Isu Bank Mandiri Bangkrut, Begini Faktanya di Pasar Modal

Nasabah melakukan transaksi top-up saldo e-money melalui mesin khusus e-money di salah satu cabang Bank Mandiri, di Jakarta, Senin (10/6 - 2019). (Bisnis/Nurul Hidayat)
15 Agustus 2019 21:30 WIB Stefanus Arief Setiaji Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Manajemen PT Bank Mandiri Tbk membantah terkait dengan isu kebangkrutan dan diambil-alih oleh investor China. Bank pelat merah itu memastikan masih memiliki aset yang sehat dan kuat.

Di tengah isu tersebut, seperti apa sebenarnya fundamental bank berkode saham BMRI itu dan pengaruhnya di pasar saham dalam negeri? Head of Research Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe mengatakan isu tersebut tak membuat pelaku pasar lari dari saham Bank Mandiri.

Hal itu dikarenakan isu yang dilemparkan tersebut hanya hoaks semata sehingga kebenarannya tidak bisa dibuktikan ke publik.

"Itu hoaks semata, tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Apalagi saham Bank Mandiri kinerjanya di atas pertumbuhan industri perbankan. Jadi pelaku pasar tak memusingkan hal itu," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/8/2019).

Dia berpandangan kinerja emiten perbankan  tumbuh dengan baik selama semester I/2019. "Dengan growth yang bagus, terlihat dari net profit dan pendapatan yang bagus dan sehat. Jadi tak perlu memusingkan, kinerja perbankan bagus, yang akhirnya berdampak baik bagi pelaku pasar yang memegang saham perbankan, khususnya Bank Mandiri," jelas dia.

Kinerja yang cukup moncer, Kiswoyo memberikan rekomendasi untuk para pelaku pasar membeli saham Bank Mandiri. Pasalnya, harga saham Bank Mandiri bisa mencapai posisi Rp8.200 per saham, dari posisi yang ada saat ini sebesar Rp7.350 per saham.

"Maka dari itu, ini sangat menarik bagi pelaku pasar untuk memburu saham bank Mandiri. Bank Mandiri itu bisa mencapai Rp8.200 per saham, karena harga wajarnya di posisi itu. Lalu ada lagi BNI di harga Rp11.000 per saham, BRI di harga Rp4.600 per saham, dan BCA Rp32.000 per saham," jelas dia.

Sebagaimana diketahui, Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menyatakan bahwa permasalahan yang terjadi pada sistem teknologi information bank tersebut beberapa waktu lalu sudah diatasi secara menyeluruh. Bank Mandiri telah meningkatkan sistemnya agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Bank Mandiri, lanjut Rohan, merupakan Bank milik pemerintah terbesar di Indonesia dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia Dengan kondisi ini, tidak mungkin segala kejadian tidak dimonitor dan diawasi oleh kedua institusi tersebut.

"Sebagai Bank BUMN terbesar di Indonesia, kami memiliki rencana bisnis jangka panjang dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami optimistis, stakeholder maupun shareholder [pemegang saham] memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap  Bank Mandiri, sebagai bank yang cocok sebagai tempat berinvestasi, dan kami akan menjaga kepercayaan tersebut."

Sumber : Bisnis/JIBI

Kolom 10 hours ago

Puser Parto