersebelahan, bahkan satu tembok.

Sebagai fasilitator dialog toleransi, saya punya banyak waktu mengamati para siswa yang serius mendengarkan serta sibuk mencatat cerita-cerita dari takmir dan pendeta yang duduk berdampingan di ruang ibadah GKJ Joyodingratan pada Sabtu siang beberapa hari lalu.

Memandu acara dialog tentang toleransi agama ini tidak sulit, namun juga tidak mudah. Kesulitan saya adalah mengendalikan emosi. Saya ingin menangis melihat para siswa itu mendapatkan hal yang berharga tentang kemanusiaan, yang tak mereka dapatkan di sekolah.

Tak Ada Setan di Kolong

Prasangka adalah setan dalam hati kita. Setan itu tumbuh bersama kita. Saya ingat ketakutan saya pada masa kecil saat tidur sendirian di kamar. Sering kali saya melihat kolong tempat tidur.  Khawatir di tempat itu ada setan jahat yang mengganggu.

Saat dewasa, saya baru sadar kekhawatiran itu tak beralasan. Setan ada di dalam tubuh saya, bukan di kolong tempat tidur. Prasangka adalah saat kita melihat perempuan bercadar lalu kita mengaitkan dengan terorisme.

Melihat remaja memakai jeans sobek dan bertato lantas melabeli sebagai anak nakal. Khawatir dengan pembangunan gereja lantas menuding sebagai invasi beragama. Ketakutan melihat salib lantas menuduh ada kristenisasi. Melihat kelenteng sebagai tempat menyeramkan karena penuh dupa dan patung.

Sebagai muslim saya memaknai prasangka adalah makna sebenarnya yang harus kita perjuangkan ketika membaca Alquran Surat Al-Hujurat dan Ar-Rum. Saat Tuhan mencipatakan manusia begitu beragam, tugas kitalah mengendalikan prasangka agar kita bisa hidup berdampingan dengan manusia lain yang diciptakan Tuhan dalam berbagai bentuk dan keyakinan.

Mudahkah itu? Tidak. Dimensi habluminallah dan habluminannas, hal yang bersifat ke-Tuhan-an dan kemanusiaan, kita benar-benar diuji pada titik ekuilibrium. Prasangka riskan membesar saat dunia kita penuh dengan simbol.

Media sosial memang punya peran membesarkan prasangka. Saya setuju dengan pendapat Baudrillard, sosiolog atau tokoh postmodern dari Prancis, meski dia sendiri tak mengakui, bahwa masyarakat telah meledak, habis, hancur, dan melebur dalam entitas bernama massa.

Barang-barang belanjaan kitalah yang menjadi penentu siapa kita karena barang-barang belanjaan telah dimaknai dalam sifat-sifat kemanusiaan yang diindustrialisasikan. Dunia postmodern memaksa manusia melahap citra atau simbol tanpa makna. Prasangka sungguh hidup subur dalam kondisi seperti ini.

Pendidikan Agama Deterministik

”Bagaimana orang-orang tahu kelenteng itu tempat setan hanya karena penuh patung dan dupa?” Kata-kata pemimpin Kelenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluyo, itu terngiang-ngiang di memori saya.

”Padahal, orang-orang itu masuk kelenteng saja belum pernah. Patung-patung di kelenteng hanyalah mediasi kami menyembah Tuhan. Tuhan itu tidak kelihatan, bukan patung-patung itu,” kata Sumantri.

Prasangka memang sungguh menyakitkan. Seperti halnya para siswa yang mendapat banyak pengetahuan dari kegiatan dialog tentang toleransi beragama tersebut, kunjungan ke berbagai tempat ibadah itu berhasil menyentak kesadaran saya tentang kewajiban belajar sepanjang hayat.

Saya tak menyalahkan masa lalu yang membuat saya menjadi manusia penuh prasangka, terutama dalam hal agama. Saat ini saya justru berharap kegiatan dialog toleransi beragama lebih digalakkan, khususnya bagi para pelajar.

Saya setuju dengan rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi yang akan meninjau ulang kurikulum pendidikan agama dalam rangka mencegah radikalisme ekstrem di negeri ini. Pendidikan agama di sekolah saat ini orientasinya terlalu serbapengetahuan.

Konten pendidikan agama menjadi sangat determenistik, terlalu menonjolkan sebuah agama yang paling benar, sementara yang lainnya salah. Semangat toleransi bukanlah  tidak mengajarkan agama kita paling benar, namun sebaliknya, kita seharusnya mengajarkan kepada anak bahwa ada orang lain yang juga menganggap agama mereka paling benar.

Harus kita sadari benar Indonesia bukanlah milik orang Jawa dan orang Islam saja. Indonesia adalah milik semua. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu adalah contoh penting para pendahulu kita mengajarkan semangat toleransi.

Meski penggunanya sedikit, jauh lebih sedikit dibandingkan pengguna bahasa Jawa, bahaya Melayu menjadi bahasa nasional karena lebih dikenal orang-orang di Nusantara. Jika semangat toleransi itu sudah bergaung lama, apakah kita hendak mundur menjadi manusia intoleran yang tak mau belajar dari sejarah?