Kawruh Nasi Goreng

Heri Priyatmoko - Dokumen Solopos
08 Agustus 2019 09:36 WIB Heri Priyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (3/8/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan penulis buku Keplek Ilat. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Di rumah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jl. Teuku Umar, Jakarta, pada Rabu (24/7), sepiring nasi goreng sanggup mendinginkan suhu politik yang memanas.

Dalam pertemuan antara Megawati dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto itu suasana penuh kegembiraan, tawa pecah, dan raut muka semringah. Dalam kesempatan itu Megawati menuturkan kisah tentang Prabowo yang gandrung dengan nasi goreng buatannya.

Nasi goreng masuk ke arena politik. Nasi goreng tak hanya ditempatkan di panggung kuliner. Dari kemeriahan berita nasi goreng ”politik”, sejak lama ada pertanyaan mengganjal: apakah nasi goreng merupakan variasi makanan belaka dan warisan orang Eropa yang tertinggal di dapur pribumi?

Dari sudut pandang sejarah lokal, terbuka pengetahuan baru tentang nasi goreng. Bermula dari masyarakat Jawa agraris yang menghargai tanaman padi. Lantaran sebagai makanan pokok sehari-hari dan hasil ekologi sawah, pantang bagi orang Jawa menyepelekan padi.

Butuh proses panjang yang melelahkan untuk menjadi nasi yang siap disantap. Saking meletihkan sekaligus menghargai proses itu, wong Jawa menghasilkan aneka terminologi yang sama sekali tak dipunyai orang Eropa.

Dalam bahasa Inggris, selarik istilah yang diciptakan orang Jawa hanya punya satu padanan yaitu rice. Mari kita deretkan aneka terminologi di masyarakat Jawa itu. Damen adalah batang tanaman padi. Pari ialah butir-butir tanaman padi yang masih melekat di tanaman.

Gabah merupakan pari yang telah dipanen dan dilepaskan dari batang. Kawul dipahami sebagai gabah yang masih kotor bercampur dengan kapak. Sedangkan kapak adalah gabah yang ditinggal kulitnya alias kopong.

Dewi Sri

Beras merupakan biji padi. Las ialah beras yang masih bercampur biji gabah (proses penggilingan tidak sempurna). Leri adalah air hasil cucian beras. Intip adalah nasi gosong yang ada di dasar penanak nasi. Istilah menir dimengerti sebagai gabah giling menjadi beras yang terlalu halus (tidak utuh satu biji).

Sega ialah nasi (bahasa Indonesia), beras yang berhasil dimasak dan ditanak. Karak adalah nasi aking atau nasi basi/nasi sisa yang dijemur hingga kering. Kenul merupakan lapisan di atas intip, jika dimakan sangat empuk dan kenyal.

Pemuliaan padi makin kentara dengan kepercayaan tradisional tentang dewi penjaga padi yang disebut Dewi Sri. Penduduk Sunda punya rangkaian perayaan untuk menghormati Dewi Sri. Masyarakat Baduy, Ciptagelar Kesepuhan Banten Kidul, Kampung Naga, Cigugur, Kuningan, dan berbagai komunitas tradisional Sunda lainnya menyelenggarakan upacara Seren Taun tiap setahun sekali.

Merujuk tradisi lisan, ritual tersebut ada sejak periode Kerajaan Sunda purba. Lewat ritual ini, warga mendoakan bibit padi yang hendak ditanam serta padi yang akan dipanen. Mereka menyanyikan pantun atau kidung seperti Pangemat dan Angin-angin.

Laiknya mantra, kidung itu bermaksud mengundang Dewi Sri agar memberkati bibit padi. Supaya petani sehat dan menangkal kesialan digelar upacara ngaruwat atau tolak bala. Masyarakat dilarang memakai arit atau golok untuk memanen padi, harus menggunakan ani-ani atau ketam, pisau kecil yang dapat disembunyikan di telapak tangan.

Wong Jawa memahami Dewi Sri atau Nyai Pohaci berjiwa halus dan lemah lembut. Dia akan murka (ketakutan) melihat arit atau golok sebagai senjata tajam besar. Ada kepercayaan padi yang hendak dipanen adalah perwujudan sang dewi, tidak boleh dibabat secara kasar, harus diperlakukan dengan lembut satu per satu.

Budayawan Sindhunata (2009) menguraikan petani Jawa mewujudkan penghormatan terhadap Dewi Sri tidak mandek pada ritual. Mereka membangun pasren yang dipahami sebagai rumah Dewi Sri. Tumbuh kepercayaan dalam batin petani Jawa bahwa kemurahan Dewi Sri membawa pengaruh pada keberhasilan panen padi dan kemakmuran hidup.

