Pelayan Kota

Suharno - Istimewa
06 Agustus 2019 10:00 WIB Suharno Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (1/9/2019). Esai ini karya Suharno, dosen di Program Studi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi, Kota Solo, Jawa Tengah.

Solopos.com, SOLO -- Pemilihan wali Kota Solo akan digelar pada 2020. Saat ini muncul 10 nama populer kandidat wali kota hasil survei Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo.

Mereka antara lain Achmad Purnomo, Teguh Prakoso, Gareng Sri Haryanto,  Gibran Rakabuming, dan Kaesang Pangarep. Kemunculan Gibran dan Kaesang  menjadi pembicaraan hangat sampai di tingkat nasional. Terlepas dari pro dan kontra Gibran atau Kaesang menjadi kandidat wali kota, ada yang menarik dari hasil riset  yang menunjukkan ada warga Kota Solo mendukung Gibran dan Kaesang. 

Dari hasil survei terungkap sebagian besar masyarakat menginginkan wali Kota Solo berlatar belakang pengusaha dan dari kalangan generasi milenial. Warga Solo ingin perubahan. Mereka ingin wali kota dan wakil wali kota dari kalangan muda. Generasi yang masih energik, dinamis, dan kreatif. Mereka ingin pemimpin yang belum terkontaminasi kepetingan politik dan kekuasaan dan memiliki idealisme yang kuat agar bisa menyejahterakan warga di tengah era digital yang penuh ketidakpastian.

Kalangan muda yang dimaksud tentu adalah generasi milenial. Siapkah generasi milenial menjadi pelayan kota? Saya sengaja menggunakan istilah ”pelayan kota” bukan ”pemimpin kota”. Kita hidup di negara demokrasi. Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Presiden, gubernur, wali kota, bupati sampai jajaran terbawah lurah/kepala desa adalah pelaksana keinginan dan kehendak rakyat alias pelayan. Wali kota adalah pejabat eksekutif setara dengan manajer perusahaan.

Tidak Membeli Kucing dalam Karung

Paradigma pelayanan masyarakat perlu kita tanamkan agar kita jernih dalam menentukan sikap dan pilihan saat pemilihan kepala daerah. Tidak membeli kucing dalam karung. Tidak berebut jabatan atau mendukung kandidat secara membabi buta dengan menghalalkan segala cara.

Kota Solo sebagai kota budaya kental dengan tradisi kepemimpinan feodal, namun bila gaya tersebut dipertahankan  pasti ditolak. Salah satu tokoh yang mengubah gaya kepemimpinan di Kota Solo adalah Joko Widodo. Bisakah harapan warga Solo mendapat wali kota dari generasi milenial terpenuhi? Saya optimistis bisa. Adakah generasi milenial Solo  yang siap dan terpanggil untuk melayani? 

Tahun 2020 akan terjadi alih generasi yang sangat menentukan arah Kota Solo. Ada tiga generasi yang akan bertarung  dalam pemilihan wali Kota Solo, yaitu generasi baby boomers, generasi X, dan generasi Y. Generasi baby boomers kini berumur 55 tahun-70 tahun. Wakil  Wali Kota Solo Achmad Purnomo, mantan Rektor UNS Ravik Karsidi, dan Ketua Kadin Solo Gareng S. Haryanto masuk katagori generasi baby boomers.

Karakteristik generasi ini sangat matang, orientasi dan visi hidup condong ke spiritual, memperbanyak ibadah, menjauhkan diri dari hiruk pikuk duniawi. Lebih suka momong anak dan cucu. Sangat cocok tampil sebagai penasihat. Generasi X berumur 40 tahun-55 tahun, mapan dan matang pada aspek kejiwaan dan spiritual, mampu mengambil keputusan lebih jernih dan objektif. Pejabat di Kota Solo masuk katagori generasi X. Saat ini sebagian besar telah memasuki masa pensiun.

Ketua DPRD Solo Teguh Prakoso dan akuntan publik Rachmad Wahyudi masuk dalam katagori ini. Generasi milenial atau generasi Y berumur umur 25 tahun-40 tahun. Mereka berpenampilan  informal, tidak terlalu suka diatur, berpikir dan bertindak spontan serta terbuka. Tingkat emosional masih labil,  namun mereka adalah cerdas dan kreatif, berpandangan dan berjaringan luas, tidak tersekat primordialisme dan nasionalisme secara sempit. Gibran, Kaesang, dan tokoh-tokoh muda Solo masuk dalam kategori generasi milenial.

Empat Alternatif

Pemilihan wali Kota Solo pada 2020 perlu mempertimbangkan perpaduan generasi. Sangat riskan bila wali kota dan wakil wali kota berasal dari generasi milenial saja. Ada empat alternatif yang bisa dikembangkan. Pertama,  generasi baby boomber dan generasi milenial. Kedua, generasi X dan generasi milenial. Ketiga,  generasi milenial didampingi generasi baby boomber. Keempat, generasi milenial didampingi generasi X. 

Pada alternatif pertama figur wali kota  karismatik dan berwibawa, namun kurang visioner dan kurang gereget. Perkembangan kota cenderung stagnan. Ada jarak komunikasi wakil wali kota dengan wali kota. Pada alternatif kedua bisa lebih harmonis dalam mengemban tugas. Secara psikologis  hubungan mereka tidak banyak kendala. Bisa saling mendukung dan saling mengisi. Hubungan keduanya seperti kakak dan adik. Gaya dan pola kerja mereka tidak jauh berbeda.

Pada alternatif ketiga adalah kombinasi yang terlalu dipaksakan. Rawan memunculkan rasa ewuh pekewuh serta perasaan canggung sebab junior membawahi senior. Figur wali kota di mata masyarakat dan birokrasi masih dipandang terlalu muda. Belum matang dan minim pengalaman.

Alternatif keempat agak riskan karena keduanya bisa kebablasan dalam mengambil langkah dan tindakan. Tingkat pengendalian emosi masih kurang. Bila mereka berdua kompak dan punya visi yang sama, akan berdampak positif pada kemajuan warga kota. Bila terjadi konflik, mereka  bisa pecah kongsi di tengah jalan. Masing-masing akan mempertahankan ego. Tidak ada yang mau mengalah. Roda pemerintahan tersendat. Saya tidak menampilkan dan  menjagokan orang tertentu. Tidak mengarahkan siapa yang akan jadi.

Masih banyak unsur yang menjadikan seseorang jadi atau tidak yaitu kendaraan politik. Ini sekadar membuka wacana. Semoga esai singkat ini  menjadi renungan kita bersama. Memilih wali kota atau wakil wali kota adalah memilih pelayan kota. Bukan memilih penguasa kota.