Membaca Peluang dari Perang Dagang AS-Tiongkok

Anton A. Setyawan - Dokumen Solopos
15 Agustus 2019 09:34 WIB Anton A. Setyawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/8/2019). Esai ini karya Anton A. Setyawan, doktor Ilmu Manajemen dan dosen di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah anton.setyawan@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Pada 5 Agustus 2019 lalu, mata uang Tiongkok, yuan, mengalami pelemahan terendah sejak 2008. Nilai tukar yuan sempat menyentuh tujuh yuan per dolar Amerika Serikat. Departemen Keuangan Amerika Serikat menyebut hal ini sebagai kebijakan bank sentral Tiongkok melemahkan mata uang yuan demi menjaga daya saing ekspor Negeri Tirai Bambu tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh pemerintah Tiongkok sebagai manipulator uang. Pernyataan ini meningkatkan ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Pelemahan yuan ini dilakukan sebagai respons atas kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang akan menetapkan tarif 10% atas barang-barang impor dari Tiongkok senilai US$300 miliar mulai September.

Perkembangan ini mengkhawatirkan pelaku bisnis dan pengambil kebijakan di berbagai negara. Dampak yang paling serius akan menimpa negara-negara Asia yang mempunyai hubungan dagang dengan Amerika Serikat maupun Tiongkok. Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok ini merupakan usaha kontroversial Presiden Trump untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Amerika Serikat.

Kebijakan menaikkan tarif impor barang dari Tiongkok sangat berisiko mengganggu industri pengolahan dan pertanian di Amerika Serikat karena beberapa bahan mentah dan bahan baku industri di Amerika Serikat tergantung dari Tiongkok.

Hal ini masih ditambah dengan joint manufacturing beberapa produk Amerika Serikat dan Tiongkok yang terancam mengalami kenaikan biaya produksi karena kebijakan kenaikan tarif impor. Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya mengancam perekonomian global namun juga beberapa kawasan, terutama Asia yang terkena dampak serius terkait dengan kondisi ini.

Perang dagang yang terus berlanjut antara kedua negara tersebut akan berdampak merusak bagi perekonomian mereka. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang rentan terhadap gangguan akan mengalami stagnasi karena ekspor mereka terganggu.

Daya Saing Industri Rentan

Sebaliknya, Amerika Serikat tidak akan menikmati neraca perdagangan yang imbang atau positif dalam jangka panjang karena daya saing industri mereka sebenarnya juga rentan akibat kalah efisien dibandingkan industri di Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.

Indonesia sebagai negara dengan hubungan dagang yang erat baik dengan Amerika Serikat maupun dengan Tiongkok jelas terkena dampak perang dagang. Pelemahan yuan bisa menyebabkan rupiah terkoreksi, seperti yang terjadi saat ini. Pada saat yuan mencapai level terendah, yaitu tujuh yuan per dolar Amerika Serikat maka rupiah melemah menjadi Rp14.255 per dolar Amerika Serikat.

Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok sebenarnya juga membuka peluang bagi Indonesia karena produk Tiongkok (jika yuan kembali normal) menjadi lebih mahal di pasar Amerika Serikat karena kenaikan tarif impor.

Secara umum, jika yuan normal produk Tiongkok di pasar global juga terganggu daya saingnya dari sisi harga. Dalam kondisi seperti ini beberapa industri di Indonesia bisa memanfaatkan peluang, terutama produk-produk yang selama ini diekspor ke Amerika Serikat.

Produk tekstil dan makanan mempunyai peluang untuk meningkatkan market share di pasar global. Ada juga peluang lain bahwa perang dagang menyebabkan terjadi potensi relokasi beberapa industri dari Tiongkok untuk menghindari pelabelan produk dari Tiongkok sehingga memudahkan produk tersebut masuk ke pasar Amerika Serikat dan global.

Relokasi beberapa industri ini bisa menguntungkan Indonesia jika industri yang masuk dan berinvestasi adalah industri padat karya atau industri padat modal yang membuka kemitraan dengan perusahaan lokal. Peluang ini hanya bisa dimanfaatkan jika pemerintah mempunyai master plan yang jelas terkait dengan pembangunan industri nasional.

Prioritas industri yang dikembangkan dilakukan dengan membaca potensi kandungan lokal dari produk yang dihasilkan. Kualitas sumber daya manusia dan inovasi yang dilakukan industri bersangkutan juga menjadi kunci bagi pemanfaatan peluang dari perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Apergis et al., (2009) menyebut human capital atau modal manusia menjadi kunci bagi riset dan pengembangan di banyak industri di Eropa yang menyebabkan munculnya produk dan proses bisnis baru.

Perang Mata Uang

Produk dan proses bisnis baru ini hasil dari inovasi industri. Indonesia saat ini sedang dalam tahap awal untuk memfasilitasi inovasi yang dilakukan perusahaan atau lembaga riset dan perguruan tinggi agar menjadi prototipe dan produk komersial. Beberapa kota di Indonesia mengoptimalkan techno park dengan melakukan riset dan pengembangan bagi perusahaan atau individu dan lembaga yang melakukan inovasi.

Apakah sudah ada hasilnya? Beberapa embrio produk yang merupakan hasil inovasi sudah mulai dipasarkan. Contohnya produk industri yang dihasilkan Solo Techno Park sebagai hasil inovasi. Pola seperti ini harus terus dikembangkan untuk memperkuat industri nasional.

Pemerintah Indonesia juga harus menyadari bahwa kekhawatiran utama pada pengambilan kebijakan dan pelaku usaha di Asia adalah jika perang dagang berlanjut menjadi perang mata uang. Perang mata uang yang dimulai dari usaha pemerintah Tiongkok melemahkan yuan untuk menjaga daya saing ekspor mereka bisa berdampak buruk bagi Indonesia.

Dampak pertama adalah pelemahan kurs rupiah. Pelemahan kurs rupiah jelas berimplikasi pada banyak hal, peningkatan biaya produksi beberapa produk yang bahan baku dan bahan mentahnya dari impor, beban utang luar negeri pemerintah meningkat, dan risiko keuangan juga meningkat.

Dampak berikutnya adalah pelemahan yuan menyebabkan produk dari Negeri Tirai Mambu tersebut semakin murah. Hal ini menyebabkan produk dari Tiongkok bisa semakin membanjiri pasar lokal sehingga menyebabkan produk lokal tersingkir karena lebih mahal. Jika hal ini dibiarkan bisa mengganggu keberadaan industri dalam negeri.

Tantangan terkait dampak perang dagang ini harus diatasi dengan kombinasi kebijakan moneter yang berhati-hati, kebijakan fiskal yang dinamis, serta kebijakan industri yang implementatif. Bank Indonesia sudah mempersiapkan instrumen kebijakan untuk mencegah dampak buruk perang dagang dan melemahnya yuan. Pemerintah Indonesia harus segera memperbaiki dan memperkuat kebijakan untuk membangun iklim bisnis yang mendukung perkembangan industri nasional.

Kolom 10 hours ago

Puser Parto