Munculnya Istilah Kucing Kurap di Tengah Seleksi Capim KPK

Penasihat KPK Moh. Tsani Annafari saat berorasi di depan massa. (Istimewa/KPK)
31 Agustus 2019 06:00 WIB Ilham Budhiman Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Istilah kucing kurap muncul sebagai analogi yang menggambarkan sebagai pencarian calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jilid V.  Istilah ini muncul pertama kali dari Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam sebuah diskusi di Gedung Merah Putih KPK beberapa waktu lalu. 

Sederhananya, capim KPK yang tak berintegritas dan memiliki catatan khusus dinilai tak cocok memimpin lembaga antirasuah dalam lima tahun ke depan. Alasannya jelas: mereka tak akan bisa memberikan contoh baik dalam memimpin.

Dalam sebuah acara dukungan lapisan masyarakat untuk KPK terkait seleksi capim KPK, Penasihat KPK Tsani Annafari kembali menyinggung istilah kucing kurap dalam orasinya. Dengan tegas, dia meminta semua pihak menolak calon pimpinan kucing kurap.

"Sebenarnya saya susah orasi, makanya tadi saya mau gambar saja, gambar kucing kurap. Kenapa kucing kurap?" ujar Tsani di depan massa di pelataran KPK, Jumat (30/8/2019).

Dia menjelaskan, istilah kucing kurap yang awalnya dilontarkan Saut Situmorang itu menganalogikan bahwa memimpin lembaga antirasuah bukan perkara mudah. Berdasarkan cerita Saut, kata Tsani, bertugas di KPK ibarat seekor kucing yang akan mengejar tikus. Adapun tikus yang dimaksud adalah koruptor.

"Tetapi hanya kucing yang sehat, yang bisa selesaikan tugasnya menangkap tikus, tapi kalau kucingnya tadi penuh kurap, dia hanya akan sibuk garuk-garuk tak pernah nangkap tikusnya, kabur semua," papar Tsani.

Kurap dalam hal ini adalah infeksi jamur pada kulit yang bisa menular. Menurut Tsani, pegawai KPK bisa tertular penyakit dari calon pimpinan yang memiliki masalah seperti tidak lapor LHKPN atau yang pernah melanggar etik.

"Capim bermasalah itu ibarat kucing yang banyak kurapnya," kata dia.

Dia berharap capim KPK ke depan tidak memiliki masalah seperti kucing kurap. Untuk itu, dia memastikan akan menggalang dukungan berupa petisi dari pegawai KPK untuk menolak capim yang bermasalah.

Saut Situmorang dalam pernyataan sebelumnya mengatakan jika KPK diisi oleh calon pemimpin seperti kucing kurap maka akan menimbulkan risiko bagi upaya pemberantasan korupsi. 

"Katakanlah nanti kita [KPK] dapat kucingnya itu kucing kurap, tapi kalau kucing kurap itu bisa nangkap tikus ya tidak apa-apa, tapi kucing kurap suka garuk-garuk, nanti kebanyakan garuknya daripada nangkap tikusnya," kata Saut, Rabu (28/8/2019). 

Oleh karena itu, Saut berharap pimpinan KPK 2019-2023 memiliki integritas yang tinggi. Saut mengaku lembaga antikorupsi seperti KPK tidak coba-coba diisi oleh orang yang sembarangan.

"Apalagi kalau nanti yang masuk ke sini [KPK] itu kucing kurap [yang] mau coba-coba, paling [ujung-ujungnya] kita sembuhin kurapnya," kata Saut.

Sumber : Bisnis/JIBI