Pendidikan Tinggi Vokasi Olahraga

Agus Kristiyanto - Dokumen Solopos
04 September 2019 09:56 WIB Agus Kristiyanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (30/8/2019). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah telah menerbitkan peraturan baru yang mendukung industri lebih banyak terlibat dalam pendidikan vokasi di perguruan tinggi. Pada pengembangan pendidikan vokasi di perguruan tinggi dosen harus bekerja sama dengan industri sesuai bidang masing-masing.

Dosen di pendidikan vokasi, menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, sebaiknya terdiri atas 50% dosen akademis dan 50% dosen industri (dikutip dan diolah dari berbagai sumber). Pendidikan vokasi di perguruan tinggi merupakan kebutuhan mendesak dirasakan sejak dulu.

Pada era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1996) sangat terkenal dengan kebijakan inti link and match, pendidikan dan dunia kerja/usaha/industri harus selaras. Ada persoalan kesiapan yang kurang serius di perangkat pendidikan kita, termasuk kesiapan kurikulum, sehingga program tersebut belum bisa secara mulus diterapkan.

Persoalan lainnya adalah kekhawatiran dari beberapa ahli pendidikan yang memperkirakan pendidikan akan menjadi wilayah subordinat menjadi semacam lembaga pendidikan khusus (LPK). Kini ada faktor pada lingkungan global strategis yang memicu dan memacu kembali aspek vokasi menjadi urusan penting.

Lahirnya teknologi generasi ke-4 telah menghasilkan revolusi industri 4.0 yang membangkitkan gairah baru bagi sistem pendidikan tinggi untuk menyesuaikan diri secara cepat. Masyarakat terdidik tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan  ”kamu tahu tentang apa?”, tetapi lebih sering berdialog tentang ”kamu bisa melakukan apa?”, bahkan ”kamu bisa menciptakan apa?”

Kemampuan lulusan perguruan tinggi didesain dengan target berupa produk yang dikemas melalui fungsi kreatif produktif dalam kontinum produk akademis. Memunculkan pendidikan tinggi vokasi olahraga di Indonesia bukan sesuatu yang baru sama sekali. Hal-hal minor dan embrio telah lama ”diperkenalkan” sebelumnya oleh beberapa program studi keolahragaan dari Sabang hingga Merauke.

Secara substansial memang masih sangat kurang memadai sebab baru sebatas bentuk mata kuliah-mata kuliah pilihan minor yang bersatuan kredit semester kecil. Metamorfosis agar menjadi besar dan berkontribusi merupakan tantangan tersendiri yang perlu dimulai sambil memanfaatkan momentum kebijakan era vokasi dan industri di perguruan tinggi, khususnya yang memiliki fakultas keolahragaan/ilmu keolahragaan/pendidikan olahraga dan kesehatan.

DNA

Penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi olahraga kurang begitu dikenal publik, tidak seperti bidang vokasi lain yang sudah familier dalam bentuk akademi maupun politeknik. Universitas sebagai penyelenggara pendidikan tinggi selama ini lebih dikenal bergulat pada wilayah pendidikan akademis dan profesi.

Jika dirunut dari pendefinisian, pendidikan vokasi mencakup program pendidikan diploma I (D1), diploma II (D2), diploma III (D3) dan diploma IV (D4). Lulusan pendidikan vokasi mendapatkan gelar vokasi, misalnya ahli madya. Link antara pendidikan akademis dan industri sangat terlihat dalam hubungan antara pendidikan tinggi olahraga dengan segmen industri olahraga.

Pada 2005 ada struktur Deputi Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ini membuktikan secara faktual bahwa urusan kewirausahaan dan industri olahraga yang ideal harus digarap oleh perguruan tinggi. Hal itu merupakan wilayah vokasi sementara perguruan tinggi keolahragaan di Indonesia terlahir dengan ”DNA” sebagai lembaga pendidikan profesional plus akademis.

