Luhut: Jangan Lupa New York Juga Pernah Mati Listrik

Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) saat mengunjungi Dermaga Jetty Samosir di kawasan Pantai Pasir Putih, Samosir, Sumut, Selasa (30/7 - 2019). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
05 Agustus 2019 22:45 WIB Juli Etha Ramaida Manalu Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- PT PLN menjadi sorotan publik setelah pemadaman listrik massal di Jawa Barat dan Jabodetabek sejak Minggu (4/8/2019) siang. Meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah atas kasus ini, pemerintah menyatakan kasus seperti ini juga pernah terjadi di negara-negara besar lain.

Menteri Koordinator Bidang Maritim (Menko Maritim) Luhut Pandjaitan mengingatkan bahwa insiden pemadaman listrik massal ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi pernah juga timbul di sejumlah kota-kota besar dunia seperti New York pada Juli lalu. Luhut mengatakan bahwa Presiden Jokowi sangat marah atas kejadian ini dan menurut Luhut hal tersebut wajar.

“Tapi jangan lupa New York juga pernah kejadian, Australia juga,” kata Luhut, Senin (5/8/2019).

Kejadian padamnya listrik massal di New York terjadi tepatnya di Manhattan pada 13 Juli 2019 lalu. Listrik kemudian baru mengalir kembali setelah padam selama 5 jam.

Melihat kejadian terakhir, Luhut menilai PLN harus dipimpin oleh sosok yang tak hanya mengerti terkait manajemen keuangan (finansial) tetapi juga memahami teknologi yang terkait di dalamnya.

Menurut Luhutm hal ini merupakan salah satu butir evaluasi yang disampaikan Presiden Jokowi terkait insiden padamnya listrik hingga berjam-jam di sebagian wilayah kerja sistem kelistrikan Jawa-Bali, berlangsung sejak Minggu (4/8/2019) sekitar pukul 11.50 WIB.

“Jadi, Presiden sudah memerintahkan evaluasi. Harus ada evaluasi mendasar,” ujar Luhut.

Menurut Luhut, hingga saat ini evaluasi dan audit terkait putusnya transmisi pada sirkuit utara Ugaran-Pemalang pada sistem Jawa Bali masih terus dikakukan. Audit ini pun rencananya akan melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Masih diaudit. Kita belum tidak bisa berandai-andai,” tambahnya.

Sumber : Bisnis/JIBI