Ibu Kota Baru, Bisnis Perhotelan di Kalimantan Timur Diprediksi Cemerlang

Ilustrasi hotel. (Bisnis.com)
30 Agustus 2019 08:10 WIB Anitana Widya Puspa Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Bisnis perhotelan akan menjadi salah satu sektor yang berpeluang cerah di Balikpapan terkait dengan isu pemindahan ibu kota, setelah melesu sejak periode jatuhnya bisnis pertambangan dan batu bara.

Secara rata-rata hanya hotel berbintang dan berlokasi strategis yang mampu mencatatkan okupansi secara stabil di level 60 persen -70 persen di bumi etam.

Sementara itu, Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Kalimantan Timur pada Juni 2019 sebesar 52,98 persen atau hanya mengalami peningkatan 3,08 poin dibandingkan dengan Mei 2019 yang sebesar 49,90 persen.

Dari jumlah TPK tersebut, rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang pada bulan Juni 2019 selama 1,60 hari.

Dengan isu ibu kota baru, letak Balikpapan sebagai pintu gerbang bisnis membuka ruang bagi aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition atau MICE, baik dari sektor korporasi maupun pemerintahan.

Soegianto, Direktur Operasional Hotel Platinum Balikpapan mengatakan bahkan ketika ibu kota baru memasuki masa konstruksi saja akan cukup banyak masyarakat yang akan bolak- balik dengan kota pendukung utama yakni Samarinda dan Balikpapan. Apalagi, keduanya tercatat memiliki Infrastruktur yang sudah memadai.

Namun, dia memperkirakan mulai awal tahun depan, aktivitas pembangunan sebagai efek dari perpindahan ibu kota baru terasa bagi perhotelan. Kondisi itu dikarenakan saat ini sudah masuk penghujung akhir tahun.

Menurutnya, pasokan hotel di Balikpapan dan Samarinda masih dalam kategori yang cukup, mulai dari hotel berbintang 1 hingga berbintang 5. Jumlahnya sudah mencapai ratusan dan tidak memerlukan pembangunan baru.

“Namun, lain ceritanya kalau pembangunan sudah rampung. Pasti investor hotel besar sudah mulai mengincar. Kami pun saat ini masih melihat peluang yang ada. Arah pembangunannya kemana masih kami pantau,” jelasnya Kamis (29/8/2019).

Sugiyanto mengungkapkan, tingkat okupansi hotel saat ini masih berada di level 40 persen - 60 persen dari sebelum periode 2015 yang bisa mencapai lebih dari 60 persen.

Selain pemindahan ibu kota, dia juga mengharapkan momentum setelah pilpres bisa ikut mengerek tingkat okupansi. Dimulai dari September hingga akhir tahun dengan adanya pelantikan sejumlah anggota dewan dan kepastian kebijakan oleh pemerintah setelah terbentuknya kabinet baru.

Bisnis mice, lanjut dia, saat ini memang menjadi penggerak tingkat keterisian hotel. Aktivitas bisnis dari sektor pemerintahan masih mendominasi pertemuan rutin di kota minyak dibandingkan dengan sektor korporasi.

“Sementara ini kegiatan perhotelan masih belum menggembirakan. Kita menurun Januari Februari, April naik terus turun lagi. Kegiatan swasta itu kurang, memang sepenuhnya kegiatan pemerintahan. Tamu destinasi dan perusahaan sudah berkurang karena segmen pasarnya berbeda. 2015 okupansi turun, mulai naik lagi belum terlihat harapannya 2017, 2018, 2020 semoga semuanya semakin baik ,” tekannya.

Sementara itu, Manajer Komunikasi Four Points by Sheraton Balikpapan Mega Tarina mengungkapkan, persiapan sebagian perusahaan konstruksi dalam membangun ibu kota baru memang belum terlihat dampaknya. Namun, secara perlahan pihaknya melihat bisnis hotel menuai tuahnya mulai tahun depan.

“Pemindahan ibu kota banyak pembangunan dan mobilitas. Kalimantan punya bandara serta pelabuhan. Balikpapan akan sangat naik drastis untuk sektor ekonomi selain industri. Trafiknya dan Mice akan perlu dikembangkan,” jelasnya.

Saat ini,ungkap dia sektor korporasi justru masih mendominasi tingkat keterisian hotel kendati bisnis perusahaan batubara dan tambang masih bergerak kurang menguntungkan. Namun, banyak sektor usaha lain yang mulai berkembang dan mengisi aktivitas di hotel, misalnya saja dari plantation, consumer good hingga sektor ritel yang masih stabil.

“Dengan ibu kota baru, tidak hanya menarik aktivitas korporasi, tetapi bisa memperbesar pasar pemerintahan yang selama ini belum banyak. Aktivitas kedua pasar ini menjadi ramai. Antisipasinya dan strateginya kami akan lebih aware dengan perkembangan Balikpapan. Mempersiapkan dan membaca pola bisnis,”tekannya.

Hingga akhir tahun ini, pihaknya memasang target keterisian sebesar 70 persen dengan secara realistis dan optimistis melihat pertumbuhan bisnis belumlah setinggi yang diharapkan.