Delusi Tiongkok

Lukmono Suryo Nagoro - Dokumen Solopos
25 Juni 2019 09:45 WIB Lukmono Suryo Nagoro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (20/6/2019). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Setiap zaman punya tokoh dan setiap tokoh ada zamannya. Salah seorang tokoh berpengaruh di dunia dalam dekade ini adalah Xi Jinping, Presiden Tiongkok. Mengapa tokoh yang berpengaruh itu bukan Barrack Obama (presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat) atau pemimpin Rusia Vladimir Putin?

Pertama, keberanian dan ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Ini bisa ditiru oleh para pemimpin dunia mana pun. Kedua, pada masa kepimpinan Xi Jinping laju rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok 9%-10% sehingga sulit disaingi oleh negara mana pun di dunia.

Ketiga, Xi Jinping memegang tiga jabatan sekaligus yaitu Presiden Tiongkok, Ketua Komite Sentral Militer, dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok. Saat ini Tiongkok memang luar biasa. Negeri ini pernah mengalami kemunduran ekonomi karena Revolusi Kebudayaan pada masa Mao Zedong sehingga menjadi negara terbelakang.

Di bawah pemimpin pragmatis Deng Xiaoping yang tidak peduli kucing merah atau kucing putih asalkan bisa menangkap tikus, Tiongkok mampu membuat lompatan besar menjadi negara maju. Langkah pragmatis Deng antara lain melakukan transformasi ekonomi dengan mengombinasikan reformasi pertanian, membuka zona perdagangan bebas di pantai timur dan selatan, serta membangun industri manufaktur berorientasi ekspor.

Lompatan kedua terjadi pada masa kepemimpinan Xi Jimping, terutama di sektor-sektor baru yang inovatif, seperti e-commerce dan e-payment dengan munculnya decacorn Ali Baba, We-Chat, dan sebagainya. Berbagai lompatan itu membuat banyak negara berharap pada terus melambungnya perekonomian Tiongkok.

Energi Pendorong Ekonomi Dunia

Tidaklah salah apabila energi pendorong perekonomian dunia sekarang  berada di Tiongkok. Bukan lagi Amerika Serikat. Bukan lagi Eropa. Kabar terbaru menyebutkan Xi Jinping dalam kongres Partai Komunis Tiongkok diangkat sederajat dengan Mao Zedong karena prestasi-prestasi dia satu dasawarsa ini.

Situasi demikian mirip pada masa Revolusi Kebudayaan yang berakhir kelam. Kini pidato atau ajaran Xi Jinping akan menjadi referensi belajar atau sarana indoktrinasi bagi para pelajar dan mahasiswa serta mungkin juga menjadi pedoman hidup warga Tiongkok. Indonesia pernah mengalami hal demikian. Pada zaman Orde Lama, pidato-pidato Soekarno yang terkumpul dalam Manipol Usdek dijadikan garis-garis besar haluan negara.

Kita juga bisa menelusuri sejarah pada masa penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi pelajar dan mahasiswa dengan suasana penuh indoktrinasi pada masa Orde Baru. Situasi politik di Tiongkok tentu harus menjadi perhatian Indonesia yang saat sedang getol merujuk Tiongkok dalam pembangunan ekonomi.

Suka tidak suka, kita biarkan Xi Jinping menepuk dada menyatakan l’etat c’est moi, negara adalah aku, aku adalah negara, sebagaimana pernah disampaikan Louis XIV dari Prancis. Xi Jinping berdiri tegak memegang kekuasaan militer, birokrasi, dan partai politik secara bersamaan.

Tentu ini akan menjadi masalah bagi terselenggaranya transparansi dan akuntabilitas bernegara, meskipun kita tidak ragu terhadap komitmen Xi Jinping dalam pemberantasan korupsi. Postulat Lord Acton power tends corrupt terus menggema dengan kencang.

Dalam pandangan saya, sistem politik Indonesia yang kekuasaannya tidak terkonsentrasi pada satu tangan dapat menjadi modal penting bagi kesuksesan pembangunan ekonomi pada masa depan, bahkan sangat mungkin bisa melampaui Tiongkok. Interaksi antara pembangunan ekonomi dan demokrasi akan menentukan kinerja ekonomi dan keberlanjutannya.

Tidak Menjemukan

Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Sistem politik demokrasi adalah tanaman jangka panjang. Bangsa kita telah menabur benihnya secara dini. Apa yang bisa kita analisis dari dominasi kekuasaan Xi Jinping? Apakah Xi Jinping pelan-pelan akan membangun absolutisme personal seperti Tiongkok pada masa kekaisaran?

Jika hal ini terjadi, ramalan Francis Fukuyama bahwa pertarungan gagasan mencari bentuk masyarakat ideal sebagai gabungan antara sistem demokrasi liberal dan kapitalisme telah berakhir belum sepenuhnya terbukti. Sejarah manusia tampaknya masih terus bergerak mencari kemungkinan bentuk masyarakat ideal yang baru ketimbang menjadi museum untuk merawat sejarah manusia itu sendiri.

Mungkinkah sejarah itu berhenti di Tiongkok pada masa Xi Jinping yang seolah-olah sedang membangun tipologi pemerintahan good and succesful authoritarian? Gelombang demokrasi yang terjadi di kawasan Asia Timur seperti mandek di Tiongkok. Negara-negara di Asia Timur seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang tumbuh sebagaimana ramalan Fukuyama.

Dalam demokrasi ada pendapat bahwa semakin makmur ekonomi sebuah negara makan permintaan akan demokrasi semakin membesar. Pendapatan per kapita Tiongkok sudah mencapai hampir US$10.000. Ini merupakan angka ”kelewat” aman untuk mulai mendemokratisasikan diri secara bertahap.

Untuk mendemokratisasikan diri, elite politik Tiongkok masih terkesima oleh dua delusi. Pertama, ada anggapan bahwa Tiongkok merupakan versi raksasa negara kota Singapura dan berkeyakinan bahwa tipologi pemerintahan The China Model merupakan new normal yang sudah stabil.

Kedua, para elite politik Tiongkok belum menyadari bahwa tidak selamanya pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan terus menggapai langit. Ilmu ekonomi sudah memperingatkan bahwa siklus bisnis serupa dengan putaran roda.

Proses demokratisasi Tiongkok tidak boleh menunggu terjadi krisis ekonomi di negara tersebut. Dampaknya tentu berbeda dengan Singapura yang hanya berpenduduk kurang lebih lima juta jiwa. Ongkos sosial yang ditanggung oleh Tiongkok kalau terjadi kritis tentu sangat besar.

Karena itulah, di balik kesuksesan ekonomi yang memang menyilaukan mata sebaiknya elite politik Tiongkok cepat-cepat mengusap mata untuk membersihkan delusi-delusi di atas. Saya berpikir demokratisasi Tiongkok adalah hadiah bagi dunia yang sedang mengalami arus balik demokrasi pada awal abad ke-21. Kepada Fukuyama saya sampaikan abad ini tidaklah menjemukan. Akan selalu muncul hal-hal yang mengejutkan kita semua.

Kolom 5 hours ago

Cukai Plastik