Roh Angkringan

Heri Priyatmoko - Dokumen Solopos
03 Juli 2019 09:00 WIB Heri Priyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (29/6/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan penulis buku Keplek Ilat: Sejarah Wisata Kuliner Solo. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Esai karya Bara Yudhistira berjudul Menu Fast Food Asli Indonesia yang dimuat Harian Solopos edisi 18 Juli 2019 ( di solopos.com diunggah dengan judul Angkringan adalah Fast Food Asli Indonesia) menarik ditanggapi. Uraiannya lebih mengandung story (cerita) dan kurang history (sejarah).

Di esai yang penuh story itu sukar ditemui bukti sejarah faktual. Maklum, titik pijak dan bidang penulisnya adalah teknologi pangan. Tentu akan tergopoh-gopoh bila diminta mengusut kebenaran kisah masa lalu berbekal arsip lawas yang disigi dari perspektif historis.

Bara Yudhistira menyebut angkringan bermula di Kota Jogja. Pelopornya adalah Mbah Pairo dari Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Pada tahun 1950-an, bakul ini berkeliling menjajakan makanan dan minuman dengan cara dipikul.

Bakul angkringan merupakan pekerjaan samben seraya menanti musim tanam tiba. Ketika musim tanam atau musim panen tiba lalu kembali mengakrabi lumpur sawah, menjadi manusia petani.

Pernyataan ini perlu diluruskan sebelum menjadi accepted history, sejarah yang diterima kebenaran faktualnya oleh publik. Perlulah ditengok sumber yang lebih luas merekam dunia angkringan di Kota Solo.

Dalam panggung seminar maupun menulis, saya selalu mengatakan angkringan mengada kali pertama di Kota Solo, bukan di kota lain. Angkringan hadir jauh sebelum bangsa Indonesia lepas dari cengkraman penjajah Belanda.

Landasan argumentasi saya ialah bukti berupa Koran Djawi Hiswara edisi 28 Januari 1918. Di koran yang terbit di Solo itu ada berita mencolok berjudul Maling yang Lucu Tertangkap. Dari kacamata jurnalistik, tentu lucu dan punya bobot berita setelah dikabari ada seorang maling bersembunyi di ”angkring”.

Pencuri itu beraksi di Kampung Kauman, berjarak hanya sepeminuman teh dari Keraton Solo. Nasib si pencuri apes. Ia tertangkap selepas seorang warga tanpa sengaja membuka angkring yang tergeletak di samping jalan. Kata ”angkring” dibubuhi penjelasan dalam berita tersebut sebagai keranjang pikulan untuk mewadahi panganan dan air kopi.

Seiring Aliran Listrik

Dua dekade selanjutnya, Poerwadarminta menulis pustaka klasik Bausastra Jawa (1939). Perlu dipahami kerja pekamus ialah mendokumentasikan kondisi budaya setempat dan menginventarisasi istilah yang berseliweran di masyarakat sekitarnya.

Lelaki penghimpun kosakata bahasa Jawa ini menerangkan lema ”angkring” adalah pikulan dalah saprabote (kothakan wadhah pangangan lsp) dianggo idêr-idêr bakmi, saoto, wedang lsp. Terjemahan bebasnya: pikulan beserta perangkatnya (kotak tempat makanan) yang dipakai untuk berkeliling menjajakan bakmi, soto, minuman, dan lainnya.

Sedangkan dalam buku Javanese-English Dictionary (1974) ada penjelasan angkring pair of cabinet-like containers of food, drink, and utensils, carried at either end of a shoulder pole: used by refreshment peddlers. Selain penunjuk aspek waktu (temporal) dan lokasi (spasial) kemunculan angkringan, berita yang diterbitkan Djawi Hiswara maupun keterangan Poerwadarminta membantah (baca: menggugurkan) pernyataan Bara yang mengaitkan angkring dengan duduk santap sembari melipat satu kaki di kursi.

