Dedikasi Keilmuan ala Mbah Moen

Ajie Najmuddin - Istimewa
12 Agustus 2019 09:22 WIB Ajie Najmuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/8/2019). Esai ini karya Ajie Najmuddin, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Solo dan aktif di Komunitas Gusdurian Solo. Alamat e-mail penulis adalah ajienajmuddin87@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Masih belum lekang dari ingatan, pada pertengahan Juli lalu saya mewawancarai K.H. Maimoen Zubair yang kala itu hadir sebagai penceramah dalam acara yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo.

Mbah Moen (baca: Mun), begitu sapaan akrabnya, menjawab satu demi satu pertanyaan yang saya ajukan. Sekitar tujuh menit kami berbincang-bincang dan akhirnya terhenti karena Mbah Moen harus naik ke panggung untuk memberikan tausiah.

Dalam ceramah kala itu, Mbah Moen berpesan tentang mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan bangsa. Ia juga berpesan agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ulama yang wafat pada usia 91 tahun tersebut hampir di setiap kesempatan ketika berceramah menyampaikan tentang fakta-fakta penting sejarah perjuangan bangsa dan pentingnya menjaga persatuan.

Hal ini tentu sangat penting karena kehadiran sebagai ulama karismatik menjadi sosok pemersatu umat.  Wejangan Mbah Moen untuk  menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus menjadi pegangan ampuh, khususnya bagi umat Islam, untuk membendung kelompok yang ingin mengganti asas dan dasar negara Indonesia dengan kedok agama.

Dalam kesempatan lain yang saya ikuti, Mbah Moen menegaskan tiga bentuk persatuan (ukhuwah) sebagaimana juga yang pernah disampaikan Rais Am Syuriah Nahdlatul Ulama (1984-1991) K.H. Ahmad Shiddiq. Pertama, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Kedua, ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa [Indonesia]). Ketiga, ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan-universal).

Kemanusiaan

Inilah resep penting dari para ulama untuk menjaga persatuan bangsa karena di atas seluruh kesetiaan pada agama dan negara, ada nilai tertinggi yang harus tetap dijaga: kemanusiaan. Hubungan persaudaraan yang dilandasi kemanusiaan merupakan kunci dari semua persaudaraan, terlepas dari status agama, suku bangsa, atau sekat geografis, karena nilai utama dari persaudaraan adalah kemanusiaan.

Hal ini mengingatkan kembali pada sahabat Ali bin Abi Thalib yang mengatakan dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan. Artinya kemanusiaan adalah nilai tertinggi dalam posisi sebagai manusia.

Wejangan akan persatuan bangsa tersebut barangkali juga tertanam sejak lahir. Mbah Moen dilahirkan di Sarang, Rembang, Jawa tengah, bertepatan dengan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sebuah momen persatuan masyarakat Indonesia untuk tidak terpecah-pecah karena perbedaan.

Hal tersebut tentu tidak sekadar kebetulan, namun tentu juga didukung latar belakang pendidikan yang ia terima. Mbah Moen adalah putra Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan fakih. Ayahnya merupakan murid Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky. Selepas mengaji dari ayahnya, ia meneruskan mengaji di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Marzuki.

Belajar Sepanjang Hayat

Mbah Moen kemudian belajar di Mekkah pada usia 21 tahun. Di Tanah Suci, Mbah Moen mengaji kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly, dan beberapa ulama lainnya.

Maimoen muda juga mengaji kepada beberapa ulama di Jawa. Beberapa di antara mereka adalah Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain.

Selepas menyantri di berbagai tempat, Maimoen muda mengabdikan diri dengan mengajar di Sarang, Rembang, tanah kelahirannya. Pada 1965, Mbah Moen kemudian istikamah mengembangkan Pesantren al-Anwar di Sarang. Pesantren ini hingga saat ini masih menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Setiap tahun pesantren ini menerima dan meluluskan ribuan santri yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Bila diamati dari proses hidup, hampir seluruh hidup Mbah Moen didedikasikan untuk belajar dan mengajar.

Kebaikan bagi Sesama

Kiai Maimoen juga menulis beberapa kitab, di antaranya kitab berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun, kitab yang memaparkan sejarah serta khazanah keilmuan berbagai tokoh ulama, khususnya yang berhubungan dengan proses dan dinamika pembaruan hukum Islam, mulai dari zaman sahabat hingga ulama yang hidup pada masa tahun 14 Hijriah. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab.

Hingga akhir hayat, 6 Agustus 2019, di Mekkah, Arab Saudi, Mbah Moen dikabarkan masih sempat menerima beberapa tamu yang biasanya dalam prosesi tersebut Mbah Moen menyelipkan beberapa wejangan-wejangan untuk senantiasa memberikan manfaat dan kebaikan kepada sesama, bahkan sekecil apa pun yang bisa kita perbuat.

Pernah suatu ketika saya mendengarkan ceramah Mbah Moenn tentang hal ini. Hal yang masih saya ingat adalah,”Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa mengganggu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju surga. Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif-ba'-ta' kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariah untukmu yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu. Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti, setidaknya itu menjadi sedekah untuk dirimu.