Kisah Unik Pria Tulungagung Jalan Mundur ke Jakarta Demi Ikut Upacara Bendera 17 Agustus

Medi Bastoni, 43, yang berjalan mundur menuju Jakarta sampai di Jl. Raya Sukowati, Ngolorog, Sragen, Selasa (30/7/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
31 Juli 2019 00:15 WIB Moh Khodiq Duhri Nasional Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Aksi yang dilakukan Medi Bastoni, 43, warga Tulungagung, Jawa Timur, ini tergolong unik dan nekat. Dia berjalan kaki menempuh 866 kilometer (km) dari kampungnya ke Jakarta agar bisa ikut Upacara Bendera 17 Agustus di Istana Negara.

Namun bukannya berjalan maju layaknya orang normal, Medi berjalan mundur. Perjalanan menuju Jakarta itu dimulai Medi pada 18 Juli lalu.

Pada Selasa (30/7/2019) pagi, Medi tiba di kawasan kota Sragen. Malam sebelumnya, dia menginap di kompleks Makoramil Ngrampal.

“Pukul 05.30 WIB, saya melanjutkan perjalanan. Biasanya saya melanjutkan perjalanan pukul 01.00 WIB karena jalanan sepi, tapi karena masih menunggu pakaian kering, saya agak kesiangan berangkatnya,” ucap Medi kala berbincang dengan Solopos.com di pinggir Jl. Raya Sukowati Sragen, tepatnya di kawasan Nglorog.

Awalnya, Medi berangkat dari Tulungagung menuju Jakarta seorang diri. Ramainya lalu lintas menjadi kendala dia di jalan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti tertabrak kendaraan, Medi kerap kali memilih turun dari aspal dan berjalan di pinggir jalan dengan permukaan tanah dan berbatu.

Keputusan itu harus dibayar mahal. Karena melintasi tanah berbatu, kaki ayah empat anak ini sempat cedera.

“Kaki saya bengkak sesampainya di Saradan [Madiun]. Saya lalu menghubungi keluarga di rumah. Kebetulan ada teman yang juga punya hobi sama [naik gunung] menyusul saya dengan naik kendaraan. Kebetulan dia punya keahlian dalam urut otot atau pijat. Setelah saya sembuh, kami melanjutkan jalan kaki,” jelas Medi.

Teman Medi itu bernama Agus Susanto. Agus dan Medi sama-sama berangkat menuju Jakarta dengan jalan kaki. Bedanya, Agus tidak berjalan mundur seperti halnya Medi.

Saat berjalan menuju Jakarta, Medi dan Agus sama-sama membawa bendera merah putih. Untuk menunjang keamanan, Medi melengkapi diri dengan kaca spion supaya ia bisa melihat situasi di belakangnya.

Kaca spion itu terpasang di kerangka pipa yang ia rakit sendiri. Pipa yang sudah dipasangi spion itu diikat pada tas ransel yang ia gendong. Sementara Agus Susanto bertugas mengawal Medi dengan cara membantu mengarahkan jalannya.

Selain ingin mengikuti upacara bendera di Istana Negara, Medi juga berharap bisa bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat bertemu Jokowi, dia hanya ingin meminta bibit pohon yang akan ia tanam di lereng Gunung Wilis di Tulungagung.

“Kebetulan sekarang lagi digalakkan program reboisasi. Jadi, saya ingin bibit pohon pemberian Pak Jokowi itu jadi ikon reboisasi. Ini sekaligus menjadi ajang untuk mengedukasi generasi muda terkait pentingnya kegiatan penghijauan,” ucap Medi.

Medi mengaku mendapat dukungan penuh dari istri dan empat anaknya. Dia tidak khawatir keluarganya tidak bisa makan saat ditinggal jalan kaki menuju Jakarta.

“Di rumah sudah ada usaha yang bisa dijalankan oleh istri saya. Ada usaha warung makan, warung kopi, dan pom mini,” jelas Medi.

Medi hanya membawa bekal Rp850.000 dari rumah. Beruntung, selama di perjalanan ia banyak dibantu komunitas masyarakat. Bagi Medi, ini adalah kali ke-18 dia menjalankan aksi jalan kaki mundur untuk mengikuti upacara bendera.

Tradisi itu sudah ia mulai saat presiden dijabat oleh Megawati Soekarnoputri. Bedanya, aksi sebelumnya ditempuh dengan jarak yang tidak terlalu panjang.

“Sementara ini berjalan aman-aman saja. Sempat khawatir di jalan nanti dicegat preman. Tapi, syukur sampai sekarang tidak ada. Pernah ketemu rombongan anak punk, tapi mereka malah membantu saya,” terang Medi.