Pembenahan Sepak Bola Harus dari Hulu hingga Hilir

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
28 Juli 2019 21:24 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (22/7/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- ”Coba tunjukkan kepada saya, mana tim [sepak bola] di Indonesia yang bersih?” kata seorang kenalan dalam sebuah obrolan suatu siang beberapa waktu lalu.

Nadanya lirih, seolah-olah tidak ingin didengar orang selain saya. Bernada pelan tapi pertanyaan itu terasa menusuk. Kenalan baru saya itu mantan manajer sebuah klub di Liga 2 Indonesia. Musim lalu ia menangani salah satu klub yang menjadi sorotan karena kasus pengaturan skor pertandingan. Meski baru berusia 30-an tahun, ia cukup lama malang melintang dalam menangani klub sepak bola profesional di Indonesia.

Omongannya sangat meyakinkan. Ia sangat fasih menjelaskan tentang regulasi sepak bola Indonesia. Ia juga sangat paham seluk-beluk mengelola klub sepak bola dari level amatir hingga profesional. Dua level sepak bola Indonesia itu, menurut kenalan baru saya itu, penuh suap dan korupsi.

”Semua tim bermain kotor. Tahun ini tim ini, tahun kemarin tim itu, besok tim yang lain. Begitu seterusnya,” kata kawan baru saya itu sebelum saya sempat menanggapi secara utuh pernyataan pertama. Meskipun bukan informasi baru, tetap saja saya terhenyak. Belakangan setelah pertemuan kami, saya berselancar di dunia maya untuk mengecek informasi latar belakang laki-laki muda tersebut. Data di Internet menunjukkan nama dia memang tercatat di sejumlah klub sepak bola di Indonesia. 

Kawan baru saya itu beralasan sebagai manajer klub dirinya punya kewajiban memberikan hasil terbaik bagi ribuan suporter pendukung. Terbaik bagi suporter berarti kemenangan. Karena itulah, kata dia, pola pikir yang ada di kepala setiap manajer tim adalah bagaimana klub yang dikelola meraih kemenangan.

Jika tim menang, stadion sesak. Stadion sesak berarti pundi-pundi uang di kantor klub penuh. Itu artinya gaji pemain lancar. Jika gaji pemain lancar, mereka bersemangat menyajikan permainan terbaik di pertandingan-pertandingan berikutnya. Begitu seterusnya.

Sepak bola adalah hiburan. Begitu kata dia. Jika penonton terhibur, mereka tidak ragu untuk membeli tiket. Bagaimana menghibur jika tim yang mereka tonton kalah. Karena itulah, bagaimana pun caranya ditempuh agar tim menang.

Seni Manajemen Klub

”Di sinilah seninya,” kata dia sembari tersenyum. Kebanyakan klub, termasuk yang ia kelola, melakukan berbagai cara demi meraih kemenangan. Suap menyuap dalam sepak bola hal biasa. Caranya berbeda-beda.

Mulai berbagi poin yang disepakati di tingkat manajer tim hingga menyuap pemain di suatu klub jika klub tersebut menolak bekerja sama, bahkan ada yang sampai melibatkan pemilik klub. Biasanya, kata dia, klub yang berada di peringkat terbawah yang dikerjai bersama-sama. Yang terlibat adalah pemain, pelatih, manajer hingga pemilik klub.

”Apa yang dimaui suporter? Menang kan? Jadi gimana caranya bisa menang? Daripada saya dicurangi lebih baik saya yang mencurangi, begitu prinsip pengelola klub,” kata kenalan baru saya itu membuat saya kian melongo. Bagaimana dengan sepak terjang Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola yang telah memproses hukum 15 pelaku sepak bola nakal beberapa bulan terakhir? Ia tertawa dan menjawab singkat,”Lihat saja, apa ada dampaknya?”

Obrolan selesai. Kami bertukar nomor telepon lalu berpamitan. Saya pun tidak tahu di mana dan bagaimana kabarnya dia sekarang. Intrik memang tak bisa dipisahkan dari sepak bola. Intrik itu bahkan sering menjadi pemanis drama dalam permainan mengelola si kulit bundar.

Pura-pura terjatuh agar mendapatkan hadiah penalti, seolah-olah cedera sembari mata berkedip ke kamera, berlama-lama di lapangan meski sudah ditunggu pemain pengganti, dan lain sebagainya adalah gimmick yang lumrah dijumpai dan itu sah.

