Rumah Sakit Apung Ini Layani Pengobatan Gratis Bagi Warga Miskin

RSA dr. Lie Dharmawan (Suara)
24 Agustus 2019 06:00 WIB Chelin Indra Sushmita Nasional Share :

Solopos.com, SOLO – Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan memberikan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin di pelosok negeri, khususnya Indonesia timur. Rumah sakit ini dibangun oleh dokter Lie Dharmawan yang diluncurkan pada 2009.

Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan dinaungi oleh doctorShare alias Yayasan Dokter Peduli yang juga didirikan oleh dokter Lie. Rumah sakit apung pertama di Indonesia itu telah berlayar selama 10 tahun. Rumah sakit (RS) ini memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat pinggiran di wilayah Indonesia timur.

Dokter berusia 73 tahun sekaligus Kepala Ruang Bedah RS. Husada Jakarta itu menjual rumahnya untuk membeli kapal kayu bekas pengangkut semen. Dalam video tayangan Kick Andy Metro TV yang ditonton Solopos.com, Selasa (20/8/2019) kapal kayu tersebut awalnya berbobot 145 ton.

Kapal sepanjang 23,5 meter dan lebar 6,5 meter bobotnya bertambah menjadi 170 ton setelah direnovasi menjadi rumah sakit apung. Berbagai peralatan navigasi dan medis mengisi ruang-ruang di dalam kapal.

Kapal RSA dr. Lie Dharmawan dilengkapi dengan ruang pasien sekaligus ruang bedah minor, ruang dokter, laboratorium, ruang usg, ruang bedah, dan ruang radiologi. Ada pula sekoci berkapasitas 10 orang yang berfungsi ganda. Sekoci tersebut berfungsi menyelamatkan awak kapal saat terjadi bencana dan mengantar jemput pasien ketika kapal sulit menepi ke pantai.

Bakti kemanusiaan awak kapal RSA dr. Lie Dharmawan dimulai dari Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Maluku, dan terus menuju ke Indonesia bagian timur. Sepanjang 2018, rumah sakit apung telah berlayar ke delapan daerah yang minim fasilitas kesehatan, seperti wilayah barat daya Maluku, Sulawesi Tenggara, hingga Nusa Tenggara Barat. Laman doctorShare menyatakan pada 17-25 Juli 2019, RSA dr. Lie Dharmawan telah mendarat di Kepulauan Yapen, Papua.

Dikutip dari laman Kitabisa, selama 10 tahun pelayarannya, RSA dr. Lie Dharmawan sudah melakukan 3.549 penyuluhan dan kampanye kesehatan dengan perincian, 331 pelayanan kesehatan untuk ibu hamil, 643 operasi kecil, dan 385 operasi besar. Selain itu, ada 13.368 pasien rawat jalan dan konsultasi kehamilan di bawah tanggung jawab tim dokter RSA dr. Lie Dharmawan.

Ide mendirikan RSA dr. Lie Dharmawan hadir saat dokter Lie menemui kenyataan betapa sulitnya mencapai fasilitas kesehatan oleh masyarakat pinggiran. Mereka harus menempuh perjalanan laut selama tiga hari dua malam demi mendapat pelayanan kesehatan. Padahal penyakit yang mereka derita cukup berat, seperti hernia dan tumor.

Kendala yang dihadapi RSA dr. Lie Dharmawan adalah gelombang tinggi dan badai. Tim medis dan operasional rumah sakit apung tersebut harus mampu mengatasi segala kemungkinan buruk yang terjadi, seperti gagalnya operasi. Peralatan medis pun ditata rapat ke dinding kapal untuk menjaga keamanannya.

Keberadaan RSA dr. Lie Dharmawan menginspirasi hadirnya rumah sakit apung lain di Indonesia. Salah satunya RSA Ksatria Airlangga yang meluncur dari Makassar, Sulawesi Selatan. RSA Ksatria Airlangga digagas oleh alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan memulai baktinya pada 27 Oktober 2017 di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Dalam perkembangannya, Yayasan Dokter Peduli telah memperluas layanan kesehatan gratisnya dengan membuat dua rumah sakit apung lain, yaitu RSA Nusa Waluya I dan RSA Nusa Waluya II. RSA Nusa Waluya I merupakan kerja sama Yayasan Dokter Peduli dengan Yayasan Ekadharma dan diluncurkan pada 1 Juni 2015 di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rumah sakit apung berikutnya yaitu RSA Nusa Waluya II yang masih dalam proses renovasi dan rencananya akan khusus beroperasi di Kepulauan Maluku. (Enggar Thia Cahyani/Solopos.com)