Menghormati Nasi

Dalam pasren dijumpai sepasang boneka Loro Blonyo yang menyimbolkan Dewi Sri dan Raden Sadana. Patung ini diwujudkan dalam bentuk paesan pengantin Jawa. Ada pedaringan untuk menyimpan beras, kendi, jlupak atau lampu minyak kelapa (dian), sepasang sewu atau robyong, serta kecohan, dan di atasnya diletakkan burung garuda.

Melihat perilaku budaya ini, wong tani mengajarkan pemahaman bahwa pari yang diolah menjadi nasi harus dihormati laiknya ”emas” alias tak boleh diremehkan. Karena itulah, sega wadang di pawon diolah menjadi nasi goreng, alih-alih dibuang.

Perbedaan nasi goreng orang Eropa dengan petani perdesaan di Jawa ialah nasi goreng ala petani perdesaan di Jawa tanpa bahan saus tomat yang diakrabi bangsa kulit putih di Hindia Belanda. Petani desa cukup menggoreng nasi dengan kecap dan nasinya agak berwarna putih, juga tanpa memakai telur mata sapi.

Ciri lainnya, gagang lombok terkadang diikutkan atau tidak dibuang. Bagi lidah Jawa, justru itu yang menambah kenikmatan. Merujuk sejarah lisan, nasi goreng sempat menghilang saat pendudukan Jepang. Masyarakat era itu mengalami kenestapaan hebat karena ekonomi yang karut-marut.

Saking menderitanya warga yang dibelit kemiskinan, hajatan dan sumbangan sebagai kegiatan sosial ditiadakan. Sampai muncul guyonan getir: bila mungkin, bagi perempuan yang sedang hamil kelahiran bayi sebaiknya ditunda dulu.

Realitas ini menggambarkan penderitaan menghidupi anak yang bakal lahir itu. Sekadar mencari bahan makanan serta pakaian saja sulitnya bukan main. Pemerintah penjajah Jepang memegang kendali atas distribusi bahan makanan dan pakaian untuk mendukung peperangan.

Busung Lapar

Padi yang ditanam petani dirampas paksa oleh Jepang. Harga pakaian menjulang di pasaran, tak mungkin dijangkau warga. Masa awal Jepang mengusai Solo, tak sedikit orang bergerombol di bibir jalan menjajakan barang bekas untuk membeli beras. Rupanya beras sukar diperoleh.

Masyarakat terpaksa mengonsumsi jenggi (kulit singkong yang direbus, dikeringkan, lalu dimasak kembali), gogik (nasi aking), ketela, dan makanan apa saja yang diperoleh kendati berkalori rendah. Lidah mereka juga mencicipi sayuran atau ketela yang digarami sebagai lauk.

Bisa menikmati nasi setiap hari adalah sesuatu yang mustahil. Akibatnya, penduduk pribumi menderita busung lapar. Kondisi kekurangan gizi ini berujung kematian para petani miskin di daerah Karanganyar, Wonogiri, dan Boyolali.

Di Jawa, produksi padi pada 1941-1944 melorot, tetapi hasil tanaman palawija meningkat. Pangkal persoalan produksi padi menurun gara-gara penduduk desa dimobilisasi ke organisasi paramiliter dan menjadi tenaga romusha. Di samping itu, tak sedikit lahan agraris ditanami tanaman kapas dan jarak. Tak ayal lahan sawah untuk padi menyusut. Berdasar studi Kurasawa (1996), pemerintah penjajah Jepang menganjurkan penduduk mengolah bahan nonberas seperti jagung, singkong, kedelai, dan palawija lain.

Lalu, muncul menu baru, misalnya ”roti asia” yang terbuat dari gula merah dan bekatul serta  ”bubur perjuangan” yang terbuat dari ubi jalar, singkong, dan bekatul. Menu baru lainnya adalah ”bubur asia raya”. Kala itu, nasi goreng hanya dinikmati kaum bangsawan yang berada di lingkungan istana. Kaum aristokrat juga menghemat persediaan beras, selain menghormati Dewi Sri. Nasi goreng menjadi menu yang masih disajikan di meja makan.

Kawruh nasi goreng bukan hanya menghamparkan kreativitas manusia, namun juga filosofi menghormati peluh petani. Bukan hanya urusan teknis, tapi juga nilai pengetahuan kuliner yang diwariskan seabad lebih. Nasi goreng tak hanya soal penambahan telur mata sapi atau jumlah lombok. Nasi goreng adalah pelajaran tentang tidak menyia-nyiakan bahan pemberian Gusti Allah sekalipun itu sisa nasi kemarin.