Ambiguitas Jargon Indonesia Maju

A. Windarto - Dokumen Solopos
08 September 2019 10:00 WIB A. Windarto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (31/8/2019). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Kata ”maju” menjadi penanda penting bagi masyarakat Indonesia masa kini. Saat memperingati 74 tahun kemerdekaan Indonesia, kata itu merupakan hal yang paling banyak disebut dan mencerminkan optimisme. Seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri negara, Indonesia yang maju dan sejahtera bukanlah sekadar jargon.

Sejarah juga mencatat kata itu justru mengandung ambiguitas yang diperkenalkan sejak awal abad ke-20. Dalam kemasan politik etis, zaman yang dibubuhi dengan kata-kata baru atau modern itu seakan-akan memberi suatu harapan akan adanya perubahan. Tak mengherankan kata-kata yang menandakan ”kemajuan” seperti vooruitgang, opheffing (kemajuan), ontwikkeling (perkembangan), dan opvoeding (pendidikan) menyebar dengan begitu cepat dan merata (Shiraishi, 1997).

Dalam bahasa yang pada saat itu sedang ”viral”, yaitu bervoedering van wevaart (memajukan kesejahteraan), kata itu seakan-akan telah menjadi “mantra” pada zamannya. R.A. Kartini, misalnya, adalah salah seorang pendukung setia ”kemajuan” yang sejak semula telah diidolakan oleh kaum etisi.

Itulah mengapa dalam surat-menyurat dengan para sahabat pena di Belanda, putri Bupati Jepara itu tampak begitu bersemangat untuk “berhubungan dengan seorang gadis modern” sebab hanya dengan semangat itu kemajuan yang ditunjukkan dalam zaman modern, yaitu zaman etis, dapat diwujudkan.

Zaman yang Dibuat Tampak Maju

Sebagaimana diperlihatkan oleh Furnivall, zaman yang tampak seperti baru itu sesungguhnya merupakan zaman yang sarat dengan ”ekspansi, efesiensi, dan kesejahteraan.” Itu artinya zaman yang dibuat tampak maju, berkembang, dan modern itu selalu ada dalam pengawasan atau kontrol Belanda di Hindia.

Jadi, segala sesuatu yang ditunjuk dan dipahami sebagai arah yang baru sesungguhnya berkiblat pada peradaban Barat. Masuk akal jika arah yang belum ada pada zaman akhir Ronggawarsita (1802-1873) ibarat sedang menggerakkan dunia dan menjadikan kemajuan atau modernitas sebagai lambangnya.

Lambang yang secara resmi ditandai melalui pendidikan gaya Barat dan ditegakkan dengan hukum rust en orde (keamanan dan ketertiban) bukan saja telah menciptakan sebuah dunia yang baru. Hal itu juga mampu menghadirkan sosok lain yang menjadi generasi pertama sebagai kelompok politisi profesional pribumi (Mrazek, 2006).

Merekalah yang secara konsisten dan lengkap berpakaian ala Barat di muka umum dengan celana panjang dan sepatu, jas, dasi, berkumis, serta bertopi. Meski bergaya seperti seorang pesolek (flaneur), mereka yang mayoritas menjadi angkatan 1928 telah mampu menghasilkan suatu konsep tentang sini atau “kami” melawan sana atau “mereka”.

Konsep yang membuat kontras atau garis pemisah yang tajam antara “pribumi” dan “Barat” semakin diperjelas demi perjuangan untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Itulah mengapa selain berbicara dan menulis dengan bahasa Indonesia yang bukan Melayu pasaran seperti Mas Marco Kartodikromo, mereka tampak begitu yakin sebagai pemimpin-pemimpin yang nasionalis dan radikal. Salah satunya dengan menetapkan peci sebagai simbol nasionalisme. Para pemimpin baru seolah-olah telah merasa merdeka hingga tragisnya dibuang tanpa batas waktu.

Berisiko Hanya Menjadi Jargon

Dari jejak langkah historis di atas, slogan “Indonesia Maju” memang berisiko hanya menjadi jargon. Jargon yang bahasanya mampu memperlancar dan memperhalus segala sesuatu secara efektif dan operatif seperti berkendara di aspal jalan raya. Berkat bahasa itulah, “Hindia yang Molek” (Mooi Indie) menjadi mantra yang ampuh untuk mendandani masyarakat dalam sebuah koloni dengan beragam citra yang membuat paling aman dan nyaman untuk ditonton.

Jadi, mirip seperti berada di dalam gerbong kereta api atau kabin pesawat, setiap penumpang dapat dengan asyik mengamati segala sesuatu, baik yang indah maupun yang buruk, dengan jelas dan aman hanya dari balik kaca. Di situlah optimisme tentang kemajuan (hamajuon) dibangun sebagai hasrat atau semangat untuk menjadi modern dan beradab.

Agar “Indonesia Maju” tidak sekadar menjadi ambiguitas yang penuh dengan optimisme, tepatlah untuk selalu belajar dari masa lalu. Hindia Belanda adalah masa lalu Indonesia yang sampai saat ini masih selalu diimpikan, bahkan jika mungkin diwujudkan. Relakah Indonesia kembali menjadi koloni yang semata-mata direkayasa oleh, meminjam kata-kata Karl Marx, ”sebuah kelas (buruh) yang unggul”?