Amnesty Internasional: Polda Metro Akui Tindakan Berlebihan ke Perusuh 22 Mei

Massa aksi melakukan pembakaran saat terjadi bentrokan di kawasan Jl Sabang, Jakarta, Kamis (23/5 - 2019). (Antara/Muhammad Adimaja)
09 Juli 2019 19:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Amnesty International Indonesia menyebut polisi mengakui memang ada tindakan kekerasan secara eksesif (berlebihan) oleh polisi saat proses pengamanan massa anarkis dalam kericuhan 21-22 Mei 2019 di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta Pusat.

"Saya kira dalam pertemuan tadi, Pak Kapolda Metro Jaya juga sudah mengakui bahwa ada kekerasan eksesif yang dilakukan oknum ketika mengamankan orang-orang yang terlibat di dalam kerusuhan," kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Namun Usman tidak menutup mata bahwa dari penelitiannya terhadap 28 rekaman video tentang amuk massa, perusuh sangat wajar ditindak polisi. Mereka di antaranya merusak kendaraan polisi, menyerang asrama polisi atau menyandera mobil pemadam kebakaran.

"Tapi apakah di dalam prosesnya, setelah menangkap mereka, Polri tidak melakukan kekerasan yang berlebihan? Nah ini yang saya kira jadi konsen Amnesty juga, walau di video terlihat orang-orang itu benar-benar menggunakan kekerasan menyerang Polri atau merusak segala hal yang seharusnya tidak dirusak," ucapnya.

Dia menilai seharusnya setelah perusuh ditangkap, polisi tidak melakukan tindakan berlebihan. Mereka cukup diserahkan kepada penyidik untuk diproses lebih jauh dengan didampingi pengacara, diajukan ke pengadilan. Pada ranah ini, ada sorotan besar dari masyarakat soal standar operasi baku polisi dalam tugas-tugas polisional.

"Tidak justru sebaliknya ketika di lokasi sudah diamankan dalam kondisi tidak berdaya, oleh banyak oknum anggota polisi yang lain misalnya dipukul, ditendang itu yang saya kira merupakan persoalan HAM yang jadi tanggung jawab bersama," ucap dia.

Pada sisi lain, Amnesty International Indonesia juga mengapresiasi pernyataan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Pramono, yang menyatakan akan mengambil tindakan kepada polisi yang melakukan kekerasan berlebihan dalam bertugas.

Hari ini, Amnesty International Indonesia menyerahkan hasil investigasinya terkait kekerasan HAM saat kericuhan 21-22 Mei 2019 yang terus berlangsung hingga 23 Mei 2019 pagi kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono.

Dalam pertemuan itu, Amnesty International juga menekankan agar polisi tidak pandang bulu dalam mengusut perkara tersebut untuk dibawa ke pengadilan. Begitu pula terkait kematian Harun Ar-Rasyid, Abdul Aziz, Farhan, dan beberapa orang korban lainnya.

Sumber : Antara

Kolom 5 hours ago

Puser Parto