Takhta dan Monster Plastik di Mesen

Bambang Bujono - Istimewa
10 September 2019 09:16 WIB Bambang Bujono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (5/9/2019). Esai ini karya Bambang Bujono, penulis dan pengulas seni.

Solopos.com, SOLO -- Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret Solo mendekat ke masyarakat dalam arti sesungguhnya. Pembukaan pameran karya mahasiswa dan dosen di kampus ”baru” Mesen, Jl. Urip Sumoharjo, Solo, akhir Agustus lalu, bisa kita baca sebagai langkah awal.

Pameran bertema bahaya plastik, Dystopia: Hipnosys Plastic, menyuguhkan sejumlah karya instalasi dan karya mural di tembok pagar. Tema itu menyarankan, tentunya karya-karya diawali dari riset, setidaknya pengamatan. Diawali di sudut kanan pintu masuk, sebuah instalasi, puluhan mangkuk plastik digantung, di bawahnya hamparan permadani terdiri dari puluhan mangkuk plastik juga.

Di ”permadani” itu sebuah kursi dengan payung kebesaran tegak menempel di belakang sandaran kursi. Di latar belakang, di dinding sebuah bidang empat persegi terlihat sederet wayang kulit menghiasi dinding. Yang mudah dikenali: wayang Bima, Gathotkaca, dan Petruk. Lalu, empat atau lima sosok manekin sebagaimana bisa dilihat di butik-butik.

Manekin ini bukan bertampang keren atau ayu, melainkan bak sosok-sosok monster, dan kostum yang dikenakan berbahan plastik, termasuk tas ”kresek” dan sedotan minuman. Sebuah video, kira-kira di seberang para manekin itu adalah layar video menayangkan pemandangan alam yang mencemaskan: tanah retak, tumpukan sampah, dan lain-lain yang menyarankan bumi yang sakit.

Di samping, video, hitam-putih, menyuguhkan “cerita” seorang lelaki muda bertelanjang dada menari di tengah alam gersang, di tengah properti tulang-tulang yang telah memutih berserakan. Ini memang pameran memprotes dibuatnya barang-barang pakai sehari-hari dari plastik.

Selesai digunakan, barang dibuang, menyampah, dan baru ribuan tahun bahan plastik itu melebur dengan tanah. Sebelum melebur, plastik menjadi racun bagi lingkungan sekitarnya. Sama dengan riset di dunia ilmu dan teknologi, kerja riset untuk menciptakan karya seni rupa untuk menemukan hal yang direncanakan.

Pada riset ilmu dan teknologi, para periset akan berhenti pada kesimpulan, lalu menyerahkan kesimpulan itu kepada masyarakat umumnya, dan ke dunia ilmu dan teknologi khususnya untuk ditindaklanjuti. Pada riset karya seni rupa, para periset tak berhenti di kesimpulan.

Pengalaman yang Meresap ke Bawah Sadar

Serangkaian perjalanan riset termasuk susah mudahnya kerja, beserta kesimpulan, adalah pengalaman yang meresap ke bawah sadar dan akan terangkat di kesadaran berupa karya seni rupa. Para periset dunia kesenian tak berhenti di ”mengetahui” seperti di dunia ilmu dan teknologi, melainkan juga menghayati seluruh proses.

Terbuka kemungkinan para periset ”berubah” karena pengalaman melakukan riset tersebut. Sejauh ini karya perupa F.X. Harsono tentang pembunuhan etnis Tionghoa di Jawa Timur pada awal kemerdekaan merupakan riset dan pameran yang padu. Ia menemukan secara tak sengaja foto-foto penggalian kubur jepretan bapaknya yang memang juru foto.

Keingintahuan membawa dia menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi, di mana, siapa, dan seterusnya. Lalu, pengalaman itu semua mendorong dia menjadikan karya seni rupa: instalasi, video, foto (baik yang baru dia bikin maupun foto lama yang ia temukan). Pamerannya menyentak kesadaran kita, ada “tumbal” perjuangan yang perlu direnungkan, ada korban yang tidak seharusnya.

Mungkin, dan memang demikianlah yang terjadi, tak ada gerakan apa pun di masyarakat. Tapi, tidakkah pameran itu memberikan secara tak langsung pengalaman tentang berbagai hal berkaitan dengan kemanusiaan: kekejaman, ketidakberdayaan, perjuangan, korban, ketidakadilan, dan seterusnya?

Kembali ke ruang pameran di Mesen, hal seperti itu mestinya juga terjadi, sedikit banyak. Mungkin ada hal-hal ”teknis” perlu dicatat: pesan yang ambigu. Keindahan yang muncul dari plastik-plastik merupakan ajakan menggunakan plastik atau untuk menghentikan produksi limbah berbahaya ini?

Manekin itu berubah menjadi monster karena plastik, atau ini sekumpulan monster yang sedang mempromosikan plastik? Kehancuran dahsyat lingkungan hidup lebih jelas tersampaikan oleh instalasi deretan papan-papan setengah gosong melatari sekumpulan pohon-pohon rontok mengering.

