Suksesi Solo 2020

Edy Purwo Saputro - Dokumen Solopos
04 Agustus 2019 06:00 WIB Edy Purwo Saputro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (29/7/2019). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Suksesi kepemimpinan di Kota Solo pada 2020 menarik dicermati karena mencakup kepentingan Kota Solo lima tahun ke depan (Harian Solopos edisi 26 Juli 2019). Catatan pentingnya adalah bagaimana persiapan para kandidat wali kota dan kandidat wakil wali kota mencuri waktu menjelang suksesi.

Hal ini penting karena sampai saat ini belum ada figur yang muncul ke permukaan atau setidaknya mencoba mencari simpati dari publik untuk persaingan suksesi wali Kota Solo pada 2020, padahal sisa waktu sangat pendek dan faktor lain yang penting dikaji adalah kejenuhan publik terhadap pesta demokrasi.

Dalam rentang tiga tahun terakhir masyarakat disibukkan dengan hajatan pesta demokrasi, yaitu pada 2018 ada pemilihan kepala daerah serentak, pada 2019 ada pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif, dan pada 2020 ada lagi pemilihan kepala daerah serentak. 

Ritme pesta demokrasi yang beruntun jelas memicu sentimen kemunculan golongan putih sementara di sisi lain ada kepentingan untuk menyukseskan pemilihan kepala daerah serentak, termasuk dalam suksesi di Kota Solo pada 2020. Pertimbangan ini juga seharusnya menjadi bahan kajian Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Setidaknya perlu ada strategi untuk meminimalisasi celah kemunculan golongan putih akibat kejenuhan berdemokrasi. Fakta banyak petugas dalam pemilihan umum 2019 yang meninggal harus dikaji untuk diminimalisasi. Jadi, ada banyak aspek yang menarik dicermati menuju suksesi di Kota Solo pada 2020.

Para kandidat wali kota dan wakil wali kota yang akan bertarung dalam suksesi wali Kota Solo 2020 dan juga KPU bisa mempersiapkan diri secara lebih baik demi kesuksesan suksesi di Kota Solo pada 2020 dan lahirnya kepemimpinan yang amanah

Jaminan 

Fakta lain yang juga tidak bisa diabaikan adalah harapan publik terhadap kepemimpinan di Kota Solo dalam lima tahun mendatang. Muncul harapan agar kepemimpinan mendatang mengakomodasi lintas generasi, yaitu generasi X dan generasi Y, tentu harus diapresasi.

Era masa depan memang penuh dengan digitalisasi dan modernitas sehingga e-government tidak bisa lagi diabaikan penerapannya. Selain itu, komitmen terhadap good governance juga semaksimal mungkin harus dilaksanakan sehingga prinsip transparansi dan aspek akuntabilitas menjadi wajib hukumnya, setidaknya untuk mereduksi korupsi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada rentang waktu lima tahun terakhir semakin banyak kepala daerah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan seolah-olah tiada jera. Jadi, sangatlah beralasan jika harapan utama untuk suksesi kepemimpinan di Kota Solo pada 2020 adalah terpilih figur yang jujur dan antikorupsi.

Identifikasi karakter dari figur penting untuk mendulang suara pada pemilihan kepala daerah serentak meski pada dasarnya hal ini menjadi faktor yang jamak muncul di setiap pesta demokrasi. Oleh karena itu, harapan terhadap figur yang merakyat/bersahaja, visioner, religiositas sebagai jaminan dari perilaku dan kepemimpinan, rekam jejak yang melatarbelakangi kesuksesan untuk bertarung di pemilihan kepala daerah serentak, dan penampilan seolah-olah menjadi komponen penting di balik siapa pun figur yang akan bertarung dalam suksesi wali Kota Solo pada 2020.

Fakta lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah menyosialisasikan figur dan membangun citra di hadapan publik sehingga dikenal dan tentu punya komitmen untuk memasarkan sehingga layak dijual untuk mendulang suara dalam suksesi wali Kota Solo pada 2020.

Tahapan sosialisasi, pembangunan citra, dan memasarkan figur petarung dalam pemilihan wali Kota Solo pada 2020 tidak bisa terlepas dari kepentingan eksistensi generasi milenial karena jumlah mereka kian meningkat dan berpengaruh signifikan dalam mendulang suara di pesta demokrasi.

Dalam pemilihan presiden 2019, generasi milenial mencari informasi kandidat di media sosial--iseng mencari dan aktif mencari--serta alternatif informasi kandidat di media cetak. Informasi pesta demokrasi terjabar di Whatsapp, Instagram, Facebook, Twitter, sedangkan informasi yang dicari oleh netizen atau generasi milenial yaitu visi  dan misi, kampanye, jadwal debat, dan tema debat (Saputro, 2019).

Oleh karena itu, kalau dalam pemilihan kepala daerah Kota Solo  ada debat kandidat wali kota tentu harus dipertimbangkan agar bisa menyasar semua kalangan, bukan hanya netizen atau generasi milenial.

Proaktif 

Belajar dari pemilihan presiden yang belum lama berlalu, yang menarik dicermati ada pemilih yang telah menentukan suara pada saat pendaftaran kandidat, setelah penetapan kandidat, sebelum debat kandidat, sehari sebelum hari pemungutan suaram, dan pada saat hari pemungutan (Saputro, 2019).

Hal ini harus menjadi pelajaran bagi siapa pun yang akan maju bertarung dalam pemilihan kepala daerah Kota Solo pada Solo 2020 sehingga bisa mempersiapkan diri dan tim sukses harus cermat membangun strategi sejak awal agar bisa mendulang suara terbanyak dan menang dengan suksesi kepemimpinan yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil; bukan dengan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif.

Catatan lain yang juga menarik dari pemilihan presiden untuk diperhatikan menuju pemilihan kepala daerah Kota Solo pada 2020 bahwa alasan pemilih ternyata beragam, misalnya figur kandidat, kesesuaian dan kecocokan dengan kandidat, aspek nasionalis dan religiositas, sinergi antara visi dan misi serta program kerja, penampilan kandidat, rekam jejak kandidat, komunikator dan narator serta hasil debat (Saputro, 2019).

Paparan di atas menjadi kunci sukses dalam pemilihan presiden yang bisa diakomodasi dalam pemilihan kepala daerah di Kota Solo pada 2020 sehingga siapa pun yang akan bertarung bisa mengidentifikasi sejumlah faktor di atas untuk dipetakan demi mendulang suara dan meraih kemenangan.