Bom Bangkok Thailand Saat Menlu Retno Ikut Pertemuan Zona Bebas Nuklir

Petugas khusus bahan peledak memeriksa ledakan bom di Bangkok, Jumat (2/8 - 2019). (Reuters/Soe Zeya Tun)
02 Agustus 2019 16:55 WIB Hadijah Alaydrus Internasional Share :

Solopos.com, BANDUNG -- Di tengah serangan bom di Bangkok, Thailand, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diketahui ikut menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Asean dan AS yang membahas mengenai zona bebas senjata nuklir di Bangkok.

Dari akun Instagram, Retno mengunggah keberadaannya di tengah acara Pertemuan Tingkat Menteri tersebut tiga hari lalu, Rabu (31/08/2019).

Sayangnya, Kementerian Luar Negeri hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait keberadaan dan kondisi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Bangkok, Thailand.

Pihak kepolisian Thailand juga belum menemukan motif dan sasaran dari peledakan bom tersebut.

Seperti diketahui, Jumat (02/08/2019) tepatnya pukul 07:00 WIB dan 09:00 WIB, tiga bom rakitan meledak di pusat kota Bangkok. Menurut situs berita lokal, thethaiger.com, ledakan pertama terjadi di Chaengwattana Government Center dan menimbulkan kebakaran.

Sementara itu, ledakan kedua terjadi di lapangan parkir depan Gedung Mahanakorn dekat stasiun BTS Ching Nong Si. Ledakan ketiga terjadi di toko bunga kecil yang terletak di bawah jalan yang menghubungkan stasiun BTS dengan gedung Mahanakorn. 

Malam kemarin,  Kamis (01/08/2019), paket mencurigakan ditemukan di Kantor Kepolisian Pusat Royal Thai. Paket yang diduga bom tersebut berhasil diamankan. 

Hingga saat ini, kepolisian Thailand  belum mengetahui keterkaitan antara ledakan pagi ini dan paket mencurigakan tersebut. Sejauh ini, korban luka akibat ledakan bom diketahui tidak signifikan. Korban luka a.l. dua petugas kebersihan dan satu petugas keamanan. 

Pihak kepolisian meminta warga tidak panik. Namun, warga diharuskan tetap waspada.

Pertemuan antara menteri luar negeri ASEAN dan AS merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri ASEAN dan Mitra Wicara ASEAN yang diselenggarakan pada 30 Juli - 2 Agustus 2019.

Berdasarkan rilis Kementerian Luar Negeri, Menlu Retno menekankan tiga hal.

Pertama, Indonesia mengapresiasi kehadiran Menlu Pompeo dalam pertemuan. Hal ini menunjukkan komitmen AS dalam memperkuat kerja sama dengan ASEAN.

Kedua, Indonesia menyampaikan bahwa dunia dipenuhi dengan ketidakpastian dan lebih banyak tantangan yang harus dihadapi bersama. Untuk mengatasi situasi tersebut, Indonesia berpendapat bahwa tidak ada cara lain bagi kita, bagi ASEAN dan AS untuk meningkatkan kerjasama untuk menjadikan dunia menjadi lebih baik bagi semua.

ASEAN Outlook mengenai Indo-Pacific akan menjadi pemandu dan alat bagi ASEAN  untuk berkontribusi menciptakan perdamaian kawasan dan dunia.

Ketiga, Menlu Retno menyampaikan mengenai isu Palestina. “Isu Palestina sangat dekat di hati masyarakat Indonesia," kata Menlu Retno.

Dengan kapasitas yang dimiliki AS, Indonesia berharap AS dapat membantu Palestina dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan mewujudkan impian Bangsa Palestina untuk merdeka, berdasar penyelesaian dua negara.

Sumber : Bisnis/JIBI