Literasi Generasi Milenial

Yessita Dewi - Istimewa
16 Agustus 2019 09:40 WIB Yessita Dewi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (10/9/2019). Esai ini karya Yessita Dewi, penulis skenario untuk FTV dan sesekali mendongeng. Alamat e-mail penulis adalah yessitadewi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Dalam dua atau tiga tahun terakhir istilah yang paling sering muncul dalam perbincangan tentang kebudayaan dan peradaban bangsa kita adalah ”literasi” dan ”generasi milenial”. Jika diothak-athik gathuk akan menjadi luas penjabarannya. Dua istilah itu menjadi harapan pembangunan bangsa yang—konon--minim budaya membaca atau rendah tingkat literasinya ini.

Istilah ”literasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring adalah kualitas atau kemampuan melek huruf (aksara) yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pengertian literasi juga mencakup melek visual, yaitu kemampuan mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (video/gambar).

Membaca tidak hanya melulu berurusan dengan teks, tulisan, dan kata-kata. Lebih luas lagi terutama adalah membaca seturut perkembangan teknologi. Tanda kemajuan zaman termutakhir yang paling dekat dalam kehidupan sehari-hari kita adalah penggunaan gawai. Dari kotak kecil ajaib itulah semua tersaji dan siap dinikmati.

Ketika kita tidak melek literasi teknologi maka akan sangat mudah diakali oleh pengelola teknologi canggih yang mewujud dalam gawai itu. Lebih repot lagi kalau mudah terpapar hal-hal yang tidak benar semacam hoaks. Ada pula kekhawatiran generasi milenial tidak bersemangat membaca tulisan, apalagi menulis. Begitukah?

Generasi milenial malas membaca dan menulis? Tidak juga. Saat ini justru muncul banyak penulis muda yang karya mereka luar biasa. Ada sederet nama yang patut diperhitungkan seperti Faisal Oddang, Rio Johan, Dea Anugerah, dan masih ada beberapa lagi. Karya-karya mereka yang segar itu sangat mewakili dunia mereka. Dunia generasi milenial.

Genre karya tulisan mereka juga tak melulu romansa. Di luar nama-nama itu tentu masih banyak lagi. Saat ini buku-buku yang dipajang di gerai-gerai buku besar sebagian besar adalah karya generasi muda. Semangat makantar-kantar mereka ini yang membuat selalu iri buat melecut diri. Itu baru dunia sastra.

Sastra Menjadi Mudah Dipahami

Sastra adalah genre tulisan yang bagi sebagian besar orang dianggap ”berat” karena pasti bahasanya melangit, padahal tidak juga. Sastra di tangan kaum muda menjadi lebih mudah dipahami. Adalah menyenangkan ketika sastra menjadi cair sehingga banyak penikmat sastra dari kalangan muda yang berdatangan. Generasi mileniallah yang membuat sastra menjadi cair.

Ada tempat  yang saat ini menjadi pusat kerumunan generasi muda penyuka cerita dan menulis. Era bloger perlahan bergeser menuju era Wattpad dan Storial. Aplikasi yang sangat mudah diunduh dan dibuka ini berisi ribuan cerita karya ratusan penulis yang bersemangat menjanjikan. Bagi sebagian yang ingin berhemat, tidak membeli buku tetapi masih bisa memutakhirkan bacaan, aplikasi ini menjadi pilihan. Yang tertarik komik atau manga bisa mengunduh Webtoon. Di Storial kini yang bergabung sekitar 1.500 lebih penulis dengan karya berkisar 5.000  judul.

Di Wattpad maupun Storial setiap orang bisa menjadi penulis. Menulis apa saja bisa dan mendapatkan respons langsung dari pembaca. Banyak kisah menarik, bahkan ada yang mendapat 10 juta pembaca. Sangat digandrungi. Ternyata ini menjadi daya tarik pasar buku pula. Penulis yang memiliki pembaca di atas satu juta ada harapan dipinang penerbit mayor untuk dicetak menjadi buku. Apakah laku? Sangat laku. Mereka yang setia di Wattpad ternyata juga memburu buku-bukunya di toko buku, bahkan beberapa kisah dialihkan ke layar lebar. Salah satu contoh adalah Dear Nathan karya Erisca Febriani.

Karya ini tak hanya laris di toko buku, filmnya pun ditunggu penonton dan menghimpun 700.000 lebih penonton. Demikian pula pada seri kedua Hello, Salma yang menarik 800.000 lebih  penonton. Itu baru satu karya penulis muda yang menuangkan hasrat menulis melalui aplikasi Wattpad atau Storial.  Kini puluhan judul tulisan dalam wujud digital siap dinikmati dalam bentuk buku.

Betapa teknologi membentuk aktivitas baru membaca dan menulis. Generasi kini juga rajin membuat kutipan atau ungkapan yang muncul setiap hari. Mereka buat sedemikian menarik penampilannya di akun media sosial pribadi, mendapat banyak tanda suka, dan pengikut selalu setia menunggu kutipan baru. Kalimat-kalimat yang mereka susun tidak ndakik-ndakik. Sederhana tetapi mengena. Inilah gaya generasi kini, yang dicemaskan tidak melek literasi. Jangan kaget, workshop menulis saat ini dipenuhi generasi muda yang siap mengalirkan isi kepala lewat karya mereka melalui tulisan.

Diterbitkan Menjadi Buku

Apakah hanya sampai di situ? Tentu saja tidak. Buku-buku yang ditulis generasi echo-boomers ini semakin beragam dan berwarna. Memoar dan catatan perjalanan serta pencapaian banyak diterbitkan. Penulisnya rata-rata berusia muda.  Keriuhan generasi muda dan dunia literasi tak berhenti di situ.

