Islam Pesisiran dan Islam Pedalaman

Ilustrasi tentang dakwah Islam - Freepik.com
05 September 2019 09:03 WIB Lutfi Aminuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (27/8/2019). Esai ini karya Lutfi Aminuddin, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zickuboys@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Saya lahir di Kabupaten Pemalang, sebuah kabupaten yang tentu saja secara geografis di pesisir Laut Jawa. Saya kerap disebut teman sebagai wong pesisiran, wong laut, dan dalam istilah antropologi keislaman disebut sebagai masyarakat Islam pesisiran.

Mereka yang tinggal di Tuban, Demak, Kudus, Pekalongan, Kendal, dan sebagainya juga dapat julukan yang sama: masyarakat Islam pesisiran. Dalam kajian antropologi Islam, masyarakat Islam pesisiran digambarkan sebagai masyarakat Islam yang punya corak pemahaman keagamaan ortodoks, puritan, dan lebih ketat.

Teori ini memang benar kalau ditarik mundur ke belakang, ke era Kerajaan Demak masih menghegemoni daerah-daerah di pinggir Laut Jawa (Pekalongan, Tuban, Demak, Pemalang, dan sebagainya). Kita tahu Kerajaan Demak itu merupakan kerajaan Islam di Jawa yang dakwah keagamaannya agak puritan.

Hal itu wajar sebab para pendakwah Islam dari Gujarat datang ke Tanah Jawa menggunakan jalur laut. Corak pemahaman Islam mereka lebih puris, lebih genuine, karena belum terlalu bersentuhan dengan budaya lokal. Semakin masuk ke pedalaman, jauh dari pantai utara, pemahaman keislaman akan lebih sinkretis karena membaur dengan tradisi lokal.

Lawan main Islam pesisiran adalah Islam pedalaman. Ini diwakili oleh masyarakat Islam yang tempat tinggalnya berada di tengah Pulau Jawa, terutama masyarakat Islam yang dekat dengan Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram Islam.

Sinkretis dan Longgar

Kelompok masyarakat Islam pedalaman diwakili oleh masyarakat Islam yang tinggal di Jogja, Solo, Magelang, Karanganyar, Klaten, Bantul, dan sebagainya. Masyarakat Islam pedalaman dikenal mempunyai corak pemahaman keagamaan yang lebih sinkretis, longgar, kebatinan, dan lekat dengan kehidupan kejawen.

Antara masyarakat Islam pesisiran dan masyarakat Islam pedalaman pernah terjadi gesekan yang sering dinamai konflik Islam pesisiran versus Islam pedalaman. Ketika itu Haryo Penangsang yang mendapat dukungan Sunan Kudus kalah perang melawan Pangeran Hadiwijaya yang didukung Sunan Kalijaga.

Kekalahan Kerajaan Demak lalu memunculkan Kerajaan Pajang. Keduanya sama-sama kerajaan Islam, hanya saja kerajaan Islam Pajang corak pemahaman keagamaannya lebih kejawen, sinkretis, dan kebatinan dibanding Kerajaan Demak yang lebih ortodoks.

Adanya pemahaman keagamaan Islam yang semacam ini membuat Kota Solo, Magelang, Jogja, Bantul, dan sebagainya dikenal lebih akomodatif terhadap kebudayaan lokal dibandingkan dengan daerah pesisiran Laut Jawa yang lebih puritan dalam pemahaman kegamaan.

Di tempat saya menempuh studi, di Solo, lazim kita temui tradisi yang menyinkretiskan antara Islam dan kebudayaan lokal. Salah satunya sekaten, kenduren, malam selikuran, kirab kerbau kiai slamet, dan sebagainya.

Hegemoni kerajaan Islam Pajang yang lebih sinkretis cukup kuat. Pemahamannya memengaruhi masyarakat Islam pesisiran juga yang dikenal lebih puritan. Di Pemalang, tempat saya tinggal, hampir semua warga masyarakat Pemalang mengenal konsep numerologi.

Konsep ini percaya terhadap angka-angka baik yang tentu saja warisan hegemoni Kerajaan Pajang. Kepercayaan terhadap numerologi diterapkan ketika akan mengadakan hajatan besar: pernikahan, sunatan, membangun rumah, dan sebagainya.

Karena pengaruh Kerajaan Pajang pula di Pemalang ada tradisi baritan (sedekah laut) tiap tahun baru Hijriah tiba. Di tetangga tempat tinggal saya di Pekalongan, ada tradisi lokal gunungan gebral pekajangan yang diadakan ketika Syawal. Realitas ini tentu saja meruntuhkan dikotomi Islam pesisiran yang puritan.

Akomodatif

Masyarakat Islam pesisiran pada perkembangannya justru semakin akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Masyarakat Islam membaur dengan tradisi yang baik. Beberapa tahun yang lalu, ulama karismatik asal Pekalongan, Habib Lutfi bin Yahya, mengadakan pertemuan sufi internasional di Pekalongan.

Kita tahu corak pemahan keagamaan kaum sufi dikenal akomodatif terhadap kebudayaan. Dikotomi masyarakat Islam pedalaman yang dikenal lebih sinkretis tampaknya justru belakangan ini semakin memudar. Beberapa kejadian yang tidak ramah terhadap kebudayaan akhir-akhir ini ramai terjadi di masyarakat Islam pedalaman.

Di setiap daerah, realitas muslim mempunyai pemahaman keagamaan Islam sendiri-sendiri. Ada yang Muhammadiyah, NU, LDII, FPI, dan beberapa organisasi kemasyarakatan Islam puritan lain. Dalam perkembangannya, masyarakat Islam pesisiran menjadi basis NU.

Pekalongan, Tuban, Pemalang, Demak, Kudus, dan beberapa daerah lain di pantura dikenal sangat kuat ke-NU-annya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa di Pemalang pun, dan di daerah pantai utara lain, ada masyarakat Islam yang lebih puritan, terutama LDII, salafi, dan Jemaah Tablig.

Kita tidak bisa memungkiri di masyarakat Islam pedalaman ada juga yang puritan, yang diwakili oleh LDII, Jemaah Tablig, dan salafi pula. Hal yang menjadi kepedulian bagi para elite agamawan dan intelektual Islam adalah menjaga stabilitas kaum puritan dan kaum sinkretis baik di kawasan Islam pedalaman maupun kawasan Islam pesisiran agar hidup rukun.

Perlu dialog-dialog intrakeagamaan antarorganisasi kemasyarakatan kegamaan agar masing-masing kelompok memahami dan menerima jalan pemahaman kegamaan masing-masing sepanjang masih mau mengakui Indonesia dan lambang negara.

Membuat narasi yang menjelek-jelekan kaum puritan dan kaum puritan menjelek-jelekan kaum sinkretis hanya akan membuat konflik Kerajaan Islam Pajang dan Kerajaan Islam Demak akan meletus kembali dalam bentuk konflik antarorganisasi kemasyarakatan keagamaan. Dengan demikian, konflik Islam pesisiran versus Islam pedalaman tidak akan ada lagi.