Jalan Panjang Gerakan Pembaruan

Mohamad Ali - Dokumen Solopos
07 Agustus 2019 09:15 WIB Mohamad Ali Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (2/8/2019). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Bulan Agustus tahun ini terasa sangat istimewa bagi bangsa Indonesia, negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Tiga peristiwa bersejarah terjadi secara beriringan dalam waktu berdekatan pada bulan ini.

Tanggal 8 Zulhijah yang bertepatan 9 Agustus 2019 adalah milad ke-110 Muhammadiyah menurut kalender Hijriah. Berselang dua hari, ada perayaan Iduladha (ibadah haji) pada 10 Zulhijah yang bertepatan 11 Agustus 2019, dan dipungkasi ulang tahun ke-74 kemerdekaan Republik Indonesia.

Tatkala tiga peristiwa besar dan bersejarah ini dirayakan hampir bersamaan, tentu bukan peristiwa biasa yang dibiarkan berlalu begitu saja. Di balik itu tentu mengandung pelajaran berharga yang patut direnungkan.

Secara hipotetis ada satu benang merah yang menghubungkan dan mendasari tiga peristiwa besar ini, yaitu dentuman besar yang menyuarakan gerakan pembaruan dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Seruan untuk menyegarkan kembali kehidupan beragama dan berbangsa saat ini sangat relevan. Terlebih bangsa Indonesia baru merampungkan hajatan demokrasi lima tahunan yang menguras energi bangsa. Eksperimen demokrasi melalui pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif secara serentak memunculkan benih-benih keretakan.

Bila tidak segera diatasi berpotensi mengancam kesatuan bangsa. Oleh karena itu, rangkaian perayaan tiga peristiwa bersejarah ini diharapkan dapat merekatkan kembali ikatan kebangsaan. Perlu ditandasakan bahwa pembaruan adalah suatu proses, cara, dan perbuatan memperbarui yang berlangsung terus-menerus sepanjang masa.

Dengan kata lain, dalam suatu gerakan pembaruan tidak mengenal kata final (akhir), yang ada adalah kata proses memperbarui diri (bangsa/agama) secara berkelanjutan. Ketika ia menemukan finalitas, maka sesungguhnya bukan lagi sebagai suatu gerakan pembaharuan, tetapi suatu gerakan tradisional.

Demikianlah, bila ditarik jauh ke belakang, awal kelahiran Muhammadiyah adalah suatu gerakan pembaruan agama dan sosial yang berupaya menggerakkan rakyat pribumi yang melarat, terbelakang, dan terjajah agar menjadi bangsa yang merdeka dan berkemajuan.

Oleh karena itu, resepsi milad Muhammadiyah harus dimaknai sebagai ikhtiar menggali kembali api (bukan arang) pembaruan Islam, yang pada urutannya dapat dijadikan suluh untuk menerangi perjalanan warga Muhammadiyah menggumuli masalah-masalah sosial yang di depan mata.

Searah dengan itu, perayaan Iduladha dilakukan dalam rangka menyegarkan kembali cara beragama. Memupus corak keberagamaan yang dipenuhi kebencian dan nafsu amarah (sifat-sifat kebinatangan) menuju suatu corak keberagamaan yang hanif dan tulus, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.

Keberagamaan Kosmopolitan

Dalam ibadah haji umat Islam diajak menaiki tangga menuju keberagamaan kosmopolitan seraya menanggalkan cara berpikir sempit, dangkal, dan egois. Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 juga mengusung pembaruan berbangsa dan bernegara.

Ini adalah suatu revolusi besar-besaran cara hidup bangsa terjajah berubah menjadi suatu negara yang merdeka seutuhnya. Sekarang ini kita telah memasuki tahun ke-74 menghirup udara kemerdekaan, tetapi cita-cita kemerdekaan yang seutuhnya masih jauh dari harapan.

Momentum perayaan kemerdekaan harus dimaknai sebagai usaha meluruskan kembali cita-cita kemerdekaan, yakni terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dentuman besar dalam bentuk kelahiran persyarikatan Muhammadiyah, proklamasi kemerdekaan Indonesia, maupun peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim merupakan titik awal yang kemudian dapat ditarik satu garis lurus menuju cita-cita luhur sebagai titik orientasi.

Cita-cita itu termanifestasi dalam bentuk tujuan akhir dari peristiwa awal itu.  Meskipun telah ditentukan tujuan sebagai orientasi gerakan, tetapi sepanjang roda kehidupan masih berputar sesungguhnya cita-cita itu tidak akan pernah tercapai.

Tugas sejarah yang harus dipikul oleh setiap generasi adalah terus berusaha menempuh jalan sedekat mungkin dengan garis lurus yang telah dibuat oleh para pendahulu dengan cara memberi isi, memaknai, dan mengaktualkan sesuai tuntutan zaman dan keadaan.