Imajinasi mereka membentuk ruang kecintaan pada objek tertentu jamak menjadi ide karya tulis. Saat ini gelombang idol masih sangat kencang, lebih deras malah, khususnya Halyu. Sebagian generasi milenial menikmati musik-musik dan mengoleksi cenderamata idola, sebagian yang lain mewujudkan kecintaan  menjadi sebuah karya tulis.

Para fangirl dan fanboy ini jangan dikira tidak kreatif. Di belahan ”bumi” mereka ada fanfiction. Istilah ini berangkat dari fantasy fiction. Dari namanya saja sudah pasti berisi kisah fiksi dan rekaan. Yang menarik adalah ide cerita dan penokohan dalam karya ini berdasar idola mereka. Wahana yang mereka gunakan tak sebatas fanpage, Wattpad, Storial, tetapi juga Instagram.

Mereka mengunggah cerita-cerita fiksi itu dan menyertakan tautan akun resmi sang idola. Pada setiap tulisan yang mereka buat mereka tak pernah ketinggalan menyertakan tautan akun resmi para idola. Mereka hanya ingin menulis. Menulis tentang kesayangan mereka yang juga menjadi kecintaan ribuan orang lain.

Apakah karya mereka sampai ke sang idol? Apakah sang idol membaca? Ya. Mereka membaca. Ada notice dari sang idola ketika mengadakan fansign. Salah seorang idola dari grup EXO, Suho, menanggapi fanfiction yang ditulis penggemarnya. Ternyata semua anggota EXO selalu membaca fanfiction yang ditautkan dengan akun resmi mereka sebagai tokoh.

Komentar mereka? Mereka tak menyangka dari sekian penggemar ada yang pandai membuat cerita yang lucu dan nakal. Boygrup asal Seoul, Korea Selatan, ini mengapresiasi secara positif karya penggemar mereka. Konteks esai saya ini adalah usaha menurunkan tingkat kekhawatiran kalangan generasi X  atas (tuduhan kepada) generasi kini bahwa mereka abai pada literasi.

Para pemuda dan pemudi era kini menulis dan membaca karya dengan media dan cara mereka sesuai zaman. Mereka punya banyak pilihan, tak hanya kertas dan buku fisik. Sebagian lebih nyaman membaca dan menulis  di gawai karena ringan dan dapat menyimpan novel dan komik berbentuk digital. Lebih ringan dan tidak memakan tempat.

Bahasa Memang Tidak Rapi

Bagaimana dengan bahasa tulis mereka? Sejauh ini yang diterbitkan menjadi buku pasti melewati kurasi dan penyuntingan sehingga bahasa menjadi lebih enak dan luwes. Sedangkan di link asli lebih banyak menggunakan bahasa sehari-hari. Tata bahasa memang tidak rapi. Ungkapan-ungkapan kasar sangat mendominasi.

Secara pribadi saya berharap suatu saat semangat mereka menulis dibarengi dengan minat belajar tata bahasa sehingga menjadi lebih baik dan benar. Bahasa yang baik dan benar bukan berarti kaku, baku, dan berat. Perkara jenis atau genre apa yang menjadi minat mereka membaca, alangkah bagusnya jika kita, para orang tua dan generasi sebelumnya  juga ‘melek’ literasi.

Ayah dan ibu yang gemar membaca buku akan sangat berpengaruh kepada anak-anak mereka, niscaya ikut gemar membaca. Sebagian yang enggan membaca apalagi menulis akan acuh tak acuh pada bahan bacaan si anak, yang penting buku pelajaran punya. Itu sudah. Sebagian yang lain mungkin bersikap tidak boleh membaca selain buku-buku pelajaran atau akademis. Buku pelajaran, modul les, dan sebagainya yang boleh dibaca. Di luar itu malah dianggap bikin tak fokus belajar dan bikin bodoh.

Enggan mengenal budaya membaca apalagi menulis, melihat buku dan tulisan panjang pasti langsung meriang, adalah hambatan terbesar bagi sebagian warga bangsa ini untuk berbudaya membaca dan menulis. Sebenarnya orang tua yang berbudaya membaca dan menulis bisa merasakan seperti apa rasa ketika anak ketika membaca media online, komik online, maupun aplikasi penyedia konten novel dan cerita pendek.

Dari paham kemudian mengerti akan menjadi mudah untuk menyaring mana konten yang layak dan tidak, mana yang bermanfaat atau tidak. Saat ini banyak orang tua yang melarang anak-anak membaca novel remaja tentang ”cinta-cintaan”. Yang perlu diingat bahwa segala sesuatu yang ditahan atau dilarang bagi remaja era kini justru memunculkan keinginan yang menggebu-gebu untuk mengetahui secara sembunyi-sembunyi. Dengan sistem tarik ulur, orang tua bisa menjadi filter bahan bacaan dan segala pertanyaan anak bisa terjawab.

Jangan lupakan bahwa jawaban atas pertanyaan yang diajukan generasi milenial harus disertai argumentasi. Kini bukan zaman pokoke ngono. Bagaimana bisa menjawab yang bukan pokoke ngono? Hanya ada satu cara: membaca sebanyak-banyaknya demi generasi penerus kita. Kita tak perlu khawatir dunia buku, dunia membaca, dan dunia menulis berhenti karena teknologi. Teknologi justru memudahkan akses terhadap bacaan. Teknologi justru memudahkan generasi kini menulis dan membaca.

 

                       

Kolom 10 hours ago

Puser Parto