Mantan Bos Petral Tersangka Suap Jutaan Dolar, 4 Rumahnya Digeledah KPK

Logo KPK (Antara/Widodo S Jusuf)
10 September 2019 18:00 WIB Ilham Budhiman Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menggeledah empat lokasi terkait penyidikan kasus dugaan suap yang menjerat Managing Director Pertamina Energy Service Pte. Ltd 2009-2013 Bambang Irianto.

Eks Dirut Pertamina Energy Trading Limited (Petral) itu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Service Pte. Ltd. Dia diduga menerima suap US$2,9 juta. 

Adapun empat lokasi yang digeledah pada Kamis dan Jumat (5-6/9/2019) tersebut yaitu rumah di Jl. Pramukasari 3, Jakarta, 10570; rumah di Komplek Ligamas, Pancoran, Jakarta Selatan; Apartemen di Salemba Residence, Jakarta Pusat; rumah di Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat; dan rumah di Jl. Cisanggiri II Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Dari penggeledahan tersebut KPK menyita dokumen pengadaan dan data aset," ujar Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif dalam konferensi pers, Selasa (10/9/2019).

Laode mengatakan pihaknya akan terus berupaya melakukan penelusuran asset recovery mengingat dugaan penerimaan suap yang diterima tersebut cukup signifikan. Penerimaan suap itu diduga diterima Bambang Irianto sejak 2010 hingg 2013 melalui rekening penampungan dari perusahaan yang didirikannya bernama SIAM Group Holding Ltd yang berkedudukan di British Virgin Island, sebuah kawasan bebas pajak.

"Uang suap itu atas bantuan yang diberikannya kepada pihak Kernel Oil terkait dengan kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada Pertamina Energy Service atau PT Pertamina di Singapura dan pengiriman kargo," katanya.

Bambang dalam perkara ini menggelar pertemuan dengan perwakilan Kernel Oil Pte. Ltd. (Kernel Oil) yang merupakan salah satu rekanan dalam perdagangan minyak mentah dan produk kilang untuk PES/PT Pertamina.

Pada saat itu, PES melaksanakan pengadaan serta penjualan minyak mentah dan produk kilang untuk kebutuhan PT Pertamina (Persero) yang diikuti oleh National Oil Company (NOC), Major Oil Company, Refinery, maupun trader.

Kemudian, pada periode 2009 - Juni 2012, perwakilan Kernel Oil beberapa kali diundang dan menjadi rekanan PES dalam kegiatan impor dan ekspor minyak mentah untuk kepentingan PES/PT Pertamina. 

Namun, tersangka Bambang selaku VP Marketing PES malah membantu mengamankan jatah alokasi kargo Kernel Oil dalam tender pengadaan atau penjualan minyak mentah atau produk kilang. "Sebagai imbalannya, diduga Bambang Irianto menerima sejumlah uang yang diterima melalui rekening bank di luar negeri," kata Laode.

Laode mengatakan tersangka Bambang mendirikan SIAM Group Holding Ltd yang berkedudukan hukum di British Virgin Island untuk menampung uang suap tersebut.

Menurut Laode, perusahaan PES dianggap tidak menjalankan pedoman sesuai arahan Jokowi pada 2012 agar Pertamina melakukan peningkatan efisiensi dalam perdagangan minyak mentah dan BBM dengan mengutamakan pembelian langsung ke sumber-sumber utama. 

Arahan itu adalah dalam melakukan pengadaan dan perdagangan, PES seharusnya mengacu pada pedoman yang menyebutkan penetapan penjual atau pembeli yang akan diundang untuk ikut dalam competitive bidding atau direct negotiation.

Hal itu seharusnya mengacu pada aturan yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero) dengan urutan prioritas yaitu NOC, Refiner/Producer, dan Potential Seller/Buyer. Perusahaan yang dapat menjadi rekanan PES seharusnya adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam Daftar Mitra Usaha Terseleksi (DMUT) PES. 

"Namun, pada kenyataannya tidak semua perusahaan yang terdaftar pada DMUT PES diundang mengikuti tender di PES," kata Laode. 

Laode mengatakan tersangka Bambang bersama sejumlah pejabat PES malah menentukan rekanan yang akan diundang mengikuti tender, yang salah satunya adalah NOC. Namun, pada akhirnya pihak yang menjadi mengirimkan kargo untuk PES/PT Pertamina adalah Emirates National Oil Company (ENOC) yang diduga merupakan sebuah perusahaan bendera yang digunakan pihak perwakilan Kernel Oil.

Diduga, perusahaan ENOC diundang sebagai kamuflase agar seolah-olah PES bekerjasama dengan NOC agar memenuhi syarat pengadaan, padahal minyak berasal dari Kernel Oil. "Tersangka BTO diduga mengarahkan untuk tetap mengundang NOC tersebut meskipun mengetahui bahwa NOC itu bukanlah pihak yang mengirim kargo ke PES/PT Pertamina," katanya.

Atas perbuatannya, Bambang Irianto dalam perkara ini disangka melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 UU No 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber : Bisnis/JIBI