Sejarah Kelam Ilmu Pengetahuan

Joko Priyono - Istimewa
22 Agustus 2019 09:38 WIB Joko Priyono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (13/8/2019). Esai ini karya Joko Priyono, mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah jokopriyono837@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kehadiran ilmu pengetahuan memikul implikasi pada kesejahteraan masyarakat. Dalam perkembangannya, ilmu menghadapi pelbagai tantangan dan rintangan, misalkan mengenai tanggung jawab keilmuan yang sering kali berhadapan dengan pragmatisme. Hal tersebut erat kaitannya dengan etika.

Aristoteles (384 SM-322 SM) pernah menyatakan ilmu tak mengabdi kepada pihak lain. Artinya, keyakinan akan ilmu saat itu adalah netral. Pada zaman tersebut begitu kuat tradisi berpikir sebelum para filsuf mengembangkan tradisi mengamati.

Adagium yang terkenal pada saat itu adalah primum vivere, deinde philosophari yang berarti berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafat. Zaman dinamis. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan lahirnya ide, gagasan, maupun hasil eksperimen dari kelompok ilmuwan dalam mendedah tabir misteri lapisan kehidupan.

Mulai dari hal yang bersifat makroskopis hingga mikroskopis. Perdebatan, penyanggahan, dan pergulatan intelektual antara satu ilmuwan dengan ilmuwan lain tak terbendung. Ini kewajaran untuk menyempurnakan bangunan ilmu dan metode keilmuan.

Fisikawan Liek Wilardjo dalam Majalah Prisma Nomor 3 Maret 1987 menulis esai berjudul Ilmu: Antara Sikap dan Pengetahuan. Ia menjelaskan tiga aspek yang merupakan ciri khas ilmu pengetahuan. Ontologi ialah cabang metafisika mengenai realitas yang berusaha mengungkapkan ciri-ciri segala yang ada, baik ciri-ciri yang universal maupun yang khas.

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki secara kritis hakikat, landasan, batas-batas, dan patokan kesahihan pengetahuan. Aksiologi merupakan telaah tentang nilai-nilai. Dalam sejarah, Agustus tidak terlepas dari peristiwa penting yang berujung pada perdebatan panjang akan hakikat ilmu dan tanggung jawab.

Produk Ilmu Pengetahuan

Tidak lain adalah tatkala bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Momentum tersebut menjadi akhir panjang Perang Dunia II. Setiap akibat tentu ada sebab yang melandasi, tak terkecuali para ilmuwan di belakang peristiwa tersebut.

Kita tahu bom nuklir adalah produk ilmu pengetahuan yang tidak tepat. Ada keterlibatan ilmuwan dalam kompromi-kompromi kepentingan ilmu sebagai alat pemusnah massal. Bom nuklir tak terlepas dari konsep ilmu pengetahuan terkait energi nuklir.

Albert Einstein tak bisa dilupakan. Dialah penemu konsep relativitas yang kita kenal dengan rumusan e=mc2. Gerry Van Klinken dalam buku berjudul Revolusi Fisika (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004) menjelaskan dalam Perang Dunia II para ilmuwan untuk kali pertama terjun dalam peperangan.

Mereka mengusulkan, merancang persenjataan mutakhir, dan memperlihatkan cara pemakaiannya. Bom atom ditemukan kali pertama pada 1932 oleh Sir James Chadwick (1891-1974). Kemudian berkembang dengan gagasan baru dari beberapa ilmuwan lain. Di Amerika Serikat pada 1939-1943 ada laku besar-besaran mengembangkan bom nuklir.

Ada fakta menarik dalam interaksi antara ilmuwan dalam memperdebatkan keikutsertaan dalam urusan kekuasaan maupun ketegangan situasi politik--masa peperangan--sebagaimana pernah ditulis oleh ahli astronomi dan filsafat Karlina Supelli dalam esai berjudul Ciri Anthropologis Pengetahuan (2010).

Ada dua ilmuwan terkemuka, Ernst Mach dan Max Planck,  pada 1908 hingga 1913 menyikapi posisi epistemologis tujuan keilmuan. Mach yang merupakan anggota parlemen Austria menulis buku-buku terkait keilmuan populer.

Ia meyakini masyarakat berpengetahuan tidak mudah dimanipulasi oleh pengetahuan yang semu. Ia membuat konsep pedagogi, berupa pantulan dari konsep ilmu pengetahuan, sekaligus kecurigaan terhadap politisasi sains dan filsafat dunia ke dalam kehidupan sehari-hari.

Demi Kepentingan Kekuasaan

Hal tersebut merupakan hasil pengamatan langit Eropa menjelang Perang Dunia I—politikus memelintir konsep ilmiah dan metafisika untuk kepentingan kekuasaan. Planck lebih giat dalam asosiasi lembaga-lembaga ilmiah yang membentuk identitas ilmuwan sebagai anggota kelompok profesional.

Dalam ranah praksis, apa yang dilakukan Planck sangat jauh dari aspek politis. Ia lebih mengedepankan keberadaan kelompok ilmiah sebagai lembaga formal terorganisasi yang mestinya punya kontrol untuk menentukan arah perkembangan ilmu dan penerapannya, termasuk dalam kontrol itu adalah penyusunan kurikulum pendidikan agar berlanjut riset ilmiah.

Kenyataannya, konsep ”netralitas ilmu” yang digagas oleh Mach justru berakibat fatal. Tatkala konsep tersebut harapannya bermuara pada ilmuwan tidak menyalahgunakan ilmu untuk kepentingan politik, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Pada Perang Dunia II banyak ilmuwan terlibat dalam proyek menghasilkan bom. Bom atom menjadi senjata pemusnah massal yang menggunakan ilmu sebagai alat. Lantas bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh para ilmuwan dalam memosisikan ilmu?

Ilmu adalah sarana, bukan tujuan (telos. Dalam hal kepentingan kekuasaan, ilmuwan harus menjaga sikap bijaksana (ugahari) dalam menentukan sikap. Ilmu tak elok digunakan sebagai sarana dalam urusan kejahatan, seperti peperangan yang dapat merenggut kematian banyak orang.

Muara ilmu seharusnya pada kesejahteraan sosial, produksi pengetahuan, kemajuan teknologi, keberpihakan kepada yang papa, dan kepada mereka yang tertindas. Tak mengherankan, pada 1939, Albert Einstein dalam sebuah kesempatan pidato di hadapan banyak mahasiswa di California Institut of Technology mengatakan dalam peperangan ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal.

Dalam peradaban yang terus berjalan dengan begitu cepat, zaman terkadang tak bisa ditebak arahnya. Ilmuwan harus benar-benar memahami dua hal yang menjadi faktor utama dalam laku mereka, yakni berupa ilmu dan tanggung jawab.