Merayakan Literasi, Sudah itu Mati!

Eko Setyawan - Istimewa
26 Juli 2019 09:21 WIB Eko Setyawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa(16/7/2019). Esai ini karya Eko Setyawan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah esetyawan450@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Bulan Oktober, dua tahun lalu, acara yang bertajuk Karanganyar Berpuisi diselenggarakan dan berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai pencipta sekaligus pembaca puisi terbanyak.

Acara itu dilaksanakan di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar dan melibatkan banyak elemen masyarakat. Bupati, wakil bupati, jajaran musyawarah pimpinan daerah, pelajar, anggota TNI dan Polri, serta elemen-elemen masyarakat lainnya di Kabupaten Karanganyar terlibat dalam acara itu.

Penciptaan rekor Muri itu dilaksanakan untuk memperingati hari jadi ke-100 Kabupaten Karanganyar. Acara yang membanggakan sekaligus mengecewakan. Ada hal yang cukup menggelisahkan saya ketika acara tersebut dilaksanakan.

Hal ini berkaitan dengan manfaat acara tersebut. Saat itu lebih dari 25.000 orang membuat sekaligus membacakan puisi. Mungkin ada kebanggaan pada saat penyelenggaraan karena terlibat dalam penciptaan rekor Muri,namun ada hal yang perlu diingat bahwa penyelenggaraan acara seperti itu sebenarnya kurang efektif untuk mengembangkan budaya literer atau mengembangkan literasi atau budaya pustaka.

Perayaan semacam itu hanya berakhir pada perayaan dan penciptaan rekor Muri, tidak berdampak pada penyuburan minat membaca dan menulis, khususnya puisi, di kalangan masyarakat luas, terlebih bagi para pelajar. Perayaan semacam itu hanya terjadi sekali dan tidak berkelanjutan.

Tentu saja ini mengecewakan karena pada dasarnya literasi atau budaya pustaka adalah proses keberlanjutan dan sambung-menyambung. Literasi bukan hanya memecahkan rekor atau mendapat penghargaan sementara tidak berdampak pada tumbuhnya keinginan membaca dan menulis di kalangan siswa. Perayaan semacam ini tentu kurang efektif.

Tiga bulan lagi genap dua tahun perayaan itu. Dari 25.000 orang yang terlibat, adakah pelajar dan generasi muda yang kini berbudaya pustaka? Dari 25.000 orang peserta tersebut, adakah yang sampai saat ini masih menulis dan membaca puisi? Saya berani bertaruh dari begitu banyak peserta peserta itu mungkin tak lebih dari 100 orang yang masih menulis atau membaca puisi.

Pelatihan Menulis Puisi

Minimnya keberlanjutan karena perayaan literasi semacam itu hanya membuang tenaga dan tidak berpengaruh secara langsung dan berkelanjutan pada kreativitas pelajar. Akan lebih baik kalau pemerintah mengadakan pelatihan menulis karya sastra, misalnya puisi, karena akan merangsang siswa terus menulis puisi.

Pelatihan ini perlu untuk menjadikan puisi lebih dekat dan lebih dipahami. Melalui pelatihan para pelajar akan memahami bagaimana cara menulis puisi yang bagus, bukan hanya menulis dan mendapat rekor Muri. Seharusnya Pemerintah Kabupaten Karanganyar memerhatikan dan fokus pada pembangunan budaya literasi.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar harus menyadari potensi siswa yang bisa dikembangkan dan diberdayakan melalui pelatihan menulis puisi serta karya sastra lainnya. Dengan kegiatan demikian ini secara tidak langsung Kabupaten Karanganyar akan mendapat tempat di dunia literasi sebagai kabupaten dengan banyak penulis yang berbakat. Dari kalangan generasi muda akan lahir penulis yang muncul dari proses yang berkelanjutan, bukan dari perayaan sesaat. Potensi kaum  muda akan terasah melalui pelatihan menulis puisi ini dan akan berimbas pada sektor pariwisata. Eksplorasi potensi pariwisata dapat menggunakan media puisi.

Kabupaten Karanganyar tak pernah kehabisan penulis berbakat seperti Andri Saptono yang telah merilis novel Candik Ayu Segaramadu yang berlatar di Pabrik Gula Tasikmadu dan menyabet penghargaan dari Dewan Kesenian JawaTengah pada 2011. Ia juga menulis novel Lost in Lawu yang mengeksplorasi potensi wisata Kabupaten Karanganyar.

Di Karanganyar juga tinggal penulis Yuditeha yang telah menerbitkan beberapa novel, kumpulan cerita pendek, dan buku kumpulan puisi. Ia telah memenangi banyak lomba penulisan sastra dan turut mengharumkan nama Kabupaten Karanganyar.

Seharusnya orang-orang semacam ini dilibatkan dalam gerakan literasi jangka panjang untuk menyebarkan virus gemar membaca dan menulis sehingga tidak hanya perayaan semata namun juga berkelanjutan. Dengan hal itulah maka budaya pustaka di Kabupaten Karanganyar akan terus hidup. Komunitas budaya pustaka di Karanganyar masih terbatas sehingga perlu campur tangan pemerintah agar dapat berkembang ke arah yang positif.

Tidak ada salahnya melaksanakan perayaan namun harus memerhatikan sisi manfaat jangka panjang. Dengan demikian, perayaan bukan hanya perayaan namun juga mengembangakan dan mengakar hingga tumbuh. Jangan sampai perayaan semacam itu hanya terbatas pada perayaan dan kegembiraan sesaat seperti halnya penggalan puisi karya Chairil Anwar yang berbunyi “Sekali berarti, sudah itu mati!” Pada dasarnya perayaan puisi itu dilakukan setiap hari, bukan untuk membuat rekor.