Kisah Hemeti, Pedagang Unta Sukses Jadi Wapres Sudan

Mohamed Hamdan Dagolo alias Hemeti, Wapres Dewan Militer Peralihan Sudan (Reuters)
04 Juli 2019 07:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, KHARTUM – Pemimpin suatu negara jelas selalu menjadi sorotan. Orang tersebut tentu memiliki kecakapan sebagai pemimpin. Kecakapan itu tidak ditentukan oleh tingginya tingkat pendidikan. Buktinya, ada negara yang dipimpin oleh seseorang yang tidak lulus sekolah, seperti di Sudan.

Seorang pria berasal dari wilayah barat Sudan yang pernah bekerja sebagai pedagang unta, Mohamed Hamdan Dagolo, menjadi sosok penting. Pria yang akrab disapa Hemeti itu duduk sebagai Wakil Presiden Dewan Militer Peralihan Sudan.

Meski tidak lulus sekolah dan berasal dari luar kalangan elite militer, Hemeti dikenal sebagai penguasa Khortum.

Dikutip dari Telegraph, Rabu (3/7/2019), komandan perang Dafur ini memimpin puluhan ribu orang dengan peralatan seadanya dengan baik, jauh lebih baik dibandingkan pasukan militer resmi Sudan. Hemeti juga punya banyak uang untuk mendanai milisi. Dia punya tambang emas dan kolega kuat di Arab Saudi serta beberapa negara di kawasan Teluk Arab.

Kemunculan Hemeti menjadi penguasa dimulai pada 2003. Kala itu, orang kulit hitam Afrika yang kebanyakan bekerja sebagai petani melakukan pemberontakan terhadap pemerintah di wilayah barat Darfur. Pihak militer kewalahan mengawasi taktik gerilya dan mulai merekrut milisi Arab yang dikenal dengan nama Janjaweed.

Kala itu, Hemeti adalah seorang pria berusia sekitar 20-an tahun yang ambisius. Dia lahir di antara kelompok Mahamid Arab-Sudan sebagai penggembala unta pada 1975. Dia keluar dari sekolah dasar pada usia 16 tahun untuk berdagang unta. Pelanggannya tersebar hingga ke Chad, Libia, dan Mesir.

Pada permulaan konflik, Hemeti memberikan pengamanan konvoi pedagang di Dafur dengan imbalan uang. Itulah yang awalnya membuat dia kaya raya. Selanjutnya, dia membantu memobilisasi pejuang Janjaweed. Bagi Hemeti dan para pria lainnya di daerah terpencil, perang adalah sarana untuk mendapatkan uang.

Dikutip dari BBC, pada akhir 2007, Hemeti membawa milisinya ke pegunungan dan kembali mendukung Khartum setelah mendapatkan uang serta senjata. Pada 2013, pasukan Hemeti menjadi Pasukan Pendukung Cepat (RSF).

Menurut survei Small Arms Survey (2016), Hemeti menyediakan uang sekitar Rp4,9 triliun untuk membantu ekonomi Sudan. Hal itu membuatnya dihormati, sampai akhirnya berhasil menempati posisi sebagai Wakil Presiden Dewan Militer Peralihan Sudan.