Khawatir Tak Diakui, Pengungsi Rohingya Takut Pulang ke Myanmar

Pengungsi Rohingya di Bangladesh (Reuters/Mohammad Ponir Hossain)
23 Agustus 2019 01:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, DHAKA Ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh yang hendak dipulangkan ke Myanmar khawatir. Mereka takut kembali ke Myanmar tanpa jaminan keselamatan. Padahal, pemerintah Bangladesh dan Myanmar telah sepakat memulangkan sekitar 3.540 pengungsi Rohingya mulai hari ini, Kamis (22/8/2019).

Tidak adanya jaminan keamanan membuat pengungsi Rohingya yang menetap di pengungsian Cox’s Bazaat, Kutupalong, Bangladesh, enggan dipulangkan. Mereka takut tidak diberi kewarganegaraan oleh pemerintah dan kembali menjadi target operasi pembersihan etnis oleh milter Myanmar.

“Hampir semua pengungsi Rohingya dari 214 keluarga yang terdaftar dalam data pemulangan menolak dipulangkan ke Myanmar. Mereka tidak mau kembali sampai tuntutan soal kewarganegaraan dipenuhi. Mereka merasa Rakhine masih tidak aman,” kata pejabat Komisioner Tinggi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) (UNHCR) seperti dikabarkan The Guardian.

Jaminan keamanan dengan pemberian hak sebagai warga negara sangat penting bagi pengungsi Rohingya. Mereka khawatir serangan yang dilancarkan militer Myanmar pada Agustus 2017 lalu terulang kembali.

“Kami ingin jaminan keamanan dengan status kewarganegaraan terlebih dahulu. Pemerintah Myanmar harus memanggil kami Rohingya. Kami tidak akan pergi sebelum mereka memenuhi hak kami,” kata salah satu pengungsi Rohingya di Bangladesh, Ruhul Amin.

Meski demikian, pemerintah Bangladesh dan Myanmar telah membentuk tim khusus untuk memulai proses repatriasi alias pemulangan pengungsi Rohingya. Ketua tim repatriasi, Abul Kalam, mengatakan, transportasi dan logistik telah dipersiapkan untuk memulai repatriasi pada hari ini. Sebanyak 214 keluarga beranggotakan 3.450 orang telah didata untuk dipulangkan pada kloter awal.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, lebih dari 700.000 warga Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Mereka menetap di pengungsian Cox’s Bazaar demi menyelamatkan diri dari kekejaman militer Myanmar.

Warga Rohingya melarikan diri setelah kampung halamannya di Rakhine, Myanmar diserang oleh militer Myanmar. Menurut PBB, serangan tersebut merupakan bentuk dari pembersihan etnis. Wacana repatriasi pun telah berulangkali dikabarkan. Namun, hal itu tak kunjung terwujud karena pengungsi Rohingya enggan dipulangkan.