ASEAN di Tengah Ancaman Global

Edy Purwo Saputro - Dokumen Solopos
28 Juni 2019 09:30 WIB Edy Purwo Saputro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (24/6/2019). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Tema ASEAN Partnership for Sustainability dipilih dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)TT ke-34 ASEAN pada 22-23 Juni 2019 di Bangkok, Thailand. Argumen yang mendasari adalah keberlanjutan ASEAN pada masa depan tampaknya tidak bisa mengelak dari persoalan global, termasuk yang terjadi dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Oleh karena itu, keberlanjutan semua kemitraan kerangka bilateral atau multilateral menjadi relevan untuk dibahas di KTT ke-34 ini setidaknya sebagai upaya untuk meminimalisasi ancaman global demi meningkatkan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara, khususnya negara-negara anggot ASEAN. Seluruh anggota ASEAN harus belajar bijak dari berbagai sengketa yang terjadi. Apa yang muncul dari dampak perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok perlu dicermati oleh ASEAN dan tentunya juga oleh Indonesia.

ASEAN bukan sekadar komunike yang dibangun atas kepentingan bersama, tapi juga komitmen untuk meningkatkan taraf kesejahteraan dengan mengedepankan harmoni dalam jalinan bilateral dan multilateral. Sangatlah beralasan jika kemudian semua persoalan yang mengemuka tidak bisa diabaikan karena imbas secara langsung atau tidak langsung pasti akan diterima ASEAN, termasuk juga kemungkinan imbas secara bilateral atau multilateral.

Kompleksitas dari ekonomi global dan urgensi KTT ke-34 ASEAN pada 22-23 Juni di Bangkok, Thailand, merumuskan sejumlah kesepakatan dan rekomendasi, misalnya ASEAN Leader’s Statement on Partnership for SustainabilityASEAN Indo-Pacific Outlook, dan Bangkok Declaration on Combating Marine Debris in ASEAN Region.

Pada KTT kali ini juga diagendakan sejumlah KTT kemitraan termasuk KTT Brunei-Indonesia-Malaysia, KTT Indonesia-Malaysia-Thailand, dan pertemuan bilateral antarpemimpin negara ASEAN. Tentu akan ada perdebatan yang menarik  dari sejumlah agenda tersebut dan karena itu beralasan ketika Presiden Joko Widodo berkomitmen membahas tiga hal, yaitu dampak sistematis perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, isu persoalan sampah di laut, dan perdamaian di Rakhine State, Myanmar.

Setidaknya dari tiga isu tersebut menunjukan Indonesia respek terhadap beragam isu global dan regional sehingga harapan terhadap kemajuan dan kesejahteraan ASEAN pada masa depan bisa menjadi lebih baik, terutama pencapaian visi SEAN 2025. Paling tidak, hal ini juga akan selaras dengan agenda pelaksanaan KTT G2-0 di Osaka, Jepang, pada 28-29.

Mencari Peluang

KTT G20 ini akan mempertemukan sejumlah pemimpin negara G20 yaitu Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Uni Eropa, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Meksiko, Turki, Arab Saudi, Jepang, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Kerajaan Inggris, dan Amerika Serikat. Pembahasan tentu juga masih seputar globalisasi, misalnya tentang ekonomi dunia, investasi dan perdagangan, inovasi, lingkungan dan energi, lapangan kerja, pemberdayaan perempuan, pembangunan, dan kesehatan.

Beberapa hal yang juga akan dibahas di KTT G20 yakni mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Urgensi pembahasan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang diusung Presiden Joko Widodo secara tidak langsung menegaskan berlarutnya sengketa ini akan berdampak riil.

Dalam riil ini  bukan hanya bagi dua negara yang berperang dagang, tapi juga mitra dagang dari dua negara itu. Karena itulah, sangat beralasan Indonesia berkepentingan untuk mereduksi dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Bagi ASEAN, Amerika Serikat dan Tiongkok telah menjadi mitra perdagangan yang sangat prospektif.

Bukan tidak mungkin berlarutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga sangat rentan memicu dampak negatif terhadap rencana dan realisasi investasi padat karya atau padat modal. Kontinuitas pembangunan dalam jangka panjang sangat membutuhkan kepastian investasi.  

Terlepas dari kepentingan membangun iklim sosial politik, harmoni hubungan Indonesia dan Tiongkok yang semakin mesra dalam lima tahun terakhir sejak pemeritahan Presiden Joko Widodo tentu sangat membutuhkan pemetaan dan jaminan iklim sosial politik.

Peningkatan Kinerja Perdagangan

Oleh karena itulah, dampak perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok harus benar-benar dicermati, bukan hanya oleh Indonesia tapi juga bagi ASEAN. Artinya, Indonesia dan ASEAN tidak sekedar mengantisipasi dampak terhadap neraca perdagangan dalam jalinan bilateral, tapi juga harus mampu mencari dan sekaligus membuka pasar ekspor terbaru dengan sejumlah target negara di kawasan Eropa, selain kawasan ASEAN dan Amerika.

Tentu mencari peluang di balik perang dagang sangat penting meski di sisi lain juga harus diakui bahwa ini tidak mudah, terutama dikaitkan dengan daya saing produk domestik dan nasional. Apa yang terjadi dengan ASEAN pada KTT ke-34 kali ini semakin menyadarkan bahwa kompleksitas ekonomi era global memang ada dan sangat rentan terhadap kepentingan bilateral dan multilateral.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi acuan tema dan isu yang menarik karena tidak hanya terkait dengan ASEAN, tapi juga imbas terhadap mitra bilateral dan multilateral ASEAN, termasuk tentu bagi Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN.

Tanpa mengabaikan peran penting ASEAN pada masa depan, isu perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi pembelajaran yang sangat krusial dan karena itu ASEAN harus mampu melihat hal ini bukan sebagai ancaman tetapi juga harus mencermati sebagai peluang yang menjanjikan prospektus bagi peningkatan kinerja perdagangan pada masa depan.

 

 

Kolom 5 hours ago

Cukai Plastik