Kerangka berpikir itu terasa masih terlalu abstrak sehingga sulit dicerna dan dipahami. Salah satu cara mengurainya dengan menampilkan contoh konkret sebagai suatu ilustrasi. Tiga peristiwa bersejarah tersebut dapat menjadi ilustrasi, namun dalam kesempatan yang terbatas ini persyarikatan Muhammadiyah yang dipilih.

Pertama-tama Muhammadiyah harus dilihat sebagai suatu eksperimen gerakan pembaruan dalam Islam. Tesis ini dilontarkan kalangan analis sosial, seperti Geertz, Benda, Peacock, Taufik Abdullah, Deliar Noer, Alfian, Wertheim, dan Nakamura, untuk menyebut sejumlah nama terkemuka.

Dengan demikian, Muhammadiyah sebagai eksperimen gerakan pembaruan dalam Islam merupakan penilaian yang relatif objektif. Titik awal gerakan Muhammadiyah adalah detik-detik kelahirannya. Dari titik awal ini dapat ditarik garis lurus sedemikian hingga titik paling ujung, berupa cita-cita atau tujuan organisasi.

Garis lurus inilah yang disebut lintasan gerakan pembaruan. Persyarikatan Muhammadiyah berdiri pada 8 Zulhijah 1330 H (bertepatan 18 November 1912). Peristiwa berdirinya adalah titik awal garis gerakan pembaruan. Dari titik itu ditarik garis lurus sedemikian sampai titik akhir, berupa tujuan Muhammadiyah.

Berdasar dokumen sejarah, tujuan berdirinya Muhammadiyah ialah memajukan dan menggembirakan pelajaran dan pengajaran agama Islam dalam kalangan sekutu-sekutunya dan memajukan serta menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam.

Tidak Mengenal Titik Akhir

Bila kita telaah konsepsi di atas dapat diketahui bahwa tujuan berupa usaha memajukan dan menggembirakan pelajaran (pelajar) dan pengajaran (pengajar) serta kehidupan (cara hidup) yang sejalan dengan agama Islam adalah pekerjaan sepanjang zaman dan tidak akan pernah mengenal titik akhir.

Sampai di sini dapat dipahami rumusan atau konsepsi yang menyatakan  gerakan pembaruan, seperti halnya Muhammadiyah, memiliki lintasan atau jalan yang sangat panjang. Oleh karena itu, untuk mewujudkan cita-cita/tujuan yang telah dipancangkan diperlukan ribuan generasi yang membentuk rangkaian mata rantai gerakan yang tidak terputus.

Dalam perjalanan panjang meraih tujuan, sering kali suatu generasi menghadapi batu sandungan, sehingga mengalami disorientasi atau menyimpang dari garis lurus (lintasan) yang ditetapkan. Disorientasi terjadi ketika suatu generasi tidak memahami secara utuh titik awal (akar) maupun arah orientasi (tujuan) gerakan pembaruannya.

Untuk menjamin keberlangsungan suatu organasiasi sangat dibutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki kualifikasi ideolog. Sosok ini sering disebut sebagai kader atau lokomotif, yaitu sedikit orang yang mampu menggerakkan dan memberi arah ke mana haluan organisasi berjalan. Seorang ideolog bukan hanya memahami dengan tuntas akar (titik awal) dan tujuan (titik akhir) organisasi, tetapi sekaligus mampu memaknai, memberi isi, dan mengaktualkan haluan organisasi sesuai semangat zaman. Kualifikasinya sangat berat sehingga hanya sedikit orang yang mampu menjadi ideolog.

Lebih dari itu, seorang ideolog yang tangguh bukan hanya berperan sebagai penjaga kelangsungan organisasi, tetapi sekaligus seorang pembaru yang autentik. Mereka rela menderita, hidupnya bersahaja, dan bersedia mengorbankan keinginan pribadi untuk mewujudkan ide-ide besar yang menjadi cita-citanya.

Eksperimen gerakan pembaruan Muhammadiyah terus terjaga apabila pribadi-pribadi berkualifikasi ideolog tangguh ini terus muncul dan bersedia menjadi tulang punggung persyarikatan. Mereka lahir dari rahim sejarah, berjibaku dengan masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berdiri tegar laksana batu karang.

Peristiwa bersejarah yang kita peringati secara beriringan ini pada hakikatnya merupakan karya besar para ”ideolog” tangguh. Kiai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah, Nabi Ibrahim AS dengan peristiwa berkorban, dan Soekarno-Hatta dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Makna terpenting dari setiap peringatan peristiwa besar dan bersejarah adalah penggalian nilai-nilai agung yang menggerakkan peristiwa itu sendiri.

Nilai-nilai itu kemudian dijadikan pelita untuk menerangi kehidupan masa kini dan memberi arah dalam perjalanan menuju masa depan. Nilai-nilai agung di balik tiga peristiwa besar itu sangat gamblang, yakni semangat berintrospeksi dan pembaruan secara terus-menerus dalam kehidupan beragama dan bernegara. Nilai-nilai agung inilah yang menjadi modal utama melintasi jalan panjang dalam menggerakkan perubahan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.