Koperasi Era Ekonomi Kreatif

Al. Sentot Sudarwanto - Istimewa
14 Juli 2019 01:00 WIB Al. Sentot Sudarwanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/7/2019). Esai ini karya Al. Sentot Sudarwanto, dosen Hukum Perusahaan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Solo dan peneliti tentang kebijakan perkoperasian. Alamat e-mail penulis adalah alsentotsudarwanto@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada Juli ini koperasi Indonesia memasuki tahun ke-72 sejak Kongres Koperasi I pada 12 Juli 1947. Peran koperasi sebagai pilar penyangga perekonomian nasional semakin sering dipertanyakan. Umur 72 tahun adalah tantangan bagi koperasi untuk membuktikan peran sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, pernah mengatakan kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2016 sebesar 3,99%. Dibandingkan tiga tahun sebelumnya, angka tersebut naik signifikan.

Pada 2013, koperasi hanya berkontribusi sebesar 1,71% terhadap PDB (A.A.G.N. Puspayoga, 2017: 6). Beberapa koperasi memiliki kinerja sangat baik dan masuk dalam koperasi berskala dunia. Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG), Kospin Jasa Pekalongan, dan Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) adalah beberapa koperasi Indonesia yang tercatat dalam peringkat dunia.

Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian saat ini telah bergeser dari sektor industri ke sektor ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif menjadi poros ekonomi baru dunia. Menipisnya cadangan energi, buruknya dampak industrialisasi, dan meningkatnya kebutuhan pangan menjadi alasan utama pentingnya pengembangan sektor ekonomi kreatif.

Dalam konteks global, sektor ekonomi kreatif memberikan bukti kontribusi terhadap perekonomian dunia. Ernst and Young pada 2015 memetakan ekonomi kreatif global dan menemukan fakta industri kreatif bernilai US$2,3 triliun atau setara dengan Rp30.654 triliun. Ernst and Young juga menulis jumlah uang yang dihasilkan ekonomi kreatif menyamai 3% produk domesik bruto total dari seluruh dunia (Ernst & Young, 2015: 59).

Film box office Amerika, kartun anime Jepang, K-pop dari Korea selatan, dan beberapa aplikasi sofware, game, dan industri kuliner adalah beberapa contoh subsektor ekonomi kreatif yang berkembang pesat di dunia. Presiden Joko Widodo saat ini berusaha untuk membawa ekonomi kreatif Indonesia sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Muncul pertanyaan, apa sajakah tantangan koperasi pada era ekonomi kreatif saat ini? Bagaimanakah seharusnya peran koperasi pada era ekonomi kreatif? Pertanyaan itu kerap muncul kala koperasi saat ini tidak begitu populer di masyarakat.

Koperasi di Indonesia memang belum berperan optimal dalam pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Koperasi belum berperan baik sebagai pelaku ekonomi kreatif maupun sebagai organisasi pendukung pertumbuhan ekonomi kreatif (sumber permodalan, pelatihan dan pengembangan produk, dan sumber daya manusia).

Modal Sendiri

Argumen tersebut tentu didukung oleh beberapa alasan. Pertama, dalam rencana strategis Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 2015-2019 disebutkan 78,11% koperasi di Indonesia adalah koperasi konsumen. Data tersebut menegaskan koperasi belum berperan sebagai pelaku ekonomi kreatif karena minimnya koperasi produsen.

Kedua, berdasarkan data statistik dan hasil survei ekonomi kreatif yang disusun Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik, 92,37% pelaku ekonomi kreatif masih menggunakan modal sendiri sebagai sumber permodalan. Sisanya adalah pinjaman bank dan modal ventura (Bekraf dan BPS, 2017).

Data tersebut menunjukkan koperasi belum menjadi alternatif sumber permodalan usaha pelaku ekonomi kreatif. Perlu diketahui, koperasi di berbagai belahan dunia memiliki peranan di semua sektor kehidupan. Bamyak koperasi di berbagai negara justru menjadi pionir pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.

Tengok saja, Campina atau Friesland Campina dari Belanda. Campina adalah koperasi susu terbesar di Eropa yang didirikan pada 1892. Dengan kreativitasnya, susu yang dihasilkan dari peternak sapi dikelola menjadi es cream, yoghurt, mentega, keju dan dipasarkan di berbagai negara termasuk Indonesia.

Koperasi Ace Hardware juga dapat menjadi contoh. Ace Hardware Corporation adalah koperasi ritel hardware (perangkat keras) yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Koperasi yang didirikan pada 1973 ini menjadi koperasi ritel hardware terbesar di dunia sekaligus koperasi ritel terbesar di Amerika Serikat.

Melihat dua contoh koperasi di atas, kita dapat melihat peran strategis koperasi pada era ekonomi kreatif. Pertama, koperasi dapat menjadi institutional forms of creative enterprises (badan usaha ekonomi kreatif). Status koperasi sebagai badan hukum menguntungkan para pelaku ekonomi kreatif dari sisi legalitas badan usaha, perijinan usaha, dan bantuan permodalan.

Kedua, koperasi dapat menjadi sumber permodalan pelaku ekonomi kreatif. Kesulitan mengakses sumber permodalan semakin mengerucutkan pada perlunya lembaga alternatif nonbank sebagai sumber permodalan pelaku ekonomi kreatif.

Ketiga, koperasi dapat berperan sebagai instrumen pengembangan masyarakat menuju ekonomi kreatif. Peran Koperasi Campina dan Koperasi Ace Hardware menunjukkan tujuan pengembangan masyarakat telah tercapai, baik untuk meningkatkan kualitas hidup anggota maupun untuk meningkatkan kemampuan internal anggota agar dapat menciptakan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Semoga koperasi di Indonesia bisa turut berkiprah dalam pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.