Hari Tanpa Bayangan Bisa Jadi Patokan Pergantian Musim? Ini Kata Ahli

Ilustrasi hari tanpa bayangan (Pictagram)
11 September 2019 06:00 WIB Chelin Indra Sushmita Nasional Share :

Solopos.com, SOLO – Fenomena alam hari tanpa bayangan melanda Indonesia mulai 8 September 2019 hingga 20 Oktober 2019. Fenomena alam yang juga dikenal dengan istilah kulminasi atau equinox itu biasa dijadikan acuan pergantian musim.

Peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto, mengatakan, hari tanpa bayangan bisa menjadi acuan pergantian musim. Matahari yang sebelumnya berada di atas Bumi atau di belahan utara, maka dengan adanya fenomena alam ini Matahari akan berada di belahan Bumi selatan.

“Ketika hari tanpa bayangan atau kulminasi dalam istilah lainnya equinox bisa jadi acuan pergantian musim. Belahan selatan Bumi akan memasuki musim panas. Sedangkan di belahan utara memasuki musim dingin,” terangnya seperti dikabarkan Detik, Selasa (10/9/2019).

Meski demikian, bukan berarti equinox yang puncaknya terjadi pada 22 September 2019 bisa dijadikan patokan pasti pergantian musim.

“Equinox 22 September 2019 bisa dianggap sebagai pergantian musim. Tapi, tidak bisa dibilang tanggal 23 September 2019 sudah akan hujan. Memang tidak bisa dibilang tegas karena selalu ada transisi dan perubahan iklim global bisa memengaruhi pola musim hujan yang akan terjadi nanti di Indonesia,” tegas Rhorom Priyatikanto.

Fenomena alam hari tanpa bayangan disebut juga dengan istilah kulminasi. Pada momen ini, matahari berada tepat di posisi tertinggi di langit. Akibatnya, benda yang tegak tampak seperti tidak memiliki bayangan.

Bayangan benda yang tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri saat fenomena alam kulminasi terjadi. Oleh sebab itulah kulminasi utama disebut dengan istilah hari tanpa bayangan. Demikianlah penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal kulminasi dalam siaran pers di laman resminya.