Memperbaiki Masa Lalu

Agus Wedi - Istimewa
03 Agustus 2019 19:00 WIB Agus Wedi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (30/7/2019). Esai ini karya Agus Wedi, mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Surakarta dan pengelola Serambi Kata. Alamat e-mail penulis adalah wediagus6869@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Jamak bahwa masa lalu punya kisah dan efek. Pada Jumat sore, 19 April 2019, saya dan rombongan mahasiswa Jurusan Ilmu Alqur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri Surakarta bergegas ke Bayt Alqur’an di Tangerang Selatan, Banten, untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

”Kita mau apa ke sana? Apa ada bocoran materi untuk kupersiapkan? HP-ku melayang untuk kegiatan ini. Apa cuma mau pindah tidur?” begitu pertanyaan teman saya. Saya diam. Tak bisa menjawab. Pertanyaan itu dari seseorang yang harus mengorbankan barang terdekat atau setidaknya dinamika kondisi rumah sosialnya.

Pada Subuh saya dan romongan sampai. Seusai salat, kami menata barang, beristirahat, dan kemudian melanjutkan kegiatan. Hari-hari di Bayt Qur’an seperti (hari) biasa di kampus, masuk kelas dan belajar dengan dosen baru dengan materi yang tak jauh dari materi di kampus. Perbedaan terasakan hanya di suasana: Solo dan pinggiran Jakarta.

Budaya pustaka teman-teman tetap hidup. Ada yang tiap malam membincangkan hasil pembacaan buku, menulis, mengomentari dinamika politik, ada yang curi-curi waktu merasakan belanja buku bekas di Blok M dan menemui saudara, atau ada yang sekadar merasakan suasana panas dan macet kawasan ibu kota negara dan kentalnya kopi Jakarta.

Suatu kali, Roanne van Voorst, seorang antropolog asal Belanda, penulis buku Tempat Terbaik di Jakarta (2018), mencicipi suasana Jakarta sambil melakukan kajian kritis tentang alam Jakarta. Roanne bisa memetakan dan menjelaskan perubahan-perubahan iklim warga kota serta ruang lingkup percaturan perpolitikan dan ekonomi Jakarta.

Setelah bertahun-tahun menghirup udara di pelbagai tempat di Jakarta, Roanne menyimpulkan Jakarta kota dalam kesesakan. Bukunya diberi judul hasil ledekan seorang anak pengamen di bus kota: Tempat Terbaik di Dunia. Pada 6 Mei 2019, saya dan teman-teman pulang. Kewajiban terbayar tuntas, meski ada perasaan bingung dan gelap.

Ibarat air yang dimasukkan ke ember terlalu banyak. Ember tak bisa menampung. Air tumpah ke tanah dan bisa jadi malah menghilangkan air itu. Masuk akal belajar dijadikan pengalaman. Upaya menggagas perubahan dalam program belajar mengajar, misalnya mencari tempat yang mudah, minim biaya, dan hasilnya memungkinkan bisa lebih terasakan, menjadi masalah penting yang sayangnya tak masuk dalam agenda.

Kini saya berada di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN), guna menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang juga menjadi salah satu syarat wajib dalam perkuliahan. Belakangan ini muncul perdebatan mengenai relevansi KKN pada era kini. Tidak sedikit yang menganggap KKN justru menjadi arena ”berbagi sumbangan”—yang dipelesetkan menjadi Kerja Kuliah Nyumbang—lantaran jauh dari hakikat yang sesungguhnya (pemberdayaan masyarakat).

Menyandang Tugas

Meski banyak kalangan yang menuturkan demikian, teman-teman saya tetap mengamalkan dengan sepenuh hati. Barangkali tersadar pernah diingatkan Rendra dalam puisi Sajak Seorang Tua untuk Istrinya: Kita menyandang tugas /, karena tugas adalah tugas //. Bukannya demi surga atau neraka //. Tetapi demi kehormatan seorang manusia//.

Sajak Rendra itu terjelmakan dalam PPL, KKL, dan KKN. KKN hampir rampung, rasa lega terasa, tetapi di tengah rasa itu saya dan teman-teman harus melunaskan persoalan yang tak selesai-selesai, dan yang tak diketahui, yakni pemenuhan kewajiban berkirim duit Rp100.000 untuk membayar uang buku yang (katanya) akan dicetak, yang saya dan teman-teman tulis sendiri.

Bayangkan, jika dari 57 mahasiswa membayar uang Rp100.000 dengan rata-rata per orang menghasilkan tulisan tiga lembar saja, berapa uang terkumpul dan berapa ongkos pembuatan buku itu? Jika tidak dibayar tentu ada konsekuensinya. Saya masih teringat saat berbagi pengalaman perihal literasi di berbagai tempat/sekolah di Jawa Tengah bersama teman-teman yang juga menghasilkan buku dengan kualitas sangat bagus.

Sejauh pengamatan saya, di kalangan mahasiswa memang ada kontradiksi. Ada yang berkarya/menulis sendiri dan harus berbayar mahal. Ada tulisan yang hanya mengambil dari Internet (tanpa sumber) lalu dijualbelikan. Kondisi demikian bisa memicu kerusakan ekosistem institusi, yang pada gilirannya membajak muruah akademisi.

Situasi ini bisa diubah. Seluruhnya tak harus mahal. Jalan terang perubahan hanya dapat dilakukan jika kita mau hadir dengan menyusun kebijakan dan penertiban peraturan. Kendati sulit, kita harus berikhtiar dan hanya karena itu yang menjadi prioritas utama.

Kita harus mengoreksi kesalahan dalam kesadaran. Sudah semestinya menuntaskan masa lalu demi terang masa depan. Siapa yang belajar dari masa lalu, dia akan bisa melampaui masa depan. Mengutip Karlina Supelli di Harian Kompas edisi 26 Juli 2003,”Karena masa lalu gagal menerangi masa depan, benak manusia mengelana di tengah kabut.” Kita tentu tak mau itu.