Pungkas Sang Senopati Pamungkas

Tito Setyo Budi - Istimewa
28 Juli 2019 11:00 WIB Tito Setyo Budi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (22/7/2019). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Kematian yang indah. Itulah yang digambarkan oleh Arswendo Atmowiloto dalam sebuah cerita pendek di Harian Kompas  edisi 22 Desember 1991. Wendo–demikian lelaki kelahiran Solo, 26 November 1948, ini akrab disapa–mengakhiri cerita pendek bertajuk Ia Berharap Jemputan Natal Ini Tidak Batal itu dengan manis.

”Suster... apakah saya harus memanggil suster, atau istri, atau anak, atau malaikat...” Lelaki tua itu tak menyelesaikan kalimatnya. Seluruh berat tubuhnya menggantung di bahu suster. Wajahnya yang mulus, dan senyumnya yang luar biasa, memancarkan kebahagiaan.

Tentu saat menulis cerita pendek itu Arswendo tak sedang memfirasatkan dirinya. Setidaknya dia bukan peramal yang baik untuk kematiannya sendiri. Selain ditulis dalam rentang  waktu lama, 28 tahun, hingga wafatnya pada Jumat Kliwon (19/7/2019) pukul 17.50 WIB, saat itu Wendo masih segar bugar.

Saat itu ia masih dipenuhi gairah menulis yang membara meskipun harus memakai banyak nama samaran untuk menyembunyikan dirinya karena saat itu dia menjadi terpidana karena kasus angket orang terkenal di Tabloid Monitor. Saat itu ia masih penuh canda ria, cengengesan, celelekan, dan ngomong seenaknya tanpa beban.

Tatkala pada 1992 saya menjenguk dia di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, dan menyerahkan sebongkok tabloid berbahasa Jawa titipan N. Sakdani Darmopamudjo, tokoh pers sahabat Wendo saat masih sama-sama mengasuh penerbitan di Solo, dengan enteng dia ngomong sambil tertawa terkekeh.

”Kandhakna nyang Mas Dani ya, To, Wendo ki saiki butuhe lagi dhuwit” (Katakan kepada Mas Dani, ya To, kalau sekarang ini butuhnya Wendo baru uang). Tabloid itu juga dia terima dengan senang hati dan sempat dibuka-buka. Kematian yang semestinya disikapi dengan kemurungan oleh Arswendo diubah selayaknya relaksasi. Tenteram dan damai.

Tak salah Goenawan Mohamad menulis dalam akun Twitter terkait meninggalnya Wendo. ”Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati,” tulis Arswendo Atmowiloto dalam Canting. Kini sahabat saya ini menemui yang dia tunggu dengan senyum.

Salah Kaprah

Tak mudah memosisikan dan memetakan Arswendo dalam ranah kesenian, khususnya kesusastraan. Dalam jagat sastra Indonesia namanya tertulis sebagai pengarang produktif (lihat: Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern, 1981, suntingan Pamusuk Eneste).

Dalam Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir, 1985, suntingan J.J. Ras juga disebut nama Arswendo dan karya dia di situ. Dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern, 2006, susunan Tirto Suwondo, riwayat hidup Arswendo Atmowiloto juga dibeberkan beserta keterlibatan dia dalam sastra Jawa.

Orang sering bertanya, apakah Arswendo itu sastrawan Indonesia ataukah sastrawan Jawa? Jawabannya adalah dua-duanya. Dia sendiri dalam banyak ceramah sarasehan sastra Jawa yang lebih sering saya moderatori (teman-teman menjuluki saya sebagai pawang Arswendo) mengaku tak pernah ribut dan ribet dengan bahasa.

Sastra Jawa pun bisa ditulis dalam bahasa Indonesia. Artinya, ke-Jawa-an adalah roh. Sedangkan bahasa hanya sebagai sarana komunikasi. Di kalangan sastra Indonesia, Arswendo bukannya terhindar dari “gugatan”, terutama jika ditelaah dari nilai kesastraannya.

Ada sebutan miring tentang sastra dengan ”S” besar dan sastra dengan ”s” kecil. Maksudnya, ada karya sastra yang dinilai sebagai sastra murni, namun ada yang lebih sebagai karya sastra populer. Budayawan Umar Kayam pernah ”mengejek” Arswendo dengan mengatakan telanjur disebut sastrawan.

Jadi, itu semacam salah kaprah dalam penyebutan. Sakit hatikah Wendo? Alih-alih sakit hati, dia malah tertawa-tawa. Lebih tepatnya menertawakan. Yang jelas, terlepas dari mana yang lebih tepat dalam memosisikan di dalam jagat kesenian di Indonesia, nama Arswendo Atmowiloto terpateri dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Sinetron

Itu gara-gara karya-karya sinetron dia banyak ditayangkan di layar televisi, termasuk dirinya sebagai figur populer–menjadi narasumber berbagai acara. Tak berlebihan ada yang menyebut, meski lahir sebagai anak kampung di Solo, Arswendo sejatinya adalah anak kandung budaya populer.

Ini sebagaimana dijelaskan oleh Raymond Williams dalam Keyword: A Vocabulary of Culture and Society (1976). Karya seni yang dia buat, entah itu cerita pendek, novel, drama, sinetron, film, ditujukan semata-mata untuk membuat orang lain senang dan terpikat.

Karya-karya yang dihasilkan itulah gambaran dirinya. Apa yang dia tulis tak jauh-jauh dari kehidupan dirinya sendiri. Latar kisah (setting) yang dia tulis pada awal-awal karier sebagai penulis lebih banyak merupakan gambaran Kota Solo waktu itu.

Simak saja, misalnya, dua buku kumpulan cerita pendek Surat dengan Sampul Putih (1980) dan Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981). Di situ disinggung secara langsung atau tidak tentang kampung-kampung di sudut Kota Solo, juga nama kawan-kawan sepermainan waktu kecil dan remaja. Antara lain juga disebut nama Kawit, seorang pelukis yang saat ini masif aktif berkarya.

Dalam sebuah nasihat kepada penulis pemula, Wendo berkata hendaknya menulis apa yang diketahui saja. Jangan mengada-ada. Alasannya supaya logis, setidaknya tidak janggal. Kira-kira nasihat itu pulalah yang mendasari dua buku resep tentang mengarang, yaitu Mengarang itu Gampang (1982) dan Mengarang Novel itu Gampang (1984).

Sebagai sahabat yang telah lama mengenal, sejak tahun 1980-an hingga pertengahan tahun lalu saya mengantarkan dia berkeliling Kota Solo, barangkali apa yang saya tuliskan ini terlalu sedikit. Jika pun diberi kesempatan lebih panjang barangkali juga belum tentu saya mampu memenuhinya.

Pasti masih kalah panjang dibandingkan dengan kesedihan saya sendiri ditinggal Sang Senopati Pamungkas itu. Satu hal yang harus saya sebutkan di sini, ketulusan berteman dan  kegairahan berkarya adalah mutiara pungkas dari Senopati Pamungkas sahabat saya ini. Senopati Pamungkas adalah novel berlatar sejarah karya Wendo yang digemari banyak pembaca.