Muncul Logo KPK Retak dan Suram

Logo KPK retak (kpk.go.id)
06 September 2019 21:20 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyatakan penolakan atas revisi Undang-Undang KPK yang digulirkan di DPR. Tak hanya melalui pernyataan secara lisan, laman situs reski KPK pun menunjukkan tampilan yang berbeda dengan nuansa serba gelap dan suram.

Ketika Solopos.com mengakses laman kpk.go.id, Jumat (6/9/2019), yang muncul kali pertama adalah sebuah gambar pop up yang menutupi layar. Gambar itu berupa logo KPK yang berada di luar Gedung KPK. Namun bedanya, kali ini logo KPK yang terpampang tersebut terlihat retak dan kusam. Gambar itu juga dipenuhi nuansa langit gelap dan awan hitam.

Tak ada penjelasan resmi tentang makna gambar tersebut. Namun gambar bernuansa suram itu muncul sehari setelah DPR sepakat melakukan revisi UU KPK sebagai RUU inisiatif lembaga legislatif.

Setidaknya, dua pimpinan KPK bereaksi keras atas manuver DPR tersebut. Mereka adalah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif.

Agus Rahardjo menyatakan saat ini lembaganya berada di ujung tanduk. Situasi itu terkait 10 nama calon pimpinan KPK yang disetor Presiden Jokowi ke DPR serta revisi Undang-Undang (UU) KPK yang berpotensi memangkas kewenangan lembaga antirasuah.

"Kami harus menyampaikan kepada publik bahwa saat ini KPK berada di ujung tanduk. Bukan tanpa sebab, semua kejadian dan agenda yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini membuat kami harus menyatakan kondisi yang sesungguhnya saat ini," Agus saat jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menegaskan bahwa revisi Undang-Undang KPK (UU KPK) merupakan upaya pelemahan secara diam-diam. Syarif saat dimintai pendapatnya di Jakarta, Kamis (5/9/2019), menyatakan bahwa pemerintah dan DPR telah membohongi rakyat Indonesia karena dalam program mereka selalu menyuarakan penguatan terhadap KPK.

"Pada kenyataannya mereka berkonspirasi melemahkan KPK secara diam-diam," tegas Syarif.