Memang benar warung angkringan identik dengan kesan santai, namun maaf, tidak bisa memakai ”cocoklogi” (othak-athik gathuk) atas realitas sosial tersebut. Tumbuh suburnya angkringan di Solo dipicu kemunculan listrik yang mengaliri kota ini pada tahun 1902.

Kota Solo pada malam hari padhang njingglang berkat aliran listrik dari Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM). Hiburan dan suasana kota yang semarak akhirnya mengantarkan kota ini meraih predikat ”kota yang tak pernah tidur”.

Wong cilik dari kawasan Klaten nglembara menangkap peluang ekonomi dengan berjualan makanan dan minuman berwadah angkring. Dalam kerja heuristik, saya menemukan konsep angkring telah hadir jauh sebelum permulaan abad XX atau 200 tahun sebelum lampu listrik perkotaan kencar-kencar.

Saya cukilkan fakta yang termaktub dalam Babad Tanah Jawi yang merekam segala peristiwa periode awal kerajaan Mataram Islam. Di Babad Tanah Jawi ada kalimat ”mikul angkring sabên dina, môngsa mundhak-mundhaka, nora bisa lungguh ingsun” (memikul angkring saban hari, tidak lekas bertambah, saya tidak bisa duduk).

Di halaman lain Babad Tanah Jawi tersurat kalimat bêrasira anèng ing kisa pinikul, sarwi linayanan angkring,  wontên siji janma sêpuh, kuru duwe lara mêngi, mangan madat datan towong”. Terjemahan bebasnya: berasmu ditaruh di wadah dari blarak yang dipikul, juga pikulan bersama perabotnya, ada satu orang tua kurus memiliki sakit sesak napas, tiada henti memakai candu.

Kaum Borjuis

Kenyataan ini menegaskan angkring sudah tidak asing bagi masyarakat Solo pertengahan abad XVIII, bahkan dikenal sejak periode Kartasura, periode 1680-1742. Pengertian angkring tidak melulu dipakai untuk sarana berdagang makanan dan minuman.

Saya agak geli membaca lekatnya relasi wong Solo dengan angkring yang tersaji dalam Majalah Kajawen edisi Februari 1935 terbitan Balai Pustaka. Kedekatan hubungan tersebut dituangkan dalam tembang Pocung model tebak-tebakan perihal sikil wong adol cao (kaki penjual minuman cao).

Lelaki ini berkaki 13 diakumulasi dari kaki angkring delapan, kaki si penjaja dua, dan kaki dhingklik tiga. Dengan semangat humor tembang ini tak pelak menyasar para bocah hingga orang tua. Memang gampang-gampang susah ditebak arah guyonan itu, meski bola mata mereka sering menabrak penjual cao memakai angkring di jalanan.

Rekonstruksi sejarah ini meluaskan pemahaman bahwa roh angkringan menjadi bagian integral kehidupan wong cilik berabad-abad. Bukan sebatas menopang hidup keluarga berlambaran spirit kemandirian ekonomi, tapi juga penyelamat perut masyarakat luas berkat harga murah dan relatif pepak jajanannya.

Dengan angkring itulah wong cilik diam-diam berikrar menjadi juragan atas dirinya sendiri tanpa membusungkan dada. Wong cilik emoh diperintah tuan kulit putih laiknya para tetangga yang mendaftarkan diri sebagai buruh di onderneming (perkebunan) gula Gondang Winangun dan perkebunan tembakau di Klaten.

Kini konsep angkringan yang dikembangkan wong cilik itu tanpa sadar ”dirampok” kaum borjuis. Muncul guyonan pahit: wong sugih macak kere. Barisan pemilik modal di Soloraya berduyun-duyun membuka usaha bisnis kuliner dengan embel-embel angkringan.

Bisa dipastikan buruh gendong pasar, tukang becak, dan buruh bangunan berpikir puluhan kali untuk menongkrong di warung angkringan itu daripada isi kantong mereka ludes dalam sekali kepruk. Oalah, wolak-waliking jaman.

 

Kolom 5 hours ago

Cukai Plastik