Pendidikan Tinggi vokasi olahraga merupakan pendidikan yang kurang mendapat perhatian karena secara kronologis sejak dulu cenderung lebih fokus pada output profesi guru (D1/D2/D3/S1). Lahirnya Undang-undang tentang Guru dan Dosen serta pemberlakuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) mengubah paradigma pendidikan tinggi keolahragaan serta seluruh lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).

Jenjang strata 1 (S1) adalah grade 6 yang belum berhak mendapatkan sebutan profesi. Profesi ditempuh dalam grade 7. Masa depan pendidikan tinggi vokasi olahraga memiliki tantangan yang cukup unik dan prospektif, terutama jika ditelaah berdasarkan tiga sudut pandang yang relevan, yakni pengelolaan perguruan tinggi, pengembangan keilmuan olahraga, dan perkembangan tuntutan masyarakat global olahraga yang semakin multidimensi.

Pertama, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, ada tiga definisi ketentuan umum yang dapat disandingkan, yakni bentuk universitas, politeknik, dan vokasi.

Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademis dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dan jika memenuhi syarat, universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dan jika memenuhi syarat, politeknik dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu.

Universitas merupakan perguruan tinggi yang memiliki entitas lengkap dan memiliki rekam jejak pertumbuhan institusi yang teruji zaman. Universitas (termasuk yang lahir melalui proses konversi dari institut) cenderung telah terbukti berhasil menyinergikan misi akademis, profesi, maupun vokasi.

Dalam posisi yang seperti itu maka pendidikan tinggi vokasi olahraga akan sangat ideal jika diselenggarakan dalam universitas secara mandiri atau kolaborasi beberapa universitas yang sevisi. Bidang garapan vokasi olahraga di pendidikan tinggi bukan sekadar mengolah keterampilan spesialis yang dibangun melalui percobaan trial and error usulan pendirian politeknik-politeknik baru olahraga pada masa depan.

Kedua, penyelenggaraan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi olahraga merupakan keniscayaan dari efek akselerasi perkembangan ilmu keolahragaan (sport sciences) yang merupakan applied sciences secara monodisiplin, multidisiplin, interdisiplin, bahkan transdisiplin.

Tuntutan Global

Performa research group di universitas menghasilkan karya untuk publikasi, komersialisasi, dan hilirisasi akan berbuah metamorfosis karya akademis menjadi revenue generating yang menimbulkan tunas-tunas baru kebutuhan segmen vokasional. Proses metamorfosis berjalan cepat manakala pendidikan vokasi dikelola secara inheren dengan universitas yang bersangkutan.

Ketiga, perkembangan tuntutan masyarakat global olahraga yang semakin multidimensi menghasilkan tuntutan-tuntutan baru dalam bidang pendidikan jasmani, olahraga, dan berbagai perubahan tren gaya hidup secara perorangan maupun kolektif. Industri sarana dan prasarana olahraga serta jasa olahraga kini menjadi menjadi kebutuhan yang seolah-olah tanpa dipisahkan lagi oleh sekat-sekat nyata secara sosial.

Segmen dunia pariwisata pun bukan sebatas sebagai perjalanan dengan destinasi wisata keindahan alam dan budaya, melainkan menyintesis sebagai bentuk sport tourism. Panggung hiburan masyarakat perkotaan ingar bingar oleh extreme sport yang memacu adrenalin dan aneka trend sportainment yang menghiasi pojok kota, bahkan di mal.

Informasi olahraga, bukan sebatas berita-berita tentang single event atau multi event olahraga yang membutuhkan jurnalis olahraga, tapi meluas pada pengembangan kolumnis olahraga dan analis multisegmen pada masa mendatang. Di bidang kompetisi olahraga pun semakin diperlukan tenaga telik sandhi vokasi spionase olahraga.

Tenaga fisioterapi, konsultan gizi, analis biomekanika dan performa atlet, tidak boleh sekadar dihadirkan sebagai pelengkap. Mereka harus dipersiapkan oleh universitas yang memiliki sumber daya keolahragaan yang mumpuni dan paripurna melalui program pendidikan tinggi vokasi olahraga.