Riset bukan hal baru dalam dunia seni rupa. Kerja riset membuka pintu penciptaan karya-karya yang secara tersurat bermuatan masalah-masalah sosial politik, memberikan bobot yang lebih pada hal yang lazim ada dalam karya seni: emosi dan ekspresi. Karya-karya tersebut memberikan kemungkinan penghayatan yang lebih; ebih dari berempati, apalagi hanya bersimpati.

Pendidikan Seni Rupa

Berbicara tentang pendidikan seni rupa adalah juga berbicara tentang dunia pendidikan kita pada umumnya. Empat tahun sudah Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret berrdiri. Tampaknya civitas academica kampus ini berniat membuka pintu masukan perihal pendidikan seni rupa yang baik, dengan sebuah bincang-bincang di UNS Inn, pada awal Sura lalu.

Pendidikan kita memang kurang menggembirakan. Sejauh ini tak ada konsep yang bisa dijadikan acuan. Hanya ada sebundel konsep hasil Komisi Pembaruan Pendidikan pada zaman Menteri Daoed Joesoef. Konsep yang saya kira tak sempat diwujudkan karena pemerintah sibuk mengurusi penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) waktu itu.

Lalu, ada yang disebut link dan match dari Menteri Wardiman Djojonegoro, juga tak sempat diwujudkan dengan baik sesuai harapan, antara lain karena konsep itu mesti ditelaah secara kritis: cukupkah pratikum yang memerlukan peralatan di sekolah dengan siswa yang padat; apakah dunia kerja di luar tidak lebih cepat berkembang, lalu bagaimana sekolah mengejarnya?

Seorang peneliti pendidikan menyimpulkan, antara lain, kendala pendidikan kita adalah kurikulum yang disusupi kepentingan politik. Contoh mudah, ketika di kabinet lahir kementerian baru, lingkungan hidup, ada wacana membuat pelajaran perihal lingkungan hidup.

Bukannya lingkungan hidup tidak penting, justru sebaliknya; yang mesti dicermati mengapa mesti masuk kurikulum dan menjadi mata pelajaran, mengapa tidak misalnya menjadi pelajaran pilihan. Pendidikan seni rupa tak terbebas dari ketidakjelasan. Enam bulan setelah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta berjalan, R.J. Katamsi membuka pameran pertama siswa dan pengajar lembaga tersebut.

Direktur pertama ASRI itu meminta maaf, bahwa kurikulum ASRI masih belum matang karena berbagai hal. Di Bandung, dekat setelah kemerdekaan, berdiri Pendidikan Universiter Guru Gambar, cikal bakal Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Bisa dipahami bila Simon Admiraal, empunya gagasan tentang lembaga pendidikan tersebut, menyusun kurikulum balai itu berdasarkan sekolah yang dia alami di Belanda.

Sontek Sana dan Sini

Tidak masalah sebenarnya, pendidikan yang memang didirikan oleh pemerintah negara baru mesti sontek sana dan sini. Pada awal 1960-an dalam sebuah seminar seni rupa di Jogja, dosen ITB Sudjoko mengkritik ketidakkreativan perupa dan pendidikan seni rupa, terutama pada media yang digunakan untuk berkarya: cat, kanvas, marmer, batu, dan sebagainya.

Sudjoko mempertanyakan diabaikannya bahan-bahan lokal. Bahan-bahan itu sudah terbukti bisa menjadi bahan baku seni rupa karena sudah dibuktikan oleh para pengrajin di desa-desa: bambu, kayu, rotan, dan sebagainya. Lebih jauh, tak sekadar mengkritik hal yang bersifat fisik, Gerakan Seni Rupa Baru, 1975, menyatakan konsep yang memilah-milah seni rupa menjadi seni lukis, patung, grafis, dan sebagainya tak lagi relevan.

Hal itu berlanjut hingga sekarang dengan tambahan berbagai masalah aktual. Pendidikan di Indonesia rasanya memang kurang menanggapi konsep pendidikan yang hakiki: menyiapkan anak didik agar bisa hidup pada masa depan, masa depan yang berbeda dengan masa sekolah.

Barangkali konsep pendidikan yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara sejalan dengan konsep hakiki itu: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani. Dengan kata lain, kunci konsep ini pada guru yang mumpuni. Simon Admiraal rupanya menyadari hal itu juga, maka yang diusulkan bukan pendidikan kesenian melainkan pendidikan guru gambar.

Sebelum seniman masuk kelas, sudah harus ada guru seni yang bagus, begitu kira-kira pemikiran Simon. Kita menyaksikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dibubarkan, diubah menjadi universitas. Minat masuk IKIP konon rendah, tapi, lalu di mana guru yang baik disiapkan?

Sampai di sini, seperti tak disadari bahwa konsep pendidikan kita mestilah disusun dengan mengingat kenyataan yang tak bisa dihapus: negeri dengan penduduk terpadat ketiga di dunia, dengan keberagaman lingkungan budaya dan sosial yang tak ada duanya.