Daya Saing Rektor Asing

Ahmad Saifuddin - Istimewa
03 Agustus 2019 07:00 WIB Ahmad Saifuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/7/2019). Esai ini karya Ahmad Saifuddin, dosen IAIN Surakarta, psikolog pendidikan, dan Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PCNU Kabupaten Klaten. Alamat e-mail penulis adalah ahmad_saifuddin48@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, kembali melontarkan wacana tentang rektor asing. Wacana ini sebenarnya bukan wacana baru karena pernah dikemukakan pada 2016.

Saat ini Nasir kembali mengangkat wacana tersebut karena menilai kualitas pendidikan tinggi di Indonesia tidak ada perkembangan yang signifikan. Nasir menyoroti hanya ada sedikit perguruan tinggi Indonesia yang punya daya saing dunia, misalnya Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Ia menganggap daya saing perguruan tinggi di Indonesia harus ditingkatkan. Sebagai salah satu upaya untuk mencapai daya saing dunia tersebut adalah merekrut akademisi asing untuk dijadikan rektor. Ide ini bercermin dari beberapa perguruan tinggi di luar negeri yang daya saingnya meningkat tajam ketika dipimpin oleh rektor asing.

Tujuan penting untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi Indonesia di kancah internasional memang sudah saatnya diupayakan, tetapi wacana mendatangkan akademisi asing dan diangkat sebagai rektor perlu peninjauan ulang. Setidaknya ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan terkait wacana tersebut.

Mikrosistem dan Makrosistem

Pertama, proses pendidikan dipengaruhi banyak faktor. Proses pendidikan terkait dengan mikrosistem (perguruan tinggi itu sendiri) dan makrosistem (kebijakan pemerintah dan budaya). Apakah perguruan tinggi yang sukses dipimpin rektor asing tersebut merupakan suatu fenomena yang bisa digeneralisasi ke seluruh perguruan tinggi?

Proses pendidikan berkaitan dengan banyak faktor, bukan hanya rektor. Faktor lain misalnya etos, kebijakan, dan kepribadian setiap pihak yang menjalani proses pendidikan tersebut. Semua itu juga turut memengaruhi proses pendidikan.

Rektor asing sebagai salah satu faktor bisa saja tidak berpengaruh jika tidak disertai pembenahan di sektor lainnya, baik di sektor mikrosistem maupun makrosistem. Kedua, kesiapan dipimpin rektor asing.

Kesiapan ini sangat terkait dengan sumber daya dan karakteristik setiap pihak yang terlibat dalam proses pendidikan di perguruan tinggi. Muncul permasalahan baru apabila pihak-pihak tersebut belum siap dipimpin rektor asing.

Pemerintah memang memiliki otoritas atau wewenang untuk menciptakan kebijakan, tetapi perlu dipahami bahwa kebijakan hendaknya muncul dari kajian yang komprehensif dan seminimal mungkin mengandung unsur paksaan.

Berbagai kemungkinan kesulitan yang muncul dan dihadapi oleh berbagai pihak dalam perguruan tinggi ketika dipimpin rektor asing harus diantisipasi untuk menghindari munculnya permasalahan baru.

Menginternalisasi Kelebihan

Ketiga, rektor asing hendaknya tidak memunculkan pola pikir dikotomi dan perasaan inferior. Persepsi semacam ini perlu diantisipasi karena terkait dengan rasa percaya diri. Apakah benar-benar tidak ada akademisi Indonesia yang mampu mendongkrak daya saing perguruan tinggi ketika menjadi rektor?

Pasti sebenarnya ada, apakah kompetensi dan kapasitasnya belum optimal sehingga perlu dioptimalkan? Dengan demikian, apabila memang kompetensi para akademisi tersebut dapat dioptimalkan dengan beberapa strategi, akan lebih baik mengadakan program demikian.

Dikotomi tentang ”asing” lebih maju dan ”diri sendiri” seolah-olah tidak lagi memiliki kapasitas perlu dihindari. Stereotip semacam ini berpotensi memunculkan rasa inferior masyarakat Indonesia. Perasaan inferior bisa menyebabkan karakter masyarakat Indonesia melemah.

Keempat, pendidikan berkaitan dengan tipe kepribadian dan kebudayaan. Setiap masyarakat di berbagai belahan dunia memiliki tipe kepribadian, pola pikir, dan kebudayaan yang berbeda-beda. Ketika ada suatu stimulus yang sama, ada kemungkinan banyak bentuk respons dari berbagai budaya dan kepribadian.

Begitu pula tentang rektor asing. Bisa jadi di suatu negara, rektor asing menjadi stimulus yang bisa memunculkan perilaku positif sehingga mampu menaikkan daya saing secara signifikan. Di negara lain rektor asing bisa jadi tidak mampu menjadi stimulus untuk memodifikasi perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan di perguruan tinggi.

Memodifikasi Pola Pikir

Maka dari itu, rektor bukan faktor tunggal dalam upaya meningkatkan daya saing perguruan tinggi. Dengan demikian, jauh lebih penting untuk memodifikasi pola pikir dan perilaku setiap pihak yang terlibat dalam perguruan tinggi sehingga mampu mengubah iklim akademis. Pada akhirnya, daya saing yang tinggi bisa dicapai.

Kelima, potensi kesenjangan. Andaikan rektor asing berhasil meningkatkan daya saing perguruan tinggi di Indonesia, maka rektor asing semakin mendapatkan ruang di perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut bukan tidak mungkin digeneralisasi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Kondisi tersebut nantinya akan berpotensi memunculkan kesenjangan antara akademisi asing dengan akademisi Indonesia. Akademisi asing memang memiliki kelebihan yang bisa jadi tidak dimiliki akademisi Indonesia, tetapi kelebihan tersebut bukan berarti membuat kita harus menyisihkan akademisi Indonesia.

Kelebihan akademisi asing bukan berarti tidak bisa ditiru. Hal yang lebih penting untuk dipikirkan adalah tentang cara menginternalisasi kelebihan akademisi asing ke dalam diri akademisi Indonesia sehingga mampu meningkatkan daya saing pendidikan Indonesia di kancah internasional.

Berdasarkan berbagai penjelasan tersebut, wacana mempekerjakan  rektor asing hendaknya ditinjau ulang dan didasarkan atas kajian yang komprehensif. Jangan sampai kebijakan yang diciptakan dan diterapkan memunculkan masalah baru karena hanya mempertimbangkan satu aspek dan tanpa kajian mendalam.