Saat Kembali ke Kesejatian

Sholahuddin - Dokumen Solopos
30 Juni 2019 03:00 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (24/6/2019). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Idulfitri telah berlalu. Para pemudik sudah kembali ke perantauan, beraktivitas seperti biasa.  Kue-kue lebaran ditarik dari meja tamu. Uang tunjangan hari raya kian menipis, bahkan mungkin ludes.

Hiruk-hiruk pikuk momentum tahunan itu kian berlalu. Syawal tak lama lagi akan meninggalkan kita semua. Kalau semua sudah kembali ke situasi normal, lantas apa yang tersisa? Apa yang kita dapatkan selama Ramadan dan Idulfitri?

Para ustaz sering mengatakan Idulfitri merupakan memomentum orang kembali ke fitrah, kembali ke kejadian asal, kembali suci seperti saat kali pertama manusia lahir di muka bumi.

Manusia kembali ke kesejatian sebagai makhluk berakal dan bernurani. Menjadi pribadi yang independen, tidak terbelenggu oleh apa pun dan siapa pun, kecuali selalu tunduk kepada kehendak Sang Penguasa.  

Meski soal ”kembali ke fitri” menjadi tema rutin tahunan, namun pada tahun ini Ramadan dan Idulfitri menempati posisi strategis. Ramadan hadir saat bangsa Indonesia tengah menjalani ujian berat dalam ranah kenegaraan kita.  

Momentum pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif telah menjauhkan kita dari kesejatian diri sebagai manusia. Banyak orang kehilangan kemerdekaan, ”menyembah” kekuatan politik yang mereka dukung. Ramadan kemudian hadir menjadi bulan "penyucian" diri.

Dalam bahasa orang bereksperimen, sebelum Ramadan adalah situasi pre-test . Kita mendapatkan nilai sebelum fenomena itu diintervensi dengan perlakuan. Ramadan sebagai bulan treatment (perlakuan) dengan haraoan yang menjalani memperoleh pencerahan, mendapatkan sesuatu yang baru dalam dirinya.

Mencederai Kesucian Ramadan

Menemui  fitrah merupakan nilai post-test. Sayangnya pada saat treatment Ramadan lalu kita sama-sama menemui situasi yang memilukan. Kerusuhan pada 21-22 Mei di Jakarta yang mengiringi penetapan hasil pemilihan umum telah mencederai kesucian Ramadan.

Ramadan adalah saat orang berlatih mengekang hawa nafsu, tapi Ramadan malah digunakan sebagai momentum melampiaskan nafsu berkuasa. Tentu kita bersama-sama berharap insiden itu tidak menjadi kendala bangsa Indonesia menemukan jati dirinya kembali.

Dalam beberapa tahun terakhir situasi bangsa kita karut-marut. Selain karena dorongan perbedaan preferensi politik, arus informasi yang begitu deras membikin banyak orang terkaget-kaget.

Dulu publik disodori informasi yang dipilihkan media massa, kini publik tiba-tiba harus memilih sendiri informasi yang begitu banyak. Ini sebagai konsekuensi kian mudahnya orang mengakses informasi serta kian gampang orang memproduksi informasi. 

Secara normal semakin banyak informasi yang kita terima, manusia semakin punya banyak pilihan untuk menentukan informasi yang kita percaya. Dengan akal dan nurani, manusia sejatinya bisa menggunakan dua bekal dari Tuhan itu agar menjadi orang bebas, merdeka, independen.

Ia bisa mengolah, memilah, memilih, menganalisis dan merenungkan setiap informasi yang datang. Setelah melalui proses perenungan itu baru kemudian ia merespons, menentukan apa yang harus dilakukan.  

Realitasnya bertolak belakang. Banyak informasi tidak membuat orang makin independen, merdeka. Justru menjadi sangat bergantung pada informasi itu. Banyak orang yang berubah jadi makhluk yang terbelenggu pada setiap fenomena di sekelilingnya.

Manusia Kian Positivistik

Orang begitu gampang memercayai sesuatu, padahal bisa jadi sesuatu itu adalah kepalsuan. Manusia kian positivistik, cenderung terpengaruh, menerima begitu saja atas fakta-fakta yang ada di sekelilingnya.

Dalam ilmu sosial kita mengenal teori-teori yang tergabung dalam paradigma fakta sosial. Mereka memandang perilaku manusia yang tidak bebas. Perilaku manusia hanya dipengaruhi fakta-fakta sosial yang di sekelingnya yang dianggap sebagai seuatu yang objektif. 

Sejalan dengan itu, dalam teori ilmu komunikasi kita mengenal teori jarum hipodermik (teori peluru atau jarum suntik). Teori yang dibangun Harold Lasswell ini menunjuk pada kekuatan pesan yang bagaikan peluru yang langsung masuk ke pikiran dan memengaruhi khalayak.

Jadilah pesan atau informasi itu mengontrol khalayak secara langsung, cepat, dan berdampak besar bagi publik. Pendekatan lama tapi menemukan kebenaran kembali.

Hal ini beda dengan pendekatan yang tergabung dalam  paradigma definisi sosial yang menyatakan realitas sosial itu subjektif. Makna realitas sangat tergantung pada bagaimana individu memaknainya.  Orang tidak akan langsung menerima realitas sosial, tapi melalui tahap menafsirkan lebih dulu, termasuk menelusuri motif-motif tindakan sosial seseorang.

Menafsirkan stimulan, baru kemudian menentukan respons. Max Weber yang masuk dalam gerbong paradigma ini  menamai dengan verstehen (memahami, menafsirkan).  Konsep verstehen ini sebenarnya lebih mendekati manusia kepada fitrahnya. Mengapa? Karena hakikat  manusia adalah makhluk pemikir dan penafsir. 

Mengkhianati Fitrah sebagai Manusia

Jika ada manusia yang tidak memahami dan menafsirkan setiap informasi yang diterima, pada hakikatnya dia tengah melecehkan harkat dan martabat dirinya. Mengkhianati fitrah sebagai manusia. 

Ia hanya seperti robot yang bertindak kalau ada ”perintah” dari manusia atau seperti wayang yang bergerak karena mengikuti irama sang dalang. Seperti seorang penceramah agama yang menjadi tersangka karena mengemukakan kabar hoaks tentang kematian petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara karena diracun.

Setelah pernyataan jadi masalah, dengan enteng dia berkilah hanya mengutip dari media sosial. Dia tidak merasa berdosa sama sekali merujuk media sosial tanpa proses ”memaknai” lebih dulu. Dia tidak bisa berpikir lebih jauh implikasi dari pernyataannya.

Itulah manusia-manusia robot. Orang model seperti ini begitu mudah kita temukan. Kata-kata ”saya hanya membagikan” seolah-olah menjadi apologi untuk berkelit dari konsekuensi hukum, padahal justru tindakan membagikan kabar hoaks itulah yang bisa berujung pada hukum.

Usai Lebaran kita ikuti saja fenomena ini di media sosial. Apakah fitnah, kabar palsu, disinformasi masih akan menjadi bagian dari keseharian kita? Apakah ada kesadaran baru bagi bangsa ini? Apakah kita benar-benar kembali menjadi manusia yang sesungguhnya?

Kalau fenomena hoaks ini masih terjadi, tidak berkurang, boleh jadi peribadatan kita selama Ramadan tidak punya implikasi memperbaiki keadaan ini. Mungkin ibadah kita sekadar ”basa-basi” kepada Tuhan. Tidak bermakna.

Kolom 4 hours ago

Cukai Plastik