Pemain diserobot tim lain padahal sudah menerima uang panjar, pemain tiba-tiba berlatih dengan tim lain meskipun masih terikat kontrak, atau pelatih yang tiba-tiba jumpa pers di klub seberang juga masih dalam batas toleransi sportivitas yang bisa diterima akal sehat publik.

Integritas

Judi sekalipun menjadi lumrah dalam sepak bola. Ada beberapa situs yang secara legal mengelola petaruh dari berbagai belahan bumi, tapi itu semua dilakukan di luar pertandingan, tidak menyentuh integritas pelaku di lapangan hijau.

Jika sudah mempermainkan integritas sebuah pertandingan sepak bola, itu pembodohan tak terperi. Ribuan orang yang berduyun-duyun ke stadion menjadi makhluk terbodoh di dunia karena ternyata pertandingan yang mereka tonton sudah ditentukan hasilnya sebelum peluit ditiup wasit tanda pertandingan dimulai.

Bisa dibayangkan betapa sia-sianya jutaan penikmat sepak bola menghabiskan waktu di depan layar televisi ketika sebagian di antara pertandingan apik yang mereka saksikan ternyata semu. Apakah intrik haram ini bisa hilang dari sepak bola Indonesia?

Saat saya tanyakan ini, kenalan baru saya yang juga pelaku tersebut menyangsikan. Masalahnya, pola pikir itu sudah terpatri di benak sebagian besar pelaku sepak bola. Repotnya, mereka ini berada di posisi strategis—baik di federasi maupun klub—dan mempunyai pengaruh kuat untuk membuat yang lain ikut-ikutan.

Vonis penjara antara satu tahun hingga 2,5 tahun bagi terdakwa kasus pengaturan skor seperti Priyanto (mantan anggota Komite Wasit PSSI Jawa Tengah), Dwi Irianto alias Mbah Putih (mantan anggota Komisi Disiplin PSSI), dan Anik Yuni Artika Sari (wasit perempuan) tidak akan menciptakan dampak ketakutan bagi para pelaku lain yang masih beroperasi.

Menegakkan spirit fairplay menjadi pekerjaan yang berat saat ini. Perlu upaya masif dari hulu hingga hilir. Pola pikir licik sudah menjangkiti sepak bola sejak di level sepak bola di tingkat paling dasar.

Pencurian Umur

Menurut pengamat sepak bola Anton Sanjoyo, kasus pencurian umur dalam kompetisi di tingkat sekolah sepak bola (SSB) masih kerap terjadi kendati terus diperangi, bahkan pelaku pencurian umur adalah orang tua si anak.

Jadi, jika ingin sepak bola baik, pembenahan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Dimulai dari pola pikir orang tua yang bermimpi anaknya menjadi pemain sepak bola hebat. Ikuti proses natural, jangan instan dengan memalsukan umur karena itu hanya akan membentuk si anak menjadi penipu.

Vonis untuk Mbah Putih dan kawan-kawan menjadi kabar baik bahwa ada aturan hukum yang bisa dipakai menjerat para pengkhianat sepak bola. Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 2 UU No. 11/1980 tentang Tindak Pidana Suap bisa dipakai dalam kasus pengaturan skor sembari mengkaji pasal-pasal lainnya. Terkait penegakan hukum, PSSI perlu menggandeng Polri untuk membentuk unit khusus yang menangani pidana sepak bola, bukan hanya satuan tugas yang hanya bersifat ad hoc atau sementara.

Profesionalitas klub juga menjadi faktor kuat menegakkan integritas di sepak bola. Fakta menunjukkan hampir semua klub yang terlibat dalam pengaturan skor adalah klub miskin yang gampang disuap. Klub Liga 1 Bali United yang sudah melantai di bursa saham bisa menjadi contoh tentang sebuah klub profesional dibentuk.

Klub-klub lain harus mencontoh pengelolaan tim asal Pulau Dewata itu. Klub harus mencari pengusaha berintegritas yang punya visi sama: mencari uang halal dari sepak bola. PSSI harus diisi figur-figur yang memang berkomitmen memajukan sepak bola Indonesia. Bukan orang-orang culas yang hanya menjadikan sepak bola untuk menumpuk pundi-pundi uang bagi sekelompok orang. Ingat, sepak bola hanya indah jika dimainkan, bukan dipermainkan.