Gelombang Panas Renggut 1.500 Nyawa di Prancis

Warga Prancis menyejukkan diri di kawasan Menara Eiffel (Reuters)
10 September 2019 20:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, PARISSekitar 1.500 orang di Prancis meninggal dunia akibat gelombang panas. Suhu panas yang mencapai lebih dari 37 derajat Celsius tersebut menjadi musibah yang mematikan.

Menteri Kesehatan Prancis, Agnes Buzyn, mengatakan, gelombang panas menerjang negaranya sejak Juni 2019 lalu. Sebagian besar korban berusia di atas 75 tahun.

Dikutip dari Fox News, Selasa (10/9/2019), jumlah korban tewas akibat gelombang panas di Prancis pada 2019 tidak sebanding dengan 2003 silam. Kala itu, sekitar 15.000 orang meninggal akibat gelombang panas selama 20 hari.

Suhu tertinggi di Prancis saat diterpa gelombang panas mencapai 45 derajat Celsius yang terjadi pada 28 Juni 2019. Sementara pada Juli 2019, suhu di Paris mencapai level tertinggi, yakni sekitar 42 derajat Celsius.

Data Kementerian Kesehatan Prancis menyebutkan sebanyak 567 orang meninggal pada gelombang panas sesi pertama periode 24 Juni-7 Juli 2019. Sementara 868 orang lainnya meninggal akibat gelombang panas periode 21-27 Juli 2019. Menurut Agnes Buzyn, sebanyak 10 orang meninggal dunia saat berada di tempat kerja.

Saat musim panas berlangsung, peringatan merah (menunjukkan kategori terparah) dikeluarkan di beberapa wilayah Prancis. Selama itu, sejumlah sekolah diliburkan untuk meminimalkan paparan suhu panas.

Sejumlah orang memilih menghabiskan waktu di kolam renang untuk menyejukkan tubuh. Pemerintah Prancis juga menyediakan pendingin ruangan khusus di berbagai titik vital.

Bukan hanya di Prancis, suhu panas juga mencapai rekor tertinggi di beberapa negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Belgia, Jerman, Luksemburg, dan Belanda.