Eutrofikasi Eceng Gondok di Rawa Jombor

Heralius Dwiki Anggoro - Istimewa
11 Juli 2019 02:30 WIB Heralius Dwiki Anggoro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (2/7/2019). Esai ini karya Heralius Dwiki Anggoro, mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heralius26@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Rawa Jombor adalah waduk buatan di Dukuh Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah seluas 65.556 hektare dengan kedalaman 4,5 meter. Nama Rawa Jombor berasal dari dua kata, yaitu ”Rawa” yang mengacu zaman dulu Dukuh Jombor sering tergenang air ketika musim hujan dan ”Jombor” yang merujuk lokasi di Dukuh Jombor.

Rawa Jombor dibangun pada zaman penjajahan Belanda bersama dengan Sinuhun Paku Buwono X pada 1901. Waduk buatan ini berfungsi sebagai sumber irigasi ke lahan pertanaman tebu di sektiar Pabrik Gula Manisharjo di Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Pada waktu itu produksi gula meningkat maka lahan tebu juga diperluas dan hal ini menyebabkan pasokan air irigasi ke lahan tebu juga meningka. Rawa Jombor dibangun sebagai penampung air dari luapan air hujan ketika musim hujan tiba.

Pada era 1934-1944 pabrik gula yang dikelola pemerintah kolonial Belanda bangkrut yang diikuti masuknya Jepang yang menyebabkan fungsi Rawa Jombor yang semula sebagai sumber irigasi lahan tebu berubah menjadi waduk buatan. Setelah Indonesia merdeka, Rawa Jombor dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten sebagai tempat peristirahatan hingga dimanfaatkan menjadi area rekreasi dan wisata kuliner warung apung yang menjadi ikon Kabupaten Klaten.

Pariwisata warung apung ini menjadi favorit ketika mengunjungi Kabupaten Klaten. Pengunjung dapat merasakan sensasi menikmati menu ikan budi daya di warung yang terapung di Rawa Jombor. Warung apung semakin bertambah jumlahnya yang kemudian menjadi masalah karena sampah sisa makanan di warung apung dibuang langsung ke Rawa Jombor selama bertahun-tahun.

Jika tindakan ini tidak ditangani serius oleh pemerintah maka Rawa Jombor akan mengalami gejala eutrofikasi serta pendangkalan. Eutrofikasi adalah fenomena ketika kondisi perairan mengalami pengayaan nutrien yang diakibatkan masuknya air dari sungai yang tercemar maupun aktivitas yang masuk ke badan air (Alina dan Suprobowati, 2015).

Fosfor dan Nitrogen

Aktivitas manusia seperti pemberian pestisida, pemberian obat-obatan pada ikan budi daya, dan pemberian pakan berlebihan merupakan donatur utama bahan organik fosfor yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Pestisida dapat hilang selama penggunaan melalui penyemprotan yang tidak terarah yang akan menguap atau terakumulasi di tanah dan perairan. Jika unsur fosfat terbawa aliran air akan mencemari perairan dalam waktu yang lama.

Eutrofikasi juga dapat terjadi secara alamiah seperti akibat feses atau limbah kotoran ikan yang terendap di dasar waduk dan menumpuk. Ini dapat menyebabkan bahan organik di perairan meningkat. Feses atau kotoran ikan mengandung fosfor dan nitrogen.

Eceng gondok merupakan tanaman gulma yang berhabitat di perairan. Tanaman ini hidup terapung di air yang dalam atau mengembangkan akar di lumpur jika di air dangkal. Tanaman gulma ini dapat beradaptasi di lingkungan yang baru dan cukup toleran dengan bahan pencemar di perarian tersebut.

Kalau di perairan terdapat nitrat dan fosfat, dipastikan perkembangbiakan eceng gondok akan pesat. Eceng gondok dapat berkembang biak secara vegetatif maupun generatif.  C.P. Pangestu (2014) berpendapat eceng gondok bisa dijadikan sebagai bioindikator terhadap melimpahnya bahan organik nitrat dan fosfat pada suatu ekosistem perairan.

Semakin tinggi kandungan nitrat dan fosfat dia perairan akan menjadi sumber substrat bagi eceng gondok untuk berkembang biak serta bereproduksi. Pada kasus tertentu, populasi eceng gondok di perairan bisa diolah menjadi bahan untuk kerajinan tangan anyaman.

Populasi eceng gondok yang begitu melimpah di ekosistem perairan menjadi gulma yang dapat mengganggu ekosistem serta siklus hidup sebagian biota maupun vegetasi di perariran tersebut. Apabila eceng gondok tumbuh sangat pesat dan tidak dapat dikendalikan, eceng gondok akan menutupi seluruh permukaan air di Rawa Jombor. Eceng gondok mengganggu proses penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan yang berdampak pada melambatnya metabolism dan fotosintesis pada fitoplakton.

Pemetaan

Efeknya adalah ikan-ikan di  ekosistem tersebut akan terpengaruh, baik secara populasi maupun biomassa, dan pada ahkirnya rantai makanan di eksostem Rawa Jombor terganggu. Dilihat dari segi ekonomi, dengan menurunnya populasi dan biomassa ikan maka masyarakat sekitar Rawa Jombor yang bergantung pada ikan budi daya sebagai mata pencaharian akan rugi.

Menurut C.P. Pangestu (2014),  konsentrasi bahan organik akar, batang, dan daun eceng gondok yang terkandung dalam tanah pada proses pembusukan menggambarkan akar eceng gondok memiliki konsentrasi bahan organik yang tertinggi dengan kisaran antara 50,25% hingga 57,3%. Akar memiliki fungsi menyerap air dan unsur hara sehingga  penyerapan bahan organik oleh akar eceng gondok di perairan Rawa Jombor menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi. Bahan organik ini menjadi bahan baku untuk eceng gondok berkembang biak secara pesat.

Eutrofikasi ini menjadi masalah serius di Rawa Jombor. Pemerintah Kabupaten Klaten beserta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo memfasilitasi pembersihan eceng gondok dengan cara diangkat menggunakan ekskavator. Pemerintah Kabupaten Klaten beserta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo juga menata warung apung. Menurut Bupati Klaten Sri Mulyani, penataan warung apung lebih tertuju pada penggeseran ke lahan di Desa Krakitan.

Lahan di desa ini dapat menampung warung apung. Pemindahan warung apung dapat mengatasi permasalahan pendangkalan Rawa Jombor yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran untuk pemindahan warung apung ini ke lahan di luar waduk buatan ini. Rawa Jombor kemudian dipetakan sehingga dapat ditentukan mana area yang dapat dijadikan lokasi budi daya ikan.

Sosialisasi langkah pentaan sangat penting agar dampak sosial dan ekonomi bisa diketahui secara detail. Rawa Jombor layak menjadi destinasi wisata air unggulan di Provinsi Jawa Tengah serta menjadi sumber pemasukan bagi Kabupaten Klaten.