Perahu Tenggelam, Bocah 12 Tahun Relakan Nyawa Demi Jadi Pelampung Adiknya

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan (kiri), Minggu (23/6/2019), menjenguk Juraidah dan putrinya yang merupakan korban perahu tenggelam bermotor di perairan Desa Mega Timur, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (21/6 - 2019) malam. (Suara.com)
23 Juni 2019 21:00 WIB Ginanjar Saputra Nasional Share :

Solopos.com, KUBU RAYAKisah tragis dialami keluarga yang menjadi korban perahu tenggelam di sungai Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat (21/6/2019) malam. Dalam kecelakaan air itu, terselip kisah mengharukan mengenai penyelamatan remaja 12 tahun kepada adiknya yang masih berusia dua tahun.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, Minggu (23/6/2019), kapal motor tersebut ditumpangi perempuan bernama Juraida bersama suaminya, Eko Kudianto, dan kedua anaknya, Hafizah Khumairah, 2, dan Endah Nisa Kurnia, 12.

Juraida mengatakan perjalanan air yang ia jalani awalnya berjalan baik. Namun di tengah perjalanan, suaminya tiba-tiba pindah posisi dari tempat duduknya semula yang menyebabkan perahu oleng dan langsung tenggelam.

"Malam itu, kami berencana ke rumah keluarga di Parit Masigi, Desa Ambawang Kuala. Kami berangkat dari Desa Mega Timur dengan menggunakan perahu kato," kisah Juraidah kepada Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, yang menyempatkan diri menjenguknya di RSI Yarsis Pontianak, Minggu (23/6/2019).

Saat kapal oleng dan tenggelam, Juraidah mengaku panik. "Yang saya pikirkan hanya menyelamatkan dua anak saya yang kebetulan ada di dekat saya," ujarnya.

Di tengah kepanikan itu, Juraida langsung mendekap anak keduanya, Hafizah Khumairah yang masih berusia dua tahun. Di tengah gelap dan dalam kondisi tenggelam, ia berusaha meraih anak pertamanya, Khairunisa Endah Nisa Kurnia yang berusia 12 tahun.

"Setelah dapat, saya minta si kakak untuk memegang adiknya, sambil saya berusaha berenang memegang mereka berdua. Tapi karena arus cukup kuat, saya juga tidak terlalu kuat menahan mereka berdua dan akhirnya saya jadikan tubuh kakak sebagai pelampung adiknya sambil terus berusaha mendorong mereka ke tepi," katanya sembari menangis mengenang perjuangannya.

Hampir 800 meter dan lebih dari lima menit lamanya, ia berusaha untuk berenang ke tepi, sambil mendorong tubuh putri pertamanya yang sudah menjadi pelampung anak keduanya. "Saya benar-benar panik dan terus berteriak minta tolong dan saya berharap segera sampai di tepi sungai," tuturnya.

Sayang, nasib berkata lain. Setibanya di tepi sungai, anak pertamanya yang menjadi pelampung anak keduanya sudah tak bernyawa. Sedangkan suaminya, Eko, hilang dan belum ditemukan hingga berita ini ditulis. Eko merupakan anggota TNI yang bertugas di Kodim 1203/Ketapang.

Secara terpisah, Dandim Ketapang Letkol Kav Jami'an mengatakan sempat ragu untuk memberikan izin kepada anggotanya, Eko. "Kebetulan tidak lama lagi kami akan menggelar kegiatan TMMD dan saudara Eko ini merupakan salah satu prajurit terbaik saya karena ilmu teritorialnya sangat baik. Saya sempat melarangnya pulang dan tidak ingin memberikan izin, namun beliau mengatakan sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya dan minta untuk diizinkan pulang, sehingga saya mengizinkannya," kata Jami'an saat ikut melakukan pencarian atas Eko di Sungai Ambawang.

Menurut Jami'an, Eko merupakan seorang prajurit yang selalu mau bekerja keras. Apa pun perintah yang diberikan kepadanya, selalu dilaksanakan dengan baik. "Saya sangat mengapresiasi kerja dari kawan-kawan Basarnas, anggota TNI dan Polsek Sungai Ambawang serta warga setempat yang sudah berusaha melakukan pencarian. Bahkan, pak Bupati Kubu Raya juga ikut turun langsung dan kami berterimakasi atas hal itu," katanya.

Sumber : Antara