Penganiayaan Andre Bibir di Kampung Bali Dipicu Panah Beracun

Seorang polisi mengguyur air pada muka rekannya karena terdampak gas air mata saat kerusuhan terjadi di Jl KS. Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5 - 2019). (Antara/Aditya Pradana Putra)
05 Juli 2019 18:39 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Polri mengakui dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh personel Brimob di Kampung Bali, Jakarta Pusat, 23 Mei 2019 pagi lalu. Polri menyebut para aksi kekerasan itu terjadi lantaran mereka terpicu komandannya dipanah saat melakukan pengamanan aksi 21-22 Mei.

"Menyangkut masalah ini bagian dari ekses kejadian di Kampung Bali, berawal tindakan spontanitas oleh anggota Polri, dari Polda yang di-BKO ke Polda Metro Jaya, melakukan tindakan secara spontan dipicu dari komandan kompi dipanah, kena panah beracun," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Panah beracun tersebut meleset tidak mengenai tubuh komandan kompi, tetapi sempat menancap di rompi pelindung tubuh. Meski demikian, melihat komandan kompinya diserang, sejumlah anggota Brimob melakukan pencarian terhadap pemanah.

Setelah mereka menyisir, mereka menemukan pelakunya. Orang itulah yang diduga sebagai Andri Bibir dan Markus.

Atas tindakan penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan terhadap orang tersebut, 10 anggota Brimob dari satuan yang tidak disebutkan oleh Dedi Prasetyo itu sudah diproses. Dedi mengklaim mereka sudah menjalani pemeriksaan hingga sidang disiplin.

"Ke-10 anggota dijatuhi hukuman disiplin berupa penahanan di ruang khusus selama 21 hari. Nanti melaksanakan hukuman setelah kembali ke polda setempat," ucap dia.

Menurut dia, ada sanksi lain yang disiapkan. Dedi Prasetyo berjanji Polri akan melakukan tindakan tegas apabila menemukan anggota terbukti melakukan pelanggaran disiplin di lapangan.

Sebelumnya Amnesty International Indonesia mengungkap dugaan oknum personel Brimob melakukan penangkapan dan penyiksaan terhadap demonstran serta orang-orang yang berada di Kampung Bali pada 23 Mei 2019.

Berdasarkan investigasi Amnesty International Indonesia, pada 23 Mei pagi itu, personel Brimob melakukan penyisiran dan memerintahkan pagar lahan parkir yang dikunci dari dalam untuk dibuka.

Para saksi di lokasi menuturkan terdapat banyak orang melakukan pelemparan batu dari dalam lahan parkir itu. Tetapi para personel Brimob itu tidak hanya melakukan penyiksaan terhadap pelaku pelempar batu, melainkan juga warga sekitar yang sedang keluar rumah. Para korban disebut mengalami lebam serta luka di kepala.

Sumber : Antara