Resmi! Ibu Kota Baru RI di Kalimantan Timur

Presiden Jokowi (kedua kiri), didampingi Wagub Kaltim Hadi Mulyadi (dari kanan), Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan A. Djalil, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, memberikan penjelasan kepada pers, di sela-sela kunjungan ke Bukit Soeharto, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (7/5 - 2019). (Setkab/Anggun)
22 Agustus 2019 18:35 WIB Muhamad Wildan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Lokasi ibu kota baru Republik Indonesia (RI) diputuskan berada di Provinsi Kalimantan Timur. Hal ini disampaikan oleh Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil, Kamis (22/8/2019).

Meski demikian, Sofyan menerangkan bahwa masih belum ada lokasi spesifik terkait pemindahan ibu kota tersebut. Namun, Sofyan memastikan bakal ada lahan seluas 3.000 hektare untuk pembangunan awal. Sedangkan lahan untuk ibu kota baru secara keseluruhan mencapai 200.000-300.000 hektare.

Sebagai tahap awal, kantor presiden serta kantor kementerian merupakan bangunan yang paling awal dibangun. Adapun tanah yang digunakan adalah tanah yang sebagian besar dimiliki oleh pemerintah pusat.

"Kalau tanah pemerintah sebagian besar kita usahakan karena biaya pembebasan tanah penting sekali," ujar Sofyan.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengakomodir pemindahan ibu kota. RUU yang dimaksud ditargetkan selesai pada September.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa ibu kota negara (IKN) di Kalimantan selaku paru-paru dunia akan dibangun dengan konsep forest city. Dengan menerapkan konsep tersebut, kota akan memiliki 50% ruang terbuka hijau (RTH) dari total luas area.

“Jadi RTH itu nanti bisa berupa taman rekreasi, ruang hijau, kebun binatang, kebun tanaman, tempat olahraga, yang terintegrasi dengan bentang alam seperti kawasan berbukit dan daerah aliran sungai [DAS], dan struktur topografi lainnya,” katanya dalam acara Youth Talks: “Yuk Pindah Ibu Kota!” di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Selain itu, dalam konsep forest city, kota yang dijadikan IKN nantinya akan memiliki sistem untuk mengolah energi terbarukan dan rendah karbon sehingga penggunaan energi bisa lebih efisien sekaligus mengurangi emisi karbon.

Untuk efisiensi konsumsi energi tersebut, kata Bambang diperlukan pembangunan Green Building Design melalui penerapan circular water management system, efficient lighting system, dan district cooling system.

“Jadi Kalimantan ini kan berada di garis katulistiwa, suhu udaranya rata-rata 20-30 derajat celcius, penerapan energi terbarukan seperti ini sangat diperlukan ketika mengembangkan Kalimantan menjadi IKN baru,” ungkapnya.

Kemudian, nantinya IKN juga akan dibangun dengan orientasi pada transportasi berbasis rel dan transportasi tanpa mesin seperti sepeda. Pembangunan itu mengutamakan agar penduduknya terbiasa untuk ke mana-mana dengan berjalan kaki.

Sumber : Bisnis/JIBI