Kuliah Umum Antiradikalisme di UNS, Menhan: 18% Mahasiswa Setuju Khilafah

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (Antara/I.C.Senjaya)
14 Agustus 2019 08:00 WIB Tamara Geraldine Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menegaskan pentingnya kalangan perguruan tinggi dalam mencegah masuknya paham radikalisme. Kampus diyakini sebagai pintu penting untuk menerima atau menangkal paham radikal.

“Generasi muda, khususnya pada kalangan mahasiswa perlu adanya materi ini. Para mahasiswa ini merupakan golongan yang masih dalam tahap pencarian jati diri masing masing,” kata Ryamizard di akhir kegiatan kuliah umum di halaman Gedung Rektorat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (13/8/2019).

Ryamizard memberikan sejumlah materi mengenai paham radikalisme bagi mahasiswa baru. Materi tentang radikalisme dan bela negara tersebut diberikan agar mahasiswa berkontribusi dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Saya minta agar mahasiswa agar tidak ikut terpengaruh dengan paham-paham yang keliru. Saya berharap ke depan ada materi khusus perkuliahan mengenai wawasan kebangsaan. Materi ini diberikan tanpa doktrin yang bisa memicu perpecahan. Virus radikalisme mulai masuk ke beberapa sektor pendidikan,” ujarnya.

Berdasarkan survei kata dia, sekitar 18% mahasiswa ternyata setuju dengan khilafah sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibandingkan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, simpul Ryamizard, survei itu menunjukkan terbukanya potensi berkembangnya paham radikalisme dan terorisme terhadap kalangan muda sehingga perlu dilakukan antisipasi secara dini.

“Antisipasi sejak dini perlu dilakukan dengan pendekatan yang sistemik dan strategis melalui jalur dialog dan edukasi. Paham radikalisme harus dicegah bersama,” tegasnya.

Menurut dia, pencegahan diri dari praktik radikalisme dan negatif lainnya bisa dilakukan dengan penguatan kegiatan edukatif berbasis Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Tidak kalah penting, tambah dia, hubungan baik harus terus terjaga di kalangan kampus, baik antara senior dan junior, alumni, organisasi, serta orang tua mahasiswa. Dengan kerukunan dan solidaritas kebangsaan terbangun antarsemua elemen, kata dia, paham radikalisme tidak akan bisa dengan mudah masuk ke kalangan muda, termasuk mahasiswa.

“Segala bentuk provokasi dan isu negatif sekecil apapun yang muncul harus segera diredam dan diluruskan. Ini peran kampus untuk melakukan antisipasi secara dini. Pada jaman perkembangan teknologi informasi yang pesat juga menjadi sarana penyebaran paham radikalisme